peta situs

Minggu, 30 November 2025

64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

 


64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

Sumber: AI (oleh Waniel Weth)


Pendahuluan


Tanggal 1 Desember setiap tahun adalah salah satu tanggal paling penting dalam sejarah Papua. Bagi sebagian masyarakat Papua—khususnya kelompok pro-kemerdekaan—tanggal ini bukan sekadar momentum politik, tetapi simbol identitas, perjuangan, dan memori kolektif. Tahun 2025 menandai 64 tahun sejak 1 Desember 1961, ketika Dewan Nieuw Guinea (Nieuw Guinea Raad) mengesahkan simbol-simbol nasional Papoea: Bintang Kejora, lagu “Hai Tanahku Papua”, dan rancangan struktur negara.


Bagi masyarakat pro-kemerdekaan, 1 Desember dipahami sebagai “hari kelahiran bangsa Papua modern”. Namun bagi pemerintah Indonesia, tanggal ini tidak dianggap sebagai hari kemerdekaan. Perbedaan persepsi inilah yang menjadi sumber ketegangan politik selama lebih dari enam dekade.


Artikel ini tidak memihak pada agenda politik apa pun; tujuannya memberikan pemahaman historis dan ilmiah mengenai makna 1 Desember, perubahan politik Papua sejak 1961, dan dampaknya bagi masyarakat Papua hingga tahun 2025.



1. Sejarah 1 Desember 1961


1.1. Sidang Nieuw Guinea Raad


Pada tahun 1961, Belanda memberikan peluang bagi rakyat Papua untuk mulai mempersiapkan pemerintahan sendiri. Melalui Dewan Nieuw Guinea:


Bendera Bintang Kejora dikibarkan sebagai simbol nasional Papua


Lagu Hai Tanahku Papua diresmikan


Nama bangsa Papoea dipakai secara resmi


Ditetapkan rencana kemerdekaan bertahap dalam beberapa tahun



Tanggal 1 Desember 1961 kemudian menjadi simbol “kelahiran politik” bagi sebagian besar rakyat Papua.


1.2. Konflik dengan Indonesia


Indonesia, di bawah Presiden Soekarno, menolak rencana Belanda dan menganggap Papua bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Pada 19 Desember 1961, Soekarno mengumumkan Trikora untuk “merebut Irian Barat”.


Ketegangan meningkat hingga:


Perjanjian New York 1962 (tanpa perwakilan Papua),


Masuknya pasukan Indonesia,


Penyerahan UNTEA 1963,


Pepera 1969 yang kontroversial.



2. Mengapa 1 Desember Dirayakan Setiap Tahun?


2.1. Simbol Identitas


Bagi banyak orang Papua, 1 Desember melambangkan:


pengakuan identitas nasional,


sejarah yang dihapus negara,


harga diri kolektif,


simbol bahwa mereka bukan hanya “daerah” tetapi “bangsa”.



2.2. Mengingat Luka Sejarah


Peralihan kekuasaan dari Belanda ke Indonesia menimbulkan:


operasi militer,


pelanggaran HAM,


pemaksaan politik,


hilangnya simbol Papua.



Peristiwa-peristiwa ini membentuk memori trauma yang masih dirasakan hingga generasi 2025.


2.3. Resistensi Damai


Kelompok pro-kemerdekaan merayakan 1 Desember sebagai bentuk perlawanan damai, ekspresi hak politik, dan penguatan identitas. Sebagian mengibarkan Bintang Kejora, sebagian menggelar ibadah syukur, renungan, atau aksi damai.



3. Mengapa 2025 Disebut 64 Tahun?


Perhitungan 64 tahun berasal dari:


2025 – 1961 = 64 tahun


Artinya:


> Sudah enam dekade lebih sejak Papua pertama kali mendeklarasikan simbol kenegaraan modernnya.



Selama 64 tahun tersebut, masyarakat Papua mengalami:


integrasi paksa,


perubahan politik besar,


mobilisasi penduduk dari luar Papua,


pembangunan yang tidak merata,


konflik berkepanjangan.



4. Kondisi Papua Selama 64 Tahun Bersama Indonesia


4.1. Ekonomi dan Pembangunan


Papua tetap menjadi wilayah:


termiskin di Indonesia,


infrastruktur tertinggal,


angka gizi buruk tinggi,


kematian ibu dan anak tertinggi nasional.



Walaupun sumber daya alam melimpah, manfaatnya tidak dinikmati mayoritas orang asli Papua.


4.2. Konflik dan Keamanan


Konflik antara aparat dan kelompok bersenjata berlangsung sejak 1960-an hingga 2025, menyebabkan:


pengungsian massal,


kematian warga sipil,


trauma turun-temurun.



4.3. Demokrasi yang Terbatas


Ruang berekspresi sering dibatasi:


pembubaran aksi damai,


pelarangan simbol identitas,


kriminalisasi aktivis.



Hal ini memicu persepsi bahwa Papua tidak diperlakukan sebagai warga negara yang setara.



5. Makna 1 Desember bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan


5.1. Hari Kebangkitan Identitas


Ini adalah hari untuk:


merayakan jati diri,


mengenang leluhur,


menguatkan solidaritas sesama orang Papua.



5.2. Hari Perjuangan Damai


Banyak kelompok memaknai 1 Desember sebagai:


momentum refleksi,


doa perdamaian,


pendidikan politik,


memperkuat hak-hak masyarakat adat.



5.3. Hari Pengingat Ketidakadilan


Sebagian masyarakat mengingat:


sejarah politik yang tidak adil,


penindasan,


ketidakmerataan pembangunan,


hilangnya tanah adat dan budaya.



6. Sikap Pemerintah Indonesia


Pemerintah Indonesia melihat 1 Desember sebagai:


bagian dari gerakan separatisme,


ancaman terhadap kedaulatan negara,


simbol politik yang dilarang.



Namun pendekatan keamanan yang dominan justru mempertajam luka sejarah. Sejumlah akademisi Indonesia sendiri menilai bahwa:


> Papua tidak akan damai tanpa dialog bermartabat, keadilan, dan penghormatan identitas.



7. Apa Harapan Papua di Usia 64 Tahun Ini?


Terlepas dari perbedaan pandangan politik, mayoritas masyarakat Papua menginginkan:


penghentian kekerasan,


hak hidup aman,


pemulihan martabat budaya,


ruang demokrasi lebih bebas,


pembangunan manusia yang merata,


reformasi kebijakan Otsus,


dialog sejati Jakarta–Papua.



Generasi muda Papua ingin masa depan yang:


berakar pada budaya,


intelektual,


damai,


bermartabat.



Penutup


Tanggal 1 Desember 1961–2025 bukan sekadar sejarah, tetapi pengalaman hidup selama 64 tahun yang membentuk identitas dan perjuangan masyarakat Papua.


Bagi kelompok pro-kemerdekaan, hari ini:


adalah tanda kelahiran bangsa,


simbol harga diri,


refleksi luka sejarah,


dan harapan masa depan.


Tugas generasi kini bukan memperpanjang konflik, tetapi mencari jalan damai, keadilan, dan pengakuan martabat manusia di tanah Papua.


Senin, 24 November 2025

Injil, Kolonialisme, dan Hilangnya Budaya Lokal: Kajian Kritis Proses Kristenisasi di Papua

 


Oleh: Waniel Weth

Mahasiswa Program Studi Sejarah

Universitas Cenderawasih


Abstrak

Masuknya kekristenan ke Papua sejak abad ke-19 membawa dampak besar dalam perubahan struktur sosial, budaya, dan sistem kepercayaan masyarakat adat. Di balik narasi modernisasi dan pendidikan, terdapat proses hegemoni budaya yang menggeser praktik leluhur, ritual adat, dan identitas spiritual masyarakat Papua. Artikel ini mengkaji hubungan antara agama Kristen, kolonialisme, dan perubahan budaya di Papua melalui pendekatan sejarah kritis dan teori poskolonial. Temuan menunjukkan bahwa Injil tidak hanya berfungsi sebagai ajaran spiritual, tetapi juga instrumen kekuasaan yang membentuk pola pikir, identitas, dan orientasi budaya baru dalam masyarakat Papua.


Kata kunci: Papua, Injil, kolonialisme, budaya lokal, misi Kristen



Pendahuluan

Papua merupakan salah satu wilayah terakhir di Nusantara yang mengalami kontak langsung dengan misionaris Kristen. Kehadiran agama Kristen sering dipandang sebagai tonggak perubahan menuju pendidikan, kesehatan, dan modernitas (Giay, 1995). Namun perubahan ini membawa konsekuensi serius: terjadinya penghapusan sistem kepercayaan leluhur dan transformasi budaya melalui legitimasi agama.

Pertanyaan utama yang dikaji dalam tulisan ini adalah: Bagaimana penyebaran Injil berpengaruh terhadap hilangnya budaya tradisional Papua dan kepercayaan kepada leluhur?



Pembahasan

1. Sistem Kepercayaan Papua Sebelum Kristenisasi

Sebelum kedatangan misionaris, masyarakat Papua memiliki sistem spiritual berbasis relasi antara manusia, alam, roh leluhur, dan dunia sakral (Kamma, 1976). Upacara adat seperti tarian perang, penyembuhan tradisional, dan simbol-simbol sakral bukan sekadar ritual, tetapi sistem pengetahuan (indigenous knowledge system).

Namun, ketika misionaris tiba, praktik tersebut dilabeli sebagai pagan, kafir, dan penyembahan berhala (Hylkema, 2008).

2. Injil sebagai Instrumen Hegemoni Budaya

Kedatangan misionaris Protestan (1855) dan Katolik (1896) bukan hanya memperkenalkan agama baru, tetapi juga budaya Barat, seperti:

Sistem pendidikan formal

Cara berpakaian Barat

Struktur keluarga monogami

Bahasa asing sebagai bahasa ibadah

Menurut Said (1978), dominasi budaya melalui agama adalah bagian dari proyek orientalism kolonial. Di Papua, injil menjadi alat untuk membangun mentalitas tunduk dan merusak identitas kultural lokal (Giay, 2020).

3. Kolonialisme Rohani dan Transformasi Identitas

Proses kristenisasi beriringan dengan kekuasaan kolonial Belanda. Sekolah zending menghasilkan generasi Papua yang menjauhi budaya adat karena dianggap “dosa” (Widjojo, 2013). Akibatnya terjadi:

Alienasi identitas

Rasa inferior budaya lokal

Pemutusan hubungan kosmos-leluhur

Fanon (1963) menyebut kondisi ini sebagai colonial psychological subjugation—penjajahan mental dan spiritual.

4. Dampak pada Budaya dan Struktur Sosial

Beberapa perubahan yang muncul akibat penetrasi agama dan kolonialisme antara lain:


Aspek

Sebelum Injil

Setelah Kristenisasi

Sistem Kepercayaan

Leluhur & roh alam

Agama Kristen terpusat

Sosial

Kolektif-komunal

Individual dan institusional

Simbol budaya

Sakral

Dilarang/dipandang kafir

Ekspresi budaya

Bebas ritual adat

Dibatasi gereja

(Sumber: Kamma, 1976; Giay, 1995)

5. Gerakan Dekolonisasi Budaya Papua

Memasuki abad ke-21, muncul gerakan teologi kontekstual yang berusaha menegosiasikan hubungan antara adat dan Injil. Beberapa gereja mulai memasukkan unsur budaya lokal dalam ibadah sebagai upaya rekonsiliasi identitas (Roy, 2011).

Penutup

Kehadiran Injil di Papua tidak dapat dipisahkan dari agenda kolonial yang secara sistematis mengubah identitas masyarakat Papua. Meskipun kekristenan membawa pendidikan dan transformasi sosial, prosesnya juga menghapus atau memarginalkan budaya leluhur dan sistem spiritual setempat.

Dekolonisasi spiritual dan budaya di Papua menjadi kebutuhan penting agar masyarakat Papua tidak melihat adat sebagai dosa, tetapi sebagai bagian sah dari identitas historis dan teologis.





Daftar Pustaka

Fanon, F. (1963). The Wretched of the Earth. New York: Grove Press.

Giay, B. (1995). Menuju Papua Baru. Jayapura: Deiyai Press.

Giay, B. (2020). Agama dan Identitas Papua. Jayapura: Penerbit STT Walter Post.

Hylkema, T. (2008). Mission and Culture in Papua. Leiden: KITLV Press.

Kamma, F.C. (1976). Koreri: Messianism in Papua. The Hague: Martinus Nijhoff.

Roy, D. (2011). Christianity and Indigenous Expression in Melanesia. Canberra: ANU Press.

Said, E. (1978). Orientalism. London: Routledge.

Widjojo, M. (2013). Papua Road Map: Negotiating the Past and the Future. Jakarta: LIPI Press.


Senin, 17 November 2025

Kuliah Umum Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Public lecture “Dinamika Timur Tengah dalam Diplomasi Indonesia” Aula FISIP Universitas Cenderawasih – Jayapura, 18 November 2025


      Foto Waniel-dengan anggota BSKLN yang bagian keamanan dan hukum di Timur Tengah.


LAPORAN KEGIATAN

Kuliah Umum Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia

Public lecture “Dinamika Timur Tengah dalam Diplomasi Indonesia” 

Aula FISIP Universitas Cenderawasih – Jayapura, 18 November 2025.


1. Latar Belakang

   Kuliah umum ini diselenggarakan oleh Badan Sinergi Kementerian Luar Negeri (BSKLN) sebagai bagian dari upaya memperluas literasi publik mengenai politik luar negeri Indonesia. Kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan akademik kepada dosen, mahasiswa, dan civitas akademika Universitas Cenderawasih Jayapura mengenai dinamika kawasan Timur Tengah serta posisi strategis Indonesia di tingkat global.

Pemilihan Papua—khususnya Universitas Cenderawasih—menjadi lokasi kuliah umum merupakan bentuk komitmen Kementerian Luar Negeri untuk menghadirkan edukasi diplomasi secara merata di seluruh Indonesia, termasuk Indonesia Timur.

2. Pemateri

Kuliah umum dibawakan oleh Disampaikan oleh: Vahd Nabyl Achmad Muchela

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika, didampingi oleh beberapa anggota tim BSKLN. Para pemateri memberikan penjelasan teoritis sekaligus pengalaman lapangan selama bertugas dalam berbagai misi diplomasi di Timur Tengah.

3. Agenda Materi

Berdasarkan slide dan penjelasan pemateri, terdapat enam poin pokok yang disampaikan, yaitu:

1. Sekilas tentang BSKLN

2. Mengenal kawasan “Timur Tengah”

3. Signifikansi kontemporer Timur Tengah

4. Dinamika hubungan Indonesia dan Timur Tengah

5. Diplomatic exposures di Timur Tengah

6. Key takeaways (poin-poin penting)

4. Penjelasan Materi Kuliah Umum

1) Sekilas tentang BSKLN

Pemateri menjelaskan fungsi BSKLN sebagai jembatan antara Kementerian Luar Negeri dan publik. Tugas BSKLN meliputi:

Melaksanakan kuliah umum, edukasi, dan diseminasi kebijakan luar negeri.

Menghubungkan diplomasi pemerintah dengan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat.

Meningkatkan pemahaman publik terhadap isu-isu internasional.

Melalui kegiatan seperti ini, BSKLN berharap generasi muda Papua semakin melek geopolitik dan memahami peran Indonesia di dunia.

2) Mengenal Kawasan “Timur Tengah”

Pemateri menguraikan batasan geografis dan karakteristik kawasan Timur Tengah, termasuk:

Negara-negara yang tergolong sebagai Timur Tengah.

Ciri budaya, agama, bahasa, serta sejarah panjang peradaban di kawasan tersebut.

Mengapa kawasan ini menjadi pusat perhatian dunia, baik dari sisi energi, politik, maupun keamanan.

Kawasan ini memiliki hubungan historis dengan Indonesia melalui perdagangan, pendidikan, diplomasi, dan ikatan keagamaan.

3) Signifikansi Kontemporer Timur Tengah

Poin ini menekankan pentingnya Timur Tengah di era modern:

Energi dunia: pemasok utama minyak dan gas global.

Perdagangan internasional: jalur vital seperti Terusan Suez dan Selat Hormuz.

Investasi & ekonomi: peluang kerja sama dengan negara Teluk yang sedang tumbuh cepat.

Politik global: dinamika konflik Palestina, Suriah, Yaman, rivalitas Iran–Saudi, hingga normalisasi hubungan antarnegara.

Indonesia berkepentingan menjaga stabilitas dan membangun kemitraan strategis dengan kawasan ini.

4) Dinamika Hubungan Indonesia dan Timur Tengah

Pemateri menjelaskan hubungan bilateral dan multilateral antara Indonesia dan negara-negara Timur Tengah, meliputi:

Kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi.

Kerja sama pendidikan, keagamaan, dan pertukaran budaya.

Perlindungan WNI dan pekerja migran.

Diplomasi Indonesia di forum internasional (OKI, GNB, PBB) terutama terkait isu Palestina.

Kunjungan kenegaraan, perjanjian bilateral, dan peluang kerja sama baru di masa depan.

Kawasan Timur Tengah juga menjadi mitra penting dalam penguatan ketahanan energi nasional.

5) Diplomatic Exposures di Timur Tengah

Bagian ini menjadi sangat menarik karena pemateri dan tim BSKLN berbagi pengalaman nyata selama menjalankan tugas diplomasi:

Menangani konflik dan situasi krisis untuk melindungi WNI.


Negosiasi diplomatik dalam isu keamanan, hukum internasional, dan kemanusiaan.

Pengalaman evakuasi warga Indonesia di negara konflik seperti Suriah dan Yaman.

Upaya membangun kerja sama ekonomi dan menarik investasi.

Pembelajaran penting tentang komunikasi budaya, sensitivitas politik, dan etika diplomasi.

Bagian ini memberikan gambaran nyata tentang dunia diplomasi di lapangan.

6) Key Takeaways (Hal-Hal Penting yang Perlu Diingat)

Pada penutup materi, pemateri menyoroti beberapa pelajaran utama:

Diplomasi adalah kombinasi antara keahlian komunikasi, pemahaman budaya, dan kemampuan negosiasi.

Timur Tengah adalah kawasan strategis yang sangat memengaruhi ekonomi dan stabilitas dunia.

Indonesia memiliki posisi terhormat di mata negara-negara kawasan sebagai negara Muslim terbesar yang demokratis dan moderat.

Mahasiswa harus memahami geopolitik agar mampu membaca isu global dan berkontribusi dalam masa depan diplomasi Indonesia.

Kemenlu RI hadir di Papua untuk mendorong generasi muda agar lebih terlibat dalam isu internasional.


5. Kesimpulan

        Kuliah umum Kementerian Luar Negeri RI di Aula FISIP-UNCEN memberikan wawasan komprehensif tentang geopolitik Timur Tengah dan peran strategis Indonesia. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga dilengkapi dengan pengalaman langsung para diplomat, sehingga sangat bermanfaat bagi peserta.

      Kegiatan ini diharapkan memperluas pengetahuan mahasiswa dan dosen mengenai diplomasi, serta memotivasi generasi muda Papua untuk memahami isu global dan ikut berperan dalam membangun hubungan internasional Indonesia di masa depan.


Dicatat oleh Waniel Weth mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN Jayapura.

Jumat, 14 November 2025

Jiwa Anak-Anak Muda Kristen untuk Mengubah Peradaban Dunia Baru Papua Dalam Kegiatan Weekend Alumni Perkantas Papua 2025, Hotel Suni Abepura, Jayapura ( – 05 November 2025);

 Jiwa Anak-Anak Muda Kristen untuk Mengubah Peradaban Dunia Baru Papua

Dalam Kegiatan Weekend Alumni Perkantas Papua 2025,

Hotel Suni Abepura, Jayapura ( – 05 November 2025);



Foto 4 orang anak Papua, di hotel suni Abepura, Jayapura. November 2025;

Jayapura — Suasana hangat dan penuh sukacita memenuhi ruang pertemuan di Hotel Suni Abepura, Jayapura, dalam rangka kegiatan Weekend Alumni Perkantas Papua tahun 2025. Acara yang mempertemukan berbagai generasi alumni dan kader muda Perkantas ini menjadi momentum berharga untuk memperkuat kembali panggilan pelayanan, kekeluargaan, dan semangat perubahan bagi tanah Papua.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, sejumlah anak muda Kristen yang hadir menunjukkan antusiasme luar biasa untuk terlibat dalam gerakan pembaharuan. Empat pemuda yang tergambar dalam dokumentasi acara tersebut menjadi representasi generasi baru Papua yang memiliki hati untuk Tuhan dan kerinduan untuk membangun peradaban baru melalui integritas, iman, dan karya nyata.

Pertemuan ini bukan sekadar reuni, tetapi wadah refleksi dan penguatan iman. Para peserta diajak menggali kembali visi Perkantas: membentuk mahasiswa dan pelajar Kristen yang memiliki karakter Kristus, pemimpin yang berintegritas, serta pribadi yang berdampak bagi masyarakat. Melalui sesi pembinaan, doa, dan diskusi, para muda-mudi ini disadarkan kembali bahwa perubahan Papua dimulai dari generasi yang mau dibentuk dan diperlengkapi.

Salah satu peserta menyampaikan bahwa melalui kegiatan Weekend Alumni ini, mereka semakin yakin bahwa Tuhan sedang menyiapkan generasi transformatif yang akan membawa angin segar bagi Papua, baik di bidang pelayanan, pendidikan, kemasyarakatan, hingga kepemimpinan.

“Kami percaya bahwa Papua akan mengalami perubahan ketika generasi mudanya hidup takut akan Tuhan dan mau bekerja dengan hati yang benar,” ujarnya.

Acara Weekend Alumni Perkantas Papua 2025 ini menjadi titik temu antara pengalaman masa lalu dan harapan masa depan. Dengan semangat persaudaraan dan kasih Kristus, para peserta pulang dengan hati yang dipenuhi sukacita dan komitmen untuk terus menjadi garam dan terang bagi Papua—membangun peradaban baru yang penuh kebenaran, damai, dan pengharapan.


Oleh Waniel Weth 


Salah satu dari 4 orang itu pada gambar 📝

BERSAMA KB-YUSIDABEUR RAYON GILIKA MEMBAWA PERSATUAN MAHASISWA & MASYARAKAT GILIKA KELUAR DARI SEKAT EGOISME

 BERSAMA KB-YUSIDABEUR RAYON GILIKA MEMBAWA PERSATUAN MAHASISWA & MASYARAKAT GILIKA KELUAR DARI SEKAT EGOISME. (November 2025);

   Doc: foto bersama oleh generasi Muda Gilika di Jayapura, November 2025.

Sudah saatnya generasi muda Gilika, khususnya Mahasiswa, bangkit dari sekat-sekat sempit yang selama ini membelenggu semangat kebersamaan. Egoisme kampung, Distrik, lahir besar kota, kampung dan ikatan lokal yang menutup ruang dialog dan kolaborasi hanya melahirkan perpecahan yang melemahkan kekuatan intelektual kita sendiri. Kita lupa bahwa tujuan utama Mahasiswa bukan sekadar mengangkat identitas asal, tetapi membangun kesadaran kolektif demi perubahan sosial yang lebih besar bagi seluruh masyarakat Gilika.


Persatuan sejati tidak lahir dari asal-usul yang sama, tetapi dari kesadaran bahwa masa depan daerah ini ditentukan oleh kemampuan kita untuk berpikir dan bergerak bersama. 

Mahasiswa Gilika harus berani keluar dari kotak sempit primordialisme lokal, dan menatap jauh ke depan sebagai satu tubuh yang menyatu dalam visi besar: pendidikan, kemajuan, dan pembebasan dari ketertinggalan.


Ketika Mahasiswa lebih sibuk mempertahankan nama kampung, Distrik atau lahir besar kota dan kampung dari pada memperjuangkan kepentingan bersama, maka cita-cita untuk melahirkan perubahan hanya akan menjadi slogan kosong. Kita tidak sedang bersaing untuk menjadi yang paling dikenal, tetapi sedang meniti jalan panjang untuk menjadi generasi yang dikenang karena menyatukan yang tercerai.


Kini waktunya membangun solidaritas intelektual sebuah ikatan yang melampaui batas. Persatuan Mahasiswa Gilika harus menjadi fondasi baru yang menolak fragmentasi sosial dan menegaskan bahwa kekuatan sejati lahir dari kebersamaan.


Kita semua berasal dari kampung yang berbeda, tetapi darah dan tanah yang kita pijak adalah satu: *GILIKA* . Maka, marilah kita keluar dari sekat egoisme yang sempit, berdiri dalam semangat kesetaraan, dan bersama-sama menulis babak baru sejarah MAHASISWA Gilika generasi yang berpikir global, tetapi tetap berakar pada nilai dan martabat lokalnya.


NANGKABO 

Wali ... 3X


Dokumen:

Dokumentasi ini adalah giat Mahasiswa asal Gilika di Kota Jayapura setelah melakukan kegiatan _"Pelatihan Administrasi & Kesekretariatan"._ 


 _Jayapura, 11 November 2025_


Oleh:

 *ARKILAUS WABUK*

Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN Alami Kecelakaan, Teman-Teman Lakukan Kunjungan di Rumah Sakit Dian Harapan Jayapura, (13–14 November 2025)

 Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN Alami Kecelakaan, Teman-Teman Lakukan Kunjungan di Rumah Sakit Dian Harapan

Jayapura, (13–14 November 2025)

      Doc: Foto Yaniton Murib, di rumah sakit Dian Harapan, Waena, Jayapura.


Seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Cenderawasih (UNCEN), Yaniton Murib, mengalami kecelakaan kendaraan bermotor pada Kamis, 13 November 2025 sekitar pukul 16.40 WIT. Insiden terjadi di area antara pos penjagaan Uncen, jalan menuju Kamvolker Waena, dan akses Uncen Atas.

Menurut keterangan keluarga, khususnya dari pihak om-nya yang turut mengalami kecelakaan, Yaniton bersama om-nya berangkat dari Arso menuju Abepura, kemudian naik ke Rektorat Uncen untuk melakukan pelaporan administrasi terkait persiapan wisuda tanggal 20 November mendatang. Setelah selesai mengurus laporan, keduanya turun kembali menuju Waena.

Kronologis Singkat Kejadian

Di dekat pos penjagaan Uncen, Yaniton diduga kehilangan kontrol dan tidak sempat melakukan pengereman, sehingga motor yang dikendarainya mengalami benturan dan menyebabkan keduanya terjatuh.

Yaniton Murib mengalami luka cukup serius di bagian wajah, mata, dan tangan,

Sementara om-nya mengalami luka lebih ringan pada bagian kaki.

Yaniton langsung dilarikan ke Rumah Sakit Dian Harapan, Waena pada hari kejadian. Hingga Jumat, 14 November 2025, kondisi Yaniton masih belum dapat bicara maupun makan, sehingga memerlukan perawatan intensif.

Kunjungan Teman-Teman dan Permohonan Orang Tua

Sejumlah teman sekelas, termasuk Waniel Weth dan Temerius Mul, melakukan kunjungan langsung untuk melihat kondisi Yaniton di Rumah Sakit Dian Harapan. Mereka juga akan menyampaikan pemberitahuan resmi kepada dosen-dosen bersangkutan serta ketua kelas mengenai kondisi Yaniton.

Pihak keluarga berharap agar Yaniton diberikan keringanan dalam kegiatan perkuliahan dan administrasi kampus selama beberapa minggu ke depan, hingga kondisi kesehatannya membaik.

Ajakan untuk Teman-Teman Kampus

Pihak keluarga dan teman-teman mengajak siapa pun yang memiliki kesempatan untuk turut menjenguk atau memberikan dukungan doa bagi Yaniton. Musibah ini menjadi pengingat bahwa solidaritas dan kepedulian antar mahasiswa sangat penting dalam menghadapi tantangan hidup.

Penutup

Demikian informasi kecelakaan yang menimpa saudara Yaniton Murib, mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN semester III.

Semoga Yaniton segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa.


Jayapura, Jumat, 14 November 2025


Disampaikan oleh:

Waniel & Temerius – Teman Kelas Yaniton

Minggu, 09 November 2025

SELAMAT KEPADA WANIEL WETH, JUARA II DUTA BACA UPA PERPUSTAKAAN UNCEN 2025

Di Tulis oleh Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN 

               Doc: Foto setelah dapat juara II Duta Baca UPA Perpustakaan UNCEN Jayapura.


SELAMAT KEPADA WANIEL WETH, JUARA II DUTA BACA UPA PERPUSTAKAAN UNCEN 2025. (Jayapura, 06 November 2025).

       Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Cenderawasih, Waniel Weth, yang berhasil meraih Juara II Pemilihan Duta Baca UPA Perpustakaan Universitas Cenderawasih Tahun 2025.

Acara pemilihan Duta Baca ini diselenggarakan oleh UPA Perpustakaan Universitas Cenderawasih pada Kamis, 6 November 2025, bertempat di Gedung UPA Perpustakaan UNCEN Jayapura. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program literasi kampus yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan budaya literasi di kalangan mahasiswa.

Dalam ajang bergengsi ini, Waniel Weth tampil dengan penuh percaya diri, menampilkan wawasan luas dan semangat tinggi dalam mempromosikan gerakan literasi di lingkungan kampus. Keberhasilannya menjadi Juara II merupakan bukti nyata komitmen mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah dalam mendukung kemajuan literasi di Tanah Papua.

“Menjadi Duta Baca bukan hanya tentang penghargaan, tapi tentang tanggung jawab untuk menginspirasi mahasiswa lain agar gemar membaca dan menulis,” ungkap Waniel setelah menerima sertifikat dan medali penghargaan.

Kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi seluruh sivitas akademika Universitas Cenderawasih untuk terus mengembangkan budaya literasi dan memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan di bidang pendidikan dan pengetahuan.

Seluruh keluarga besar Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN Jayapura mengucapkan selamat dan sukses kepada Waniel Weth atas prestasi yang diraih. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan berkontribusi positif bagi kampus dan masyarakat Papua.




Jumat, 07 November 2025

Yoel Sahe, Anak Pedalaman Papua Buktikan Bahwa Mimpi Bisa Jadi Nyata. (Kupang, Jumat, 7 November 2025).



              Doc: Foto ujian skripsi nya oleh Yoel sahe 


 Yoel Sahe, Anak Pedalaman Papua Buktikan Bahwa Mimpi Bisa Jadi Nyata. (Kupang, Jumat, 7 November 2025)

Kabar membanggakan datang dari Kampung Lulun, Distrik Kosarek, Kabupaten Yahukimo, Papua. Salah satu putra terbaik daerah, Yoel Sahe, berhasil menyelesaikan ujian skripsinya di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Perjalanan pendidikan Yoel penuh perjuangan. Berasal dari pedalaman Papua yang jauh dari akses pendidikan memadai, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan semangat pantang menyerah, doa, dan kerja keras, Yoel berhasil menaklukkan berbagai tantangan hingga mencapai puncak studinya.

Dalam kesempatan usai ujian skripsi, Yoel memberikan pesan inspiratif kepada generasi muda Papua.

“Jangan takut bermimpi sekalipun kamu berasal dari kampung kecil. Tuhan sudah tanamkan potensi besar dalam diri setiap anak Papua. Kalau kita mau berjuang dan percaya, semua bisa tercapai,” ujarnya dengan senyum penuh syukur.

Keberhasilan Yoel menjadi contoh nyata bahwa anak-anak Papua dari kampung pun mampu bersaing dan berprestasi di dunia pendidikan tinggi. Kisahnya kini menjadi inspirasi bagi pelajar dan mahasiswa Papua untuk terus belajar, melangkah, dan membangun masa depan yang lebih baik bagi Tanah Papua.

Keluarga besar Pelajar dan Mahasiswa Kampung Lulun turut mengucapkan selamat dan sukses atas pencapaian Yoel Sahe. Semoga semangat juangnya menyalakan harapan baru bagi generasi Papua yang sedang menempuh pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.

Sabtu, 18 Oktober 2025

Anak Papua Bangkit! Inspirasi dari Kaka Jose, Motivator Se-Papua

 

🌄 Anak Papua Bangkit! Inspirasi dari Kaka Jose, Motivator Se-Papua



Doc: Foto bersama dengan Kaka Jose di Hotel Suni, Abepura, Jayapura.

Dalam rangka pemilihan Duta Bahasa se-Papua

Tuhan 2025.



Pendahuluan

Papua adalah tanah yang diberkati Tuhan dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, di tengah keindahan itu, masih banyak anak-anak muda Papua yang kehilangan arah, terjebak dalam putus sekolah, pengaruh minuman keras, dan pergaulan bebas. Di tengah situasi ini, muncul sosok Kaka Jose, seorang motivator muda dari Papua yang membawa pesan perubahan: “Bangkit dan ubah masa depanmu mulai dari dirimu sendiri!”


Melalui berbagai video motivasi di media sosial, seminar, dan kunjungan ke sekolah-sekolah serta kampus, Kaka Jose menjadi suara yang membangkitkan harapan generasi muda Papua agar tidak menyerah pada keadaan, tetapi menjadi pemimpin masa depan yang kuat, cerdas, dan takut akan Tuhan.


Pembahasan


🌱 1. Anak Papua Punya Potensi Besar


Kaka Jose sering berkata dalam salah satu videonya:


> “Tuhan tidak salah tempatkan engkau di Papua. Engkau lahir di sini karena Tuhan punya rencana besar.”


Pesan ini mengingatkan anak-anak muda Papua bahwa setiap orang memiliki potensi luar biasa, terlepas dari keterbatasan fasilitas, ekonomi, atau lingkungan. Banyak anak muda di pegunungan, lembah, dan pesisir yang memiliki bakat dalam seni, olahraga, pendidikan, dan pelayanan — mereka hanya membutuhkan dorongan dan arah yang tepat.


🔥 2. Jangan Takut Gagal


Dalam banyak motivasinya, Kaka Jose menekankan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan proses pembentukan karakter.

Ia berkata:


> “Kalau jatuh, bangkit lagi! Jangan biarkan kegagalan hari ini mencuri masa depanmu.”


Pesan ini sangat relevan bagi banyak anak muda Papua yang sering merasa minder atau takut mencoba hal baru. Semangat untuk bangkit dari kegagalan adalah kunci untuk mencapai sukses dan menjadi panutan bagi generasi berikutnya.


💡 3. Pendidikan Adalah Jalan Menuju Perubahan


Kaka Jose juga sering berbicara tentang pentingnya pendidikan sebagai alat untuk membebaskan diri dari keterbelakangan. Dalam salah satu video motivasinya di sekolah, ia mengatakan:


> “Kalau kamu ingin bantu Papua, jangan hanya bicara. Sekolah baik-baik, belajar sungguh-sungguh, dan kembalilah bangun daerahmu.”


Pendidikan bukan hanya soal mendapatkan ijazah, tetapi juga soal membangun pola pikir baru, disiplin, dan tanggung jawab. Melalui pendidikan, anak-anak muda Papua bisa menjadi pemimpin yang berintegritas dan mampu membawa perubahan nyata di daerah mereka masing-masing.


✊ 4. Hindari Pengaruh Negatif dan Fokus pada Tujuan


Kaka Jose menantang anak-anak muda Papua untuk menjauhi minuman keras, narkoba, dan seks bebas — hal-hal yang sering menghancurkan masa depan generasi muda.

Ia berkata dengan tegas:


> “Anak muda Papua harus beda! Jangan ikuti jalan yang bikin hancur, tapi pilih jalan yang bikin kamu hidup.”


Dengan memilih lingkungan yang baik, bergabung dengan komunitas positif, dan memiliki mentor yang mendukung, setiap anak muda Papua bisa membangun masa depan yang penuh harapan.


🌍 5. Bangun Papua dengan Cinta dan Tindakan Nyata


Motivasi Kaka Jose tidak berhenti pada kata-kata. Ia mendorong anak-anak muda Papua untuk turun langsung ke lapangan, melayani, mengajar, atau membuat gerakan kecil di kampung-kampung.


> “Kalau kamu mau lihat Papua berubah, mulai dari dirimu sendiri. Jadilah terang di tempatmu berdiri.”


Pesan ini mengajak semua anak muda untuk tidak hanya bermimpi besar, tetapi juga bertindak kecil dengan setia. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta.



Penutup


Anak-anak muda Papua membutuhkan lebih banyak figur seperti Kaka Jose — sosok yang menginspirasi dengan ketulusan, berbicara dengan hati, dan memberi contoh nyata lewat hidupnya. Melalui pesan-pesan motivasinya, Kaka Jose menyalakan api harapan bahwa masa depan Papua ada di tangan generasi muda yang berani bermimpi, berjuang, dan tetap rendah hati.


Mari anak-anak muda Papua:


> “Bangkit, belajar, dan berjuang! Jangan tunggu orang lain ubah Papua. Engkaulah masa depan Papua.”


Sumber Referensi


1. Video motivasi Kaka Jose – “Bangkitlah Anak Papua” (YouTube, 2024).


2. Seminar Pemuda Papua, Jayapura – “Pendidikan dan Perubahan Generasi” (2023).


3. Wawancara Kaka Jose dengan Radio RRI Jayapura – “Pemuda dan Masa Depan Papua”.


4. Buku: Inspirasi Timur – Kisah Anak Papua Membangun Harapan, Penerbit Obor Nusantara (2022).


5. Artikel: “Pemuda Papua dan Tantangan Perubahan Sosial”, Kompas.com (2023).

6. Video Instagram @kakajoseofficial – “Kamu Bisa Kalau Kamu Mau!” (2024).



Kamis, 16 Oktober 2025

Hanina, Perempuan Hebat dari Kampung Gilika – Yalimo Pegunungan Papua


Dokumentasi: Foto wisuda di hari ini

Jayapura, 16 Oktober 2025


Hanina, Perempuan Hebat dari Kampung Gilika – Yalimo Pegunungan Papua


Di tengah lembah hijau dan pegunungan yang sejuk di Gilika, Kabupaten Yalimo, lahirlah seorang perempuan tangguh bernama Hanina Paluke. Ia tumbuh di lingkungan sederhana, namun menyimpan tekad besar: ingin menolong sesama melalui dunia kesehatan.


Sejak kecil, Hanina dikenal sebagai sosok rajin, rendah hati, dan selalu haus ilmu. Jalan menuju pendidikan tinggi bukanlah hal mudah bagi anak dari pelosok Papua. Namun Hanina tidak pernah menyerah. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jembatan menuju perubahan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat kampung halamannya.

Dengan perjuangan dan doa keluarga, Hanina akhirnya diterima di Poltekkes Kemenkes Jayapura — sebuah langkah besar bagi seorang anak dari pedalaman. Di kampus inilah ia belajar dengan sungguh-sungguh, melewati berbagai tantangan akademik dan kehidupan kota yang serba baru.


Tahun demi tahun berlalu, dan pada Kamis, 16 Oktober 2025, doa panjang itu terjawab. Hanina resmi menyandang gelar Sarjana Terapan Keperawatan (S.Tr.Kep). Hari wisuda itu bukan hanya milik Hanina, tetapi juga milik seluruh keluarga besar KB-YUSIDABEUR Rayon Gilika Klasis Yalimo Elelim, yang dengan bangga mengucapkan:


> “Selamat dan sukses atas wisudanya,

Kaka kami, ade kami, saudari kami Hanina Paluke, S.Tr.Kep.

Semoga ilmu dan profesi yang telah diraih menjadi berkat bagi masyarakat dan kemuliaan nama Tuhan.”


Kini, Hanina menjadi teladan bagi banyak anak muda Papua — bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi mereka yang mau berjuang dan percaya pada Tuhan. Dari kampung Gilika di pegunungan Yalimo, ia menunjukkan bahwa perempuan Papua mampu berdiri tegak, berpendidikan, dan melayani dengan kasih.

Ditulis oleh: Pengurus KB-YUSIDABEUR Rayon Gilika Klasis Yalimo Elelim di kota Jayapura.



Kamis, 02 Oktober 2025

Budaya “Pemalas” dalam Perspektif Ekonomi Papua: Tantangan dan Solusi Pembangunan

 



Budaya “Pemalas” dalam Perspektif Ekonomi Papua: Tantangan dan Solusi Pembangunan

Artikel



Contoh: Ilustrasi orang pemalas dalam segala pekerjaan.


Abstrak


Papua merupakan wilayah dengan kekayaan alam yang melimpah, namun tingkat kesejahteraan masyarakatnya masih tertinggal dibandingkan daerah lain di Indonesia. Salah satu isu yang sering muncul adalah stigma “pemalas” yang dilekatkan pada masyarakat Papua, khususnya dalam bidang ekonomi. Artikel ini membahas akar budaya kerja masyarakat Papua, faktor sosial-historis yang memengaruhi rendahnya partisipasi ekonomi, serta tantangan modernisasi yang dihadapi. Stigma tersebut tidak sepenuhnya benar, melainkan lahir dari pertemuan antara tradisi hidup subsisten dengan sistem ekonomi pasar yang menuntut produktivitas tinggi. Melalui penguatan pendidikan, pengembangan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi lokal, diharapkan masyarakat Papua dapat keluar dari stigma tersebut dan berperan aktif dalam pembangunan nasional.



Kata Kunci


Papua, budaya kerja, pemalas, ekonomi lokal, pembangunan, pemberdayaan masyarakat.


Pendahuluan 


1. Latar Belakang


Meskipun Papua dikenal dengan kekayaan sumber daya alam seperti emas, tembaga, hutan, dan laut, namun data menunjukkan bahwa masyarakat Papua masih memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Hal ini sering dikaitkan dengan anggapan bahwa orang Papua “pemalas” dalam mengelola ekonomi. Padahal, dalam antropologi, budaya kerja masyarakat Papua terbentuk dari sistem hidup tradisional yang lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan dasar ketimbang akumulasi modal.


2. Budaya Subsisten vs Ekonomi Pasar


Budaya Subsisten: Masyarakat Papua pada umumnya hidup dari berburu, berkebun, dan meramu. Sistem ini berorientasi pada kecukupan (cukup makan hari ini), bukan pada akumulasi kekayaan.


Ekonomi Pasar Modern: Sistem kapitalisme nasional menuntut kerja produktif, kompetisi, dan akumulasi modal. Perbedaan orientasi inilah yang sering membuat masyarakat Papua dipandang “tidak produktif” atau “pemalas”.


3. Faktor Historis dan Struktural


Kolonialisme & eksploitasi SDA: Sejak zaman Belanda hingga sekarang, hasil kekayaan Papua banyak dikuasai pihak luar, membuat masyarakat asli hanya jadi penonton.


Pendidikan & keterampilan rendah: Minimnya akses pendidikan berkualitas membuat partisipasi dalam dunia kerja modern sangat terbatas.


Ketergantungan pada dana Otsus: Alokasi dana Otonomi Khusus besar, namun sering tidak sampai pada masyarakat bawah, menciptakan mental ketergantungan.


Stigma sosial: Label “pemalas” sering melemahkan motivasi generasi muda Papua.


4. Perspektif Budaya


Dalam budaya Melanesia, kerja keras biasanya dilakukan secara kolektif untuk kepentingan bersama (gotong royong), bukan individual. Hal ini berbeda dengan sistem ekonomi nasional yang berbasis kompetisi individu. Perbedaan paradigma inilah yang membuat adaptasi masyarakat Papua menjadi lebih lambat.



Solusi


1. Pendidikan dan Keterampilan


Peningkatan akses pendidikan vokasi yang sesuai dengan potensi lokal (perikanan, pertanian modern, teknologi).


Program magang dan kewirausahaan bagi generasi muda Papua.


2. Pemberdayaan Ekonomi Lokal


Mendorong koperasi dan UMKM berbasis komunitas adat.


Mendukung hasil kerajinan, pertanian, dan pariwisata Papua untuk masuk pasar nasional maupun internasional.


3. Penguatan Budaya Kerja Positif


Mengintegrasikan nilai gotong royong Papua dengan prinsip ekonomi modern.


Kampanye melawan stigma “pemalas” dengan menampilkan figur sukses Papua.


4. Pengawasan Dana Otsus dan Investasi


Memastikan dana pembangunan sampai ke masyarakat akar rumput.


Mengatur agar investasi asing dan nasional melibatkan tenaga kerja lokal Papua.


Kesimpulan dan Saran


Stigma “pemalas” pada masyarakat Papua lebih tepat dipahami sebagai perbedaan sistem budaya kerja, bukan kelemahan bawaan. Masyarakat Papua memiliki cara hidup yang berorientasi pada keseimbangan dengan alam, namun tantangan ekonomi modern menuntut pola kerja baru. Dengan pendidikan yang tepat, pemberdayaan ekonomi lokal, serta penguatan budaya kerja positif, masyarakat Papua dapat keluar dari stigma tersebut. Pemerintah pusat maupun daerah harus memastikan bahwa pembangunan benar-benar memberdayakan orang asli Papua, bukan hanya memberi label atau ketergantungan.



Daftar Pustaka


1. Keesing, R. M. (1992). Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Erlangga.


2. Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.


3. Widjojo, M. S. (2010). Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the Future. Jakarta: LIPI.


4. Tim BPS Papua. (2023). Statistik Kesejahteraan Rakyat Papua. Badan Pusat Statistik.


5. Rutherford, D. (2003). Raiding the Land of the Foreigners: The Limits of the Nation on an Indonesian Frontier. Princeton: Princeton University Press.


6. Chauvel, R. (2005). Constructing Papuan Nationalism: History, Ethnicity, and Adaptation. Washington: East-West Center.


7. Alua, A. (2002). Papua Barat dari Pangkuan ke Pangkuan. Jayapura: Sekretariat Keadilan dan Perdamaian.


8. Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Sosial. Bandung: Alfabeta.


9. Mansoben, J. R. (1995). Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. Jakarta: LIPI-RUL.


10. Hernawan, B. (2019). Papua dan Tantangan Otonomi Khusus. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.


Penulis, Waniel Weth 

Student from west Papua


Sabtu, 27 September 2025

Menjadi Mahasiswa Luar Biasa di Kampus Universitas Cenderawasih

 



Menjadi Mahasiswa Luar Biasa di Kampus Universitas Cenderawasih

Oleh: Waniel Weth (mahasiswa sejarah FKIP-UNCEN)


Contoh: Sertifikat prestasi seseorng mahasiswa


Pendahuluan


Menjadi mahasiswa bukan hanya soal hadir di ruang kuliah dan mengerjakan tugas, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu memaksimalkan potensi diri, berkontribusi untuk masyarakat, serta menjadi teladan bagi lingkungannya. Di Universitas Cenderawasih (Uncen), salah satu perguruan tinggi terbesar di Papua, mahasiswa memiliki peluang besar untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang luar biasa.


Mahasiswa Luar Biasa: Definisi dan Ciri


Mahasiswa luar biasa dapat dipahami sebagai mahasiswa yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga aktif dalam kegiatan non-akademik seperti organisasi, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. Ciri-cirinya antara lain:


1. Berprestasi akademik – mampu menjaga IPK dengan baik melalui kedisiplinan belajar.



2. Aktif berorganisasi – berperan dalam organisasi intra maupun ekstra kampus.



3. Berjiwa sosial – peduli terhadap permasalahan masyarakat, khususnya di tanah Papua.



4. Memiliki visi dan tujuan hidup – tidak sekadar kuliah, tetapi juga menyiapkan diri untuk masa depan.



5. Kreatif dan inovatif – mampu melahirkan ide dan solusi baru dalam berbagai bidang.




Peluang Berkembang di Universitas Cenderawasih


Uncen menyediakan berbagai sarana bagi mahasiswa untuk menjadi luar biasa, antara lain:


Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM): tempat mengasah kepemimpinan, seni, olahraga, dan minat bakat.


Kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat: mahasiswa bisa terlibat langsung dalam proyek dosen atau membuat riset mandiri.


Beasiswa: bagi mahasiswa berprestasi maupun kurang mampu secara ekonomi.


Forum diskusi dan seminar: ruang untuk memperluas wawasan dan jejaring akademik.



Tantangan Mahasiswa Uncen


Namun, menjadi mahasiswa luar biasa tidaklah mudah. Tantangan yang dihadapi antara lain:


Keterbatasan fasilitas belajar di beberapa fakultas.


Perbedaan latar belakang mahasiswa yang menuntut sikap toleransi dan solidaritas.


Pengaruh lingkungan negatif seperti pergaulan bebas atau sikap malas belajar.


Strategi Menjadi Mahasiswa Luar Biasa


Agar mampu menghadapi tantangan tersebut, mahasiswa perlu:

1. Membangun disiplin belajar dengan manajemen waktu yang baik.


2. Berpartisipasi aktif dalam organisasi kampus untuk melatih kepemimpinan.


3. Mengembangkan literasi digital dan riset guna menghadapi era globalisasi.


4. Menjaga integritas dan karakter sebagai identitas mahasiswa Papua yang bermartabat.


5. Menjadi agen perubahan sosial dengan memanfaatkan ilmu untuk kesejahteraan masyarakat.


Penutup


Menjadi mahasiswa luar biasa di Universitas Cenderawasih berarti menjadi pribadi yang utuh: cerdas secara akademik, aktif secara sosial, dan visioner untuk masa depan. Mahasiswa tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk berkontribusi bagi kemajuan Papua dan Indonesia. Dengan semangat belajar, kepedulian sosial, serta keberanian bermimpi besar, mahasiswa Uncen mampu menjadi agen perubahan yang membawa cahaya harapan bagi bangsa.



Sumber / Referensi


1. Tilaar, H.A.R. (2002). Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya.


2. Sardiman, A.M. (2011). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: RajaGrafindo Persada.


3. Dikti Kemdikbud RI. (2020). Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


4. Astuti, R. (2021). “Pengembangan Karakter Mahasiswa melalui Organisasi Kampus.” Jurnal Pendidikan Karakter, 11(2).


5. Universitas Cenderawasih. (2023). Profil dan Informasi Kampus. Jayapura: Uncen Press.


6. Nainupu, A. (2019). “Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Sosial di Papua.” Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 8(1).


Senin, 08 September 2025

Yang Menikmati Dana Otsus Papua Diam, Sedangkan yang Belum Mendapatkan Dana Otsus Papua yang Berteriak Minta Merdeka

 “Yang Menikmati Dana Otsus Papua Diam, Sedangkan yang Belum Mendapatkan Dana Otsus Papua yang Berteriak Minta Merdeka”

Oleh, Waniel Weth mahasiswa universitas Cenderawasih Jayapura.

 

              Dok: foto ilustrasi orang Papua menikmati hidup dengan dana Otsus Papua.



Pendahuluan

Otonomi Khusus (Otsus) Papua merupakan kebijakan pemerintah Indonesia yang diberikan kepada Provinsi Papua sejak tahun 2001 melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat Papua dalam mengatur pembangunan daerahnya, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta mengurangi kesenjangan antara Papua dan daerah lain di Indonesia.


Namun dalam pelaksanaannya, dana Otsus yang jumlahnya sangat besar justru menimbulkan perdebatan. Ada pihak-pihak tertentu yang mendapatkan akses lebih luas terhadap dana Otsus dan hidup dalam kenyamanan, sementara sebagian masyarakat Papua lainnya merasa terpinggirkan karena tidak merasakan manfaat secara langsung. Hal inilah yang menimbulkan paradoks: mereka yang menikmati dana Otsus cenderung diam, sedangkan masyarakat yang tidak mendapat manfaatnya justru bersuara keras bahkan menuntut kemerdekaan.



Pembahasan


1. Tujuan dan Realitas Dana Otsus


Dana Otsus diharapkan dapat digunakan untuk sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Papua. Namun dalam kenyataan, penyaluran dana Otsus sering kali tidak merata dan terjebak dalam birokrasi serta kepentingan politik elit daerah.


Banyak laporan menunjukkan adanya praktik korupsi, salah sasaran program, hingga ketidaktransparanan dalam pengelolaan anggaran. Akibatnya, masyarakat pedalaman Papua masih kesulitan mengakses layanan pendidikan dan kesehatan, sementara segelintir elit politik dan birokrat menikmati keuntungan besar.


2. Diamnya Penerima Manfaat Otsus


Kelompok yang mendapatkan akses dana Otsus, baik secara langsung maupun tidak langsung, cenderung diam. Hal ini karena mereka sudah diuntungkan secara ekonomi dan sosial. Mereka bisa menikmati fasilitas pendidikan, pekerjaan, dan peluang usaha. Diamnya kelompok ini menandakan adanya sikap pasif akibat ketergantungan pada dana Otsus, tanpa kritik terhadap ketidakadilan distribusi.


3. Suara Merdeka dari Kelompok yang Terpinggirkan


Sebaliknya, masyarakat Papua yang tidak mendapatkan manfaat dari dana Otsus, khususnya masyarakat di daerah pedalaman dan wilayah terisolasi, sering kali merasa tidak diperhatikan. Mereka tetap miskin, sulit mengakses pendidikan, pelayanan kesehatan, serta infrastruktur dasar. Kondisi ini membuat sebagian dari mereka menyuarakan ketidakpuasan bahkan menuntut kemerdekaan sebagai bentuk perlawanan.


4. Politisasi Dana Otsus


Dana Otsus sering dijadikan alat politik untuk menguatkan kekuasaan elit lokal dan sebagai bargaining politik antara pusat dan daerah. Hal ini memperkuat stigma bahwa Otsus bukan solusi bagi Papua, melainkan hanya “gula-gula politik” untuk meredam tuntutan kemerdekaan.


5. Jalan Keluar: Transparansi dan Keadilan


Untuk menjawab masalah ini, beberapa langkah perlu dilakukan:


Transparansi pengelolaan dana Otsus melalui audit independen.


Pemerataan akses bagi masyarakat Papua, khususnya di daerah pedalaman.


Pemberdayaan masyarakat lokal agar tidak hanya bergantung pada elit politik.


Dialog konstruktif antara pemerintah pusat dan masyarakat Papua agar suara kritis tidak hanya dijawab dengan pendekatan keamanan, melainkan dengan solusi kesejahteraan.



Penutup


Paradoks diamnya penerima manfaat dana Otsus dan kerasnya suara mereka yang tidak menikmatinya menunjukkan adanya ketimpangan dalam pengelolaan kebijakan tersebut. Otsus seharusnya menjadi jembatan untuk kesejahteraan, bukan sumber konflik sosial dan politik. Jika pengelolaan dana Otsus tidak segera diperbaiki dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan pemerataan, maka potensi konflik dan tuntutan merdeka dari masyarakat Papua akan terus bergema.



Daftar Pustaka


1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.


2. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. (2021). Laporan Hasil Pemeriksaan Dana Otonomi Khusus Papua.


3. Ginting, A. (2020). Otonomi Khusus Papua: Harapan dan Realitas. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor.


4. Kementerian Keuangan RI. (2022). Data dan Evaluasi Dana Otsus Papua.


5. Widjojo, M. S. (2015). Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the Future. Jakarta: LIPI Press.


6. Tebay, N. (2009). Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Perspektif Papua. Jayapura: Sekretariat Keadilan dan Perdamaian.


7. Tempo. (2021). “20 Tahun Dana Otsus Papua, Siapa yang Diuntungkan?”


8. Kompas. (2022). “Ketimpangan Otsus Papua dan Suara Kemerdekaan.”


9. Elmslie, J. (2018). West Papua: The Issue of Political Independence and Autonomy. Sydney: University of New South Wales.



10. Ikrar Nusa Bhakti. (2013). Papua dalam Politik Nasional Indonesia. Jakarta: LIPI.

Selasa, 02 September 2025

Mengenal Dirimu Sebelum Mengenal Orang Lain.


Mengenal Dirimu Sebelum Mengenal Orang Lain

     Editor: Waniel Weth 


        Doc: Stiker foto orang yang bermandiri dalam segala hal.


Pendahuluan

      Setiap individu memiliki perjalanan hidup yang unik, dengan pengalaman, pemikiran, dan emosi yang membentuk identitas diri. Namun, sering kali manusia lebih sibuk menilai orang lain daripada memahami dirinya sendiri. Padahal, mengenal diri (self-awareness) merupakan kunci utama dalam membangun hubungan sosial, mencapai kedewasaan emosional, serta menentukan arah hidup. Socrates, seorang filsuf Yunani, pernah menyatakan, “Kenalilah dirimu sendiri.” Ungkapan ini menekankan pentingnya refleksi diri sebelum kita berinteraksi dan menilai orang lain.


Pembahasan


1. Konsep Mengenal Diri

       Mengenal diri berarti memahami potensi, kelebihan, kelemahan, nilai hidup, serta tujuan yang ingin dicapai. Menurut Daniel Goleman (1995) dalam bukunya Emotional Intelligence, kesadaran diri adalah fondasi dari kecerdasan emosional yang akan memengaruhi cara seseorang mengelola emosi, membangun relasi, hingga mengambil keputusan.


2. Hubungan Mengenal Diri dan Interaksi Sosial

       Seseorang yang mengenal dirinya dengan baik akan lebih mudah memahami orang lain. Hal ini karena ia memiliki empati, stabilitas emosional, dan kemampuan komunikasi yang lebih sehat. Sebaliknya, orang yang tidak mengenal dirinya cenderung mudah terjebak dalam konflik, iri hati, atau kesalahpahaman sosial.


3. Proses Mengenal Diri

       Proses mengenal diri bukanlah hal instan, melainkan perjalanan reflektif yang terus berkembang. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan:

Refleksi diri: menulis jurnal harian tentang perasaan, pengalaman, dan pembelajaran.

Menerima umpan balik: mendengarkan kritik dan saran dari orang lain secara bijak.

Meditasi dan doa: menenangkan diri untuk menemukan makna terdalam dari hidup.

Membaca dan belajar: memperluas wawasan agar memiliki perspektif yang lebih kaya.

4. Dampak Tidak Mengenal Diri

Individu yang gagal mengenal dirinya akan mudah terjebak dalam pencarian identitas semu, mengikuti arus tanpa arah, bahkan mengalami krisis eksistensial. Erik Erikson (1968) dalam teorinya tentang Identity vs Role Confusion menekankan bahwa kegagalan dalam memahami diri di usia muda dapat menimbulkan kebingungan identitas yang berkepanjangan.

5. Relevansi di Era Modern

Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, banyak orang lebih sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain daripada memahami keunikannya. Fenomena fear of missing out (FOMO) dan identity crisis semakin marak. Karena itu, urgensi mengenal diri sendiri semakin besar agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya informasi global.


Penutup


Mengenal diri sebelum mengenal orang lain bukan hanya ajaran filsafat klasik, tetapi juga kebutuhan psikologis dan sosial manusia modern. Kesadaran diri membawa kita pada penerimaan, kedewasaan, dan kemampuan membangun hubungan yang lebih sehat. Dengan memahami siapa diri kita sebenarnya, maka kita dapat lebih bijak dalam mengenal, memahami, dan menerima keberadaan orang lain.


Referensi


1. Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.

2. Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. New York: W. W. Norton & Company.

3. Covey, S. R. (1989). The 7 Habits of Highly Effective People. New York: Free Press.

4. Fromm, E. (1947). Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics. New York: Rinehart.

5. Maslow, A. H. (1954). Motivation and Personality. New York: Harper & Row.

6. Socrates dalam Plato. (2002). Apology, Crito, Phaedo. Indianapolis: Hackett Publishing.

7. Tolle, E. (2004). The Power of Now: A Guide to Spiritual Enlightenment. Novato: New World Library.

8. Jalaluddin, R. (2010). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

9. Corey, G. (2013). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Belmont: Cengage Learning.

10. Frankl, V. E. (2006). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Presiden.


Na, Waniel Weth 

Anak pedalaman Kampung Lulun, Papua 

Mengapa Papua Demonstrasi Hari Ini?

 

Mengapa Papua Demonstrasi Hari Ini?

Editor: Waniel Weth 


     Dok: Foto masa demostrasi, lingkaran Abepura, Jayapura Papua.



1. Aksi Demonstrasi Serentak di Papua

Hari ini, Selasa (2 September 2025), terjadi aksi demonstrasi di sejumlah wilayah Tanah Papua. Mahasiswa dan masyarakat menggelar unjuk rasa di beberapa titik, termasuk lingkaran Abepura (Jayapura), kantor DPRK Sarmi, DPRK Jayawijaya, dan Tugu Tiom Lanny Jaya. Tuntutan utamanya adalah pembebasan empat tahanan politik yang diduga terkait organisasi NFRPB, serta penolakan terhadap militerisasi dan penempatan pasukan non-organik di tanah Papua. Aparat keamanan—TNI, Polri, dan Satpol PP—mengamankan aksi tersebut sehingga berlangsung tertib dan kondusif .

2. Desakan Pengusutan Insiden di Sorong

Di lingkaran Abepura, ribuan mahasiswa dari Solidaritas Mahasiswa Papua menyuarakan kemarahan atas dugaan kekerasan yang dilakukan aparat terhadap masyarakat dan aktivis di Sorong—masih dalam kerangka insiden rusuh yang terjadi pada 27 Agustus 2025. Aksi ini mendesak Kapolda Papua Barat Daya dan Kapolresta Sorong segera mengusut tuntas insiden tersebut .

3. Demonstrasi Damai di Manokwari

Di Manokwari, Papua Barat, gabungan enam organisasi kemahasiswaan juga menggelar demonstrasi damai. Mereka menyerahkan 17 poin tuntutan kepada pemerintah provinsi dan DPRP Papua Barat. Aspirasi tersebut mencakup penolakan kenaikan tunjangan dewan, penghentian pemborosan uang rakyat, penghormatan terhadap hak politik masyarakat adat, serta prioritas politik bagi orang asli Papua dalam pengambilan kebijakan. Demonstrasi ini berlangsung tertib dan diapresiasi oleh pihak pemerintah daerah .

4. Simbol Unik dalam Aksi Demo: Bendera “One Piece”

Uniknya, dalam aksi di Jayapura, para demonstran mengibarkan bendera bajak laut dari anime One Piece—lambang simbol perlawanan—untuk menyuarakan kritik terhadap kondisi Papua saat ini. Simbol ini dipilih sebagai representasi keberanian mahasiswa menantang ketidakadilan dan meminta perbaikan dari pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah .

5. Sikap Tokoh Papua: Protes Dibolehkan, Tapi Jangan Anarkis

Aktivis dan tokoh Papua, Charles Kossay, menyatakan bahwa demonstrasi adalah hak perorangan, sebagaimana dijamin oleh UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum—termasuk di Papua. Namun ia mengingatkan agar aksi tetap damai dan tidak merusak fasilitas umum. Menurutnya, melakukan demonstrasi anarkis bukan hanya merugikan, tetapi juga berbahaya bagi citra dan persatuan masyarakat Papua dengan Indonesia luas .


Ringkasan Inti:

Titik Aksi Fokus Utama Demonstrasi
Lingkaran Abepura (Jayapura) Tuntutan pembebasan tahanan politik, penolakan militerisasi, pengusutan insiden Sorong
Manokwari, Papua Barat Penyerahan 17 tuntutan politik dan sosial kepada pemerintah provinsi
Seluruh Papua Manifestasi simbolis semangat perlawanan (bendera One Piece)
Sikap Elemen Masyarakat Dorongan agar demonstrasi tetap damai dan substansial, bukan destruktif.











Penulis, Waniel Weth 
Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN JAYAPURA-PAPUA 


Mengapa Papua Belum Maju dalam segala Peradaban Walaupun Mendapat Dana Otonomi Khusus? Editor/penulis: Waniel


Mengapa Papua Belum Maju dalam segala Peradaban Walaupun Mendapat Dana Otonomi Khusus?

Editor/penulis: Waniel Weth

        Peta wilayah propinsi Papua, yang secara sah memberikan Otsus bagi orang Papua, tahun 2001.


Pendahuluan

       Papua adalah salah satu provinsi dengan kekayaan sumber daya alam terbesar di Indonesia. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, rendahnya kualitas kesehatan, serta akses infrastruktur dasar masih menjadi persoalan utama. Pemerintah pusat telah mengalokasikan Dana Otonomi Khusus (Otsus) sejak tahun 2001 sebagai bentuk afirmasi untuk mendorong percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan orang asli Papua. Ironisnya, meski dana yang digelontorkan mencapai ratusan triliun rupiah, kemajuan peradaban di Papua masih berjalan lambat.

Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: mengapa Papua belum bisa maju meskipun mendapatkan dana Otsus dari pemerintah pusat? Untuk menjawab hal ini, perlu ditelaah secara kritis dari aspek politik, sosial, ekonomi, budaya, dan tata kelola pemerintahan.

Pembahasan

1. Masalah Tata Kelola dan Korupsi

Salah satu hambatan utama dalam efektivitas penggunaan dana Otsus adalah korupsi dan penyalahgunaan anggaran. Banyak laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) serta temuan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan bahwa dana Otsus tidak sepenuhnya sampai kepada masyarakat. Sebagian dana habis di birokrasi atau dikorupsi oleh elit lokal, sehingga tidak menghasilkan dampak nyata bagi pembangunan.

Selain itu, kurangnya transparansi dan akuntabilitas menyebabkan masyarakat tidak mengetahui secara jelas bagaimana dana tersebut digunakan. Hal ini menciptakan jurang kepercayaan antara masyarakat dengan pemerintah daerah maupun pusat.

2. Lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM)

Peradaban suatu bangsa atau daerah sangat ditentukan oleh kualitas SDM. Di Papua, akses pendidikan masih terbatas, terutama di daerah pedalaman. Banyak anak Papua tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena faktor ekonomi, infrastruktur, maupun minimnya tenaga pengajar.

Dana Otsus memang dialokasikan sebagian besar untuk sektor pendidikan, tetapi implementasinya tidak optimal. Rendahnya kualitas SDM menyebabkan masyarakat Papua sulit bersaing dalam bidang ekonomi, teknologi, maupun pemerintahan.

3. Keterisolasian Wilayah dan Infrastruktur Dasar

Secara geografis, Papua memiliki kondisi alam yang sulit dijangkau. Banyak wilayah masih terisolasi tanpa akses jalan, listrik, maupun internet. Hal ini membuat distribusi barang, jasa, dan pelayanan publik tidak merata. Pembangunan infrastruktur yang dibiayai Otsus berjalan lambat dan tidak konsisten.

Kurangnya infrastruktur ini bukan hanya menghambat mobilitas ekonomi, tetapi juga mengisolasi masyarakat dari akses pendidikan modern, kesehatan, dan informasi global. Dengan demikian, Papua mengalami keterlambatan dalam proses modernisasi peradaban.

4. Faktor Sosial Budaya dan Ketergantungan

Dalam beberapa kasus, dana Otsus justru menimbulkan mental ketergantungan. Sebagian masyarakat menganggap dana tersebut sebagai "jatah" yang otomatis diterima tanpa keterlibatan aktif dalam pembangunan. Hal ini melemahkan inisiatif lokal untuk mengembangkan ekonomi kreatif atau kemandirian komunitas.

Di sisi lain, benturan nilai antara sistem modern dengan budaya lokal juga sering menjadi hambatan. Masyarakat Papua memiliki ikatan sosial dan budaya yang kuat, tetapi adaptasi terhadap perubahan global masih berjalan lambat. Jika budaya tidak diberdayakan dalam kerangka pembangunan, maka masyarakat akan tetap berada dalam posisi marginal.

5. Aspek Politik dan Konflik Keamanan

Tidak bisa dipungkiri, Papua masih menghadapi persoalan politik dan konflik separatisme. Kondisi ini sering kali menyerap perhatian pemerintah sehingga pembangunan terpinggirkan. Dana Otsus pun tidak jarang dimanfaatkan sebagai instrumen politik untuk meredam konflik, bukan semata-mata untuk pembangunan rakyat.

Selain itu, politik lokal yang sarat kepentingan elite turut memperlambat distribusi manfaat Otsus. Alih-alih memperjuangkan kepentingan masyarakat, sebagian pemimpin daerah lebih mengutamakan kekuasaan dan kepentingan pribadi atau kelompok.

6. Kurangnya Partisipasi Masyarakat

Pembangunan di Papua sering bersifat top-down, di mana kebijakan dibuat oleh pemerintah pusat dan daerah tanpa melibatkan aspirasi masyarakat adat. Hal ini mengakibatkan program-program pembangunan tidak sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat di lapangan. Padahal, keberhasilan pembangunan memerlukan partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.


Penutup

     Dana Otonomi Khusus Papua sejatinya dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan dan mempercepat kemajuan peradaban masyarakat Papua. Namun, realitas menunjukkan bahwa dana tersebut belum mampu memberikan dampak signifikan. Faktor penyebabnya meliputi lemahnya tata kelola dan korupsi, rendahnya kualitas SDM, keterisolasian infrastruktur, mental ketergantungan, konflik politik, serta minimnya partisipasi masyarakat.

Oleh karena itu, jika Papua ingin benar-benar maju, perlu dilakukan reformasi tata kelola Otsus yang transparan, penguatan SDM berbasis pendidikan dan literasi, pembangunan infrastruktur yang merata, pemberdayaan budaya lokal, serta pelibatan masyarakat dalam setiap aspek pembangunan. Dana Otsus bukanlah tujuan akhir, melainkan hanya sarana. Yang paling menentukan adalah bagaimana dana itu dikelola secara adil, transparan, dan berorientasi pada kepentingan rakyat Papua.



Referensi

1. Tim LIPI. (2009). Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the Future. Jakarta: LIPI Press.


2. Widjojo, M. S., et al. (2010). Papua: Solusi Damai dan Berkelanjutan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.


3. Bappenas. (2020). Laporan Evaluasi 20 Tahun Otonomi Khusus Papua. Jakarta: Bappenas.


4. Kementerian Keuangan RI. (2021). Laporan Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat. Jakarta: Kemenkeu.


5. Badan Pusat Statistik. (2022). Statistik Kesejahteraan Rakyat Papua. Jakarta: BPS.


6. Komisi Pemberantasan Korupsi. (2019). Kajian Pengelolaan Dana Otonomi Khusus Papua. Jakarta: KPK.


7. Chauvel, R., & Bhakti, I. N. (2004). The Papua Conflict: Jakarta’s Perceptions and Policies. Washington DC: East-West Center.


8. Elmslie, J., & Webb-Gannon, C. (2013). A Slow-Motion Genocide: Indonesian Rule in West Papua. Griffith Journal of Law & Human Dignity.


9. Taufik, I. (2017). Otonomi Khusus Papua: Antara Harapan dan Kenyataan. Jurnal Politik, 5(2), 123–140.


10. Yoman, S. (2012). Otonomi Khusus Papua: Solusi atau Masalah Baru? Jayapura: Deiyai Publisher.




Penulis, WANIEL WETH 

Student of Cenderawasih university Jayapura, Papua-Indonesia 




Senin, 01 September 2025

Papua sebagai Perempuan Cantik oleh Indonesia

Papua sebagai Perempuan Cantik oleh Indonesia 

Oleh: Waniel Weth
Dok: contoh foto orang Indonesia jatuh cinta dengan perempuan Papua.


A. Pendahuluan 
Papua sering digambarkan sebagai tanah yang kaya sumber daya alam, indah, dan eksotis. Kekayaan mineral, keanekaragaman hayati, hingga potensi sosial-budaya menjadikan Papua seolah-olah “perempuan cantik” yang selalu menarik perhatian. Metafora ini menunjukkan bagaimana Papua diposisikan oleh negara Indonesia: sesuatu yang bernilai tinggi, diperebutkan, dan seringkali dipandang dari kacamata kepentingan politik dan ekonomi. Namun, di balik metafora “perempuan cantik” itu terdapat realitas lain: ketidakadilan, marginalisasi, hingga konflik sosial-politik yang berkepanjangan. Artikel ini berupaya menguraikan bagaimana Papua dipandang sebagai aset strategis Indonesia, serta implikasi dari pandangan tersebut terhadap pembangunan, politik identitas, dan kesejahteraan masyarakat Papua.

B.  Pembahasan 
1. Papua sebagai “Perempuan Cantik”: Sebuah Metafora Dalam konstruksi simbolik, perempuan cantik kerap diibaratkan sebagai sesuatu yang memikat dan bernilai tinggi. Papua, dengan keindahan alamnya dan kekayaan sumber daya alam seperti emas, tembaga, gas, serta hutan tropis yang luas, digambarkan seperti itu oleh negara. Sebagaimana perempuan cantik sering dijaga, diawasi, bahkan diperebutkan, demikian pula Papua selalu menjadi pusat perhatian dalam kebijakan nasional.

 2. Dimensi Politik dan Kekuasaan Papua memiliki posisi strategis dalam politik Indonesia. Sebagai wilayah paling timur, Papua adalah simbol integritas NKRI. Pemerintah pusat sering menekankan bahwa mempertahankan Papua sama dengan mempertahankan keutuhan bangsa. Namun, pendekatan politik yang dominan sering lebih menekankan pada stabilitas keamanan dibanding pemenuhan hak-hak dasar masyarakat Papua. Dalam metafora perempuan cantik, Papua dijaga ketat agar tidak “diambil” pihak lain, tetapi tidak selalu didengarkan aspirasinya. 

3. Dimensi Ekonomi: Kekayaan yang Menggoda Kekayaan alam Papua, khususnya tambang emas dan tembaga di Freeport, menjadikan wilayah ini ibarat “perempuan cantik” yang tak bisa dilepas. Sumber daya tersebut berkontribusi besar terhadap pendapatan nasional. Namun, ironi terjadi karena masyarakat Papua sendiri seringkali tidak merasakan manfaat yang proporsional dari kekayaan alam tersebut. Kemiskinan, ketimpangan pembangunan, dan keterbatasan akses pendidikan serta kesehatan masih menjadi persoalan serius. 4. Dimensi Sosial-Budaya: Cantik yang Terpinggirkan Papua memiliki keragaman budaya dan identitas yang unik, dengan ratusan suku dan bahasa lokal. Keindahan budaya ini juga merupakan bagian dari “kecantikan” Papua. Namun, dalam arus pembangunan nasional, kearifan lokal sering terpinggirkan. Modernisasi dan proyek-proyek pembangunan kadang menyingkirkan cara hidup tradisional masyarakat adat. Papua sebagai perempuan cantik, dalam hal ini, dihias sesuai selera pihak luar, bukan dibiarkan mengekspresikan kecantikannya sendiri.

 5. Konflik dan Resistensi Tidak jarang, metafora “perempuan cantik” juga membawa implikasi konflik. Karena dianggap terlalu berharga, Papua dijaga dengan ketat oleh negara, namun pengawalan itu sering menghadirkan pendekatan represif. Hal ini memicu resistensi dan konflik berkepanjangan. Seperti perempuan cantik yang tidak diberi ruang menentukan pilihannya, Papua sering merasa tidak memiliki kuasa penuh atas nasibnya sendiri.

 6. Jalan Menuju Relasi yang Adil Jika metafora Papua sebagai perempuan cantik terus dipertahankan, maka keindahan itu harus dihargai dengan cara yang adil: bukan hanya dijaga, melainkan juga didengarkan, diberdayakan, dan diberikan ruang untuk berkembang sesuai jati dirinya. Negara perlu menempatkan Papua bukan sekadar sebagai aset strategis, melainkan sebagai subjek pembangunan yang setara. 

C. Penutup 

Metafora “Papua sebagai perempuan cantik” menggambarkan bagaimana Indonesia memandang wilayah ini: kaya, memikat, dan taketergantikan. 
Namun, di balik itu ada ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi yang dialami masyarakat Papua. Untuk itu, paradigma pembangunan dan politik di Papua harus berubah: dari Papua sebagai objek kekuasaan menuju Papua sebagai subjek yang bermartabat. Dengan demikian, kecantikan Papua tidak hanya menjadi milik Indonesia secara simbolik, tetapi juga dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat Papua sendiri.

Minggu, 10 Agustus 2025

Apa Masalah yang sedang Hadapi oleh Orang Gilika?

 Diskusi bersama tentang masalah-masalah Gilika yang sedang kita hadapi bersama.

setelah usai tanggal Kegiatan 



Jayapura, 10 Agustus 2025


Pertama: 

oleh, Kaka Andrian Bomol (motivator SDM masyarakat Gilika)


Masalah sedang kita pelihara walaupun ada wadah YUSIDABEUR Rayon Gilika (IYAP NANG)

kekompakan kita harus ada.

Jangan pikirin sama dengan karakter orang tua atau masyarakat di kampung kita.

Yang di Jayapura harus menyesuaikan dengan kebudayaan di kota supaya kita menjadi intektual mahasiswa Gilika yang membawanya solusi bukan bawah masalah.

Wadah YUSIDABEUR Rayon Gilika hadir untuk mempersatukan semua keluarga/masyarakat Gilika yang begitu berbeda-beda tetapi harus mempersatukan dengan wadah ini.


Kedua: 

Oleh, Kaka Yerinus Sahe (Senior Pelajar Mahasiswa Gilika)


Kita sedang proses, walaupun kita banyak masalah yang muncul di wilayah Gilika.

Tujuan kita pelajar mahasiswa Gilika adalah untuk mempersatukan semua keluarga masyarakat dan yang ada di kampung Gilika.


Ketiga: 

Oleh, Arkilaus Wabuk (Mahasiswa Teologi/pendeta)


Masalah-masalah yang di kita hadapi oleh masyarakat Gilika harus duduk diskusi, ambil solusi yang tepat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Gilika.

Supaya kedepan jangan harus seperti ini terus,l.

Mari ambil langkah strategis untuk demi kepentingan masa depan masyarakat Gilika.


Keempat: 

Oleh, Yoel Nelambo (Mana Uncen)


Anak-anak Gilika baik pelajar, mahasiswa dan keluarga. Melalui wadah KB-YUSIDABEUR Rayon Gilika, kita belajar banyak hal supaya tentang ilmu pengetahuan. Terutama anak-anak SMA datang belajar di wadah kita YUSIDABEUR.


Keempat: 

Oleh, Yuni Meke (Mahasiswa Uncen) 


KB-YUSIDABEUR Rayon Gilika 

dasar nya dari 5 Gereja GKI dan 6 kepala kampung 

Di bentuk wadah tahun 2023

Dengan tujuan kita belajar dari 5 Gereja baik orang tua, keluarga, masyarakat serta termasuk pelajar mahasiswa yang menjadi rolmodel di wadah ini.

Fakta saya lihat bahwa mahasiswa saja tidak cukup. Seharusnya kita semua masyarakat Gilika duduk diskusi tentang ambil solusi yang tepat.


Kemudian Pelajar Mahasiswa Gilika tidak punya keinginan untuk belajar di wadah ini. Padahal KB-YUSIDABEUR Rayon Gilika hadir sebagai Kaltome (Honai). Untuk mempersiapkan diri dan belajar di wadah organisasi tingkat atas.

Satu hal yang kita harus ubah adalah kekompakan dan kebersamaan kita seperti kita main bola futsal. Supaya Yubilium akan di hadir beberapa hari harus mempersiapkan dari sekarang.


Kelima:

Oleh, Andrian Bomol (Motivator SDM dan masyarakat Gilika)


Tim Penggerak mahasiswa untuk masyarakat Gilika. Kemarin gagal tidak melakukan kegiatan di kampung Gilika. Harap supaya ke depan duduk diskusi tentang bagaimana langkah strategis/rencana untuk masalah-masalah yang sedang hadapi oleh kita masyarakat Gilika.

5 Gereja yang merupakan masyarakat Gilika harus ada pemulihan supaya ada perbaikan ke depan. Untuk kepentingan masyarakat Gilika yang sekarang membeda-bedakan A dan B.

Dinamika yang sedang terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Gilika, mari semua orang duduk bersama untuk mengambil keputusan yang tepat untuk berbaikan di kalangan masyarakat, intektual dan orang tua yang sedang tidak baik-baik.


Ini kita bicara soal masa depan kita orang Gilika, bukan tentang jabatan/kapasitas bicara baru kita dengar dan satukan pemikiran bersama demi masa depan Gilika yang baik.


Kita sekolah tinggi-tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang layak tetapi tidak menyelesaikan masalah kampung berarti sama saja orang menjatuhkan diri sendiri demi kepentingan pribadi. 


Jika direkomendasi kabupaten Benawa dari pusat akan diberikan juga akan ada masalah jika sekarang juga belum menyelesaikan masalah-masalah yang sedang hadapi oleh orang Gilika (Iyap Nang).

Oleh Kaka Andi (Motivator SDM dan masyarakat Gilika)


Apakah belum ada intektual masyarakat Gilika?

Ada banyak intektual orang Gilika 

tetapi semuanya mengurung diri dalam kehidupan sehari-hari (Pendiam diri urus keluarga) yang membuat kita tidak bisa maju dan terproses bersama untuk demi masa depan Gilika.


Pelajar mahasiswa Gilika sedang terjebak dalam pemikiran orang lain artinya kita masuk dalam jerak orang lain. Kepentingan orang lain membuat kita tidak bisa bergerak untuk ambil solusi.


Masalah sedikit tetapi kebiasaan/budaya masyarakat Gilika yang masih terapkan di kehidupan sehari-hari kita. Yang membuat kita tidak bisa bergerak.


Kai tome, lobarekan (Membuka pemikiran manusia/orang Gilika baru bisa menyelesaikan masalah-masalah yang sedang kita hadapi).


Masalah pemikiran antar pembawa Injil dan masyarakat Gilika (sedang ada masalah).

Jadi kita harus duduk bersama-sama dan minta maaf secara terbuka antara pembawa Injil dan orang Gilika.

Sesi lain kita tahu bahwa kita sedang memarahi pembawa Injil sehingga harus ada minta maaf.


Sekarang itu kita harus nasihat kita diri sendiri supaya pergi ke tempat lain dapat menyesuaikan diri.


Untuk tahun ini sebenarnya program desa kasih tinggal dan alihkan program ke tim Penggerak mahasiswa untuk Gilika.

Bapak Sergius C. Bomol termasuk pembawah masalah (Aktor masalah) KEPADA masyarakat Gilika, dia bukan pembawah solusi kepada masyarakat Gilika.


Alasannya 8 gereja dan penginjil-penginjil untuk kuliah di sekolah tinggi teologi untuk menjadi pendeta. Tetapi keluar sekolah dari sekolah pendeta dan masuk sekolah pemerintahan harus ada minta maaf kepada para pembawah Injil dan masyarakat Gilika. (Dalam pembahasan nya Kaka Andi dan Yerinus).


Kesimpulan 

Melalui KB-YUSIDABEUR Rayon Gilika 

Dengan program rapat kerja dan penguatan kapasitas untuk perhatian (Atensi) kita bersama.


Penulis, 

Waniel Weth 

Mahasiswa Universitas Cenderawasih Jayapura, Papua 

Jumat, 08 Agustus 2025

Jangan OtakMu kosong seperti Penghuni Aslib Yang Makan Nasi Kosong!

Penerimaan Penghuni Baru 

Tahun 2025

Jayapura, 08 Agustus 2025


Gereja Kristen Injili di Tanah Papua 

(Anggota Persekutuan Gereja-gereja di Papua, Indonesia)

 Penerimaan Anggota Penghuni baru

Tahun 2025

Asrama Putra GKI Pdt. Silas Liborang Padang Bulan, Jayapura, Papua 

Dengan tema: Merat, Membina, Mendidik serta Mempersiapkan yang Tangguh dan Siap Bersaing.

Dalam sambutan dari ketua Asrama, Christop Mulikma.

 Penerimaan Anggota Penghuni baru di asrama ini adalah program kami pengurus dan seluruh penghuni asrama serta menjadi program wajib, dalam satu periode 2023-2025, kami adakan kegiatan 2 kali penerimaan, baik tahun 2024 (pertama) dan 2025 (kedua) hari ini.


Kenapaa kita harus melakukan Penerimaan Anggota penghuni baru Aslib?

yang pertama kita merawat asrama, mendapatkan pembinaan dari senior asrama, tangguh dan siap bersaing dengan dunia lain.

Penghuni yang di terima kali yang merupakan datang dari pedalaman Papua. Khususnya Papua pegunungan di kabupaten Yalimo, Yahukimo, Jayawijaya, dan Mamberamo Raya. Anak-anak ini belum punya tempat tinggal layak di kota studi Jayapura, sehingga ini sebagai tempat tinggal untuk menemukan masa depan melalui pendidikan formal dan non-formal.


Asrama putra GKI Pdt. S Liborang di bawah kontrol Sinode GKI Tanah Papua dan 4 klasis GKI yaitu, Klasis Yalimo Elelim, Klasis Yalimo Angguruk, Klasis Yalimo Balim, dan Klasis Memberamo Apawer.

Kenapa kita harus melakukan Penerimaan Anggota Penghuni baru di Aslib!

Karena penghuni baru Aslib datang dari perbedaan suku, budaya, dan juga wilayah administrasi serta kebiasaan hidup atau perbedaan pendapat.

Untuk mempersatukan semua itu salah satunya melakukan Penerimaan penghuni baru supaya mereka ini bersatu, kerjasama yang baik dan mengerti kedatangan mereka untuk sekolah/kuliah di Jayapura.

"Dari asrama ini kita akan belajar banyak hal seperti organisasi, ilmu pengetahuan, dan takut akan Tuhan". Unggasnya tegas, Ketua Asrama.


Saya berharap setiap materi akan dibawakan oleh setiap pemateri para penghuni baru mendengar baik serta di catat. Dalam akhiran sambutannya, ketua Asrama.


Mewakili senior,. Kakak Ruben Faluk, s.sos 

Para penghuni baru tahun 2025,

 harus semangat! Karena setelah selesai kegiatan ade-ade menjadi penghuni sah di Aslib. Semua mengikuti proses kegiatan penerimaan ini dengan baik serta setiap materi harus ade-ade paham. "Kita kakak-kakak juga pernah seperti ade-ade ikuti kegiatan penerimaan ini" ucapannya, senior Aslib.

Ade-ade penghuni baru, tinggal di asrama ini semuanya gratis hanya makanan saja kurang. Tetapi kami penghuni Aslib makan nasi kosong saja tinggal belajar dan kuliah. 

 "Asal otakmu jangan kosong seperti nasi kosong, tetapi otak kami harus pintar dari segala hal" ini merupakan kata" motivasi buat penghuni baru supaya banyak kekurangan di asrama ini tetapi tetap fokus pada pendidikan. 


Sambutan dari Sinode GKI Tanah Papua, Departemen sekretaris/bidang dijakouina, ibu Pdt Dora, yang mengurus Asrama Putra GKI Pdt.S Liborang Padang Bulan, Jayapura-Papua.


GKI Berdiri untuk Anak-anak GKI Tanah di Tanah Papua.

Anak-anak ku belajar sungguh-sungguh untuk bekerja di atas negeri Papua yang begitu indah ini. Hari ini GKI Berdiri untuk Anak-anak GKI, jangan pernah memisahkan dari GKI dan balik melawan GKI anak-anak Gki seperti kondisi PSU Provinsi Papua yang kita ketahui bersama. Ibu harap supaya senior GKI Berdiri kerja dengan fokus dan andalkan Tuhan sebagai pencipta segalanya. Manusia Papua itu kristen dalam kedaulatannya. Tetapi situasi saat ini anak-anak Papua tidak percaya Yesus. Kita punya kekayaan alam Papua begitu melimpah anak-anak GkI tanah Papua cara bagaimana mengelola dengan baik saja. Kita berdiri, bertahan, sekolah tinggi untuk menjaga negeri ini. Papua! Merdeka, merdeka, dan merdeka. 

"Tidak boleh orang rambut lurus yang kerja di atas tanah Papua". Ungkapannya hati, ibu Pdt. Dora.

Karena itu anak-anak GkI berdiri kokoh untuk bekerja. Anak-anak Papua GKI, yang hidup dan berjuang demi hidup ini serta belajar pendidikan untuk menjadi pemimpin di atas tanah Papua.

Untuk mencapai tujuan hidup yang ibu sampaikan anak tinggal di asrama ini, menjaga asrama ini dengan baik-baik. 

Penutupan sambutannya, ibu Pdt. Dorkas.

Kegiatan penerimaan penghuni Aslib tahun 2025 di buka secara resmi oleh ibu Pdt. Dora



Penulis, Waniel Weth 

64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

  64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan Sumber: AI (oleh Waniel Weth) Pendahuluan Tanggal 1 De...