peta situs

Kamis, 30 April 2026

Sejumlah Buruh bekerja merayakan May Day dan Menyampaikan Aspirasi Kepada Pemerintah

Doc: Foto saat sampaikan aspirasi kepada Pemerintah Pusat dan Daerah. 
Sabtu, 01/Mei/2026

Jayapura-Waniel Weth - Dewan Pimpinan Cabang (DPC), Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dan Masyarakat Kota Jayapura, Provinsi Papua, merayakan Hari Buruh Nasional dan Internasional di Lingkaran Abepura Kota Jayapura, Jumat, 1/Mei/2026.

Ketua DPD KSPSI, Yahya Waromi meminta tuntutan kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Papua terutama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) segara membuat Undang-undang Ketenagakerjaan dalam waktu 2 tahun. Untuk menindaklanjuti kata Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada bulan April, tahun 2025 yang lalu. 

 "Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) mengungkap bahwa pemerintah telah melakukan serap aspirasi di 13 wilayah mencakup 38 provinsi dari berbagai unsur, termasuk serikat pekerja/buruh, terkait kebijakan pengupahan, PKWT, outsourcing, dan PHK" Kata Waromi;

Menurutnya, "Tuntutan Utama 2026 (May Day): Pada 1 Mei 2026, kita Buruh menyampaikan tuntutan utama yang dikenal dengan istilah HOSTUM (Hapus Outsourcing, Tolak Upah Murah), serta menuntut pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT). Kenaikan Upah 2026 adalah harapan dan doa dari semua Buruh Indonesia" tegas Waromi. 

Sementara itu, "salah satu Buruh kerja di staf Universitas Muhammadiyah Papua, Ibu Ongge menyampaikan aspirasinya, selama ibu Ongge kerja 10 tahun tetapi upah ganji tidak pernah mendapatkan lebih tinggi, hanya standar saja dari setiap tahun. Menyebabkan saya menderita dan tidak pernah mendapatkan kesejahteraan hidup yang berkualitas'" ungkapnya;

Kami Buruh bekerja menolak usulan kenaikan UMP 2026 yang ditetapkan pemerintah dan pengusaha, serta menuntut kenaikan sebesar 8,5% hingga 10,5%. Supaya Pemerintah Daerah terutama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD segera menangkapi hal ini secara serius.




Senin, 27 April 2026

Pentingnya Kesadaran Literasi bagi kehidupan Mahasiswa dan masyarakat Papua

 

Doc: foto bersama setelah kegiatan selesai, di postingan Instragram @gatiraa. Sabtu, (25 April 2026 


Pentingnya Kesadaran Literasi bagi kehidupan Mahasiswa dan masyarakat  Papua 

Reading party : Books & Conversation
Dalam rangka hari buku sedunia (world book day) yang selenggarakan oleh komunitas Gatiraa di kafe Khlui perumnas 1 Waena, Jayapura 
Sabtu, (25/April/2026)

Sejarah Hari Buku se-dunia 

Hari Buku se-dunia (world book day) sejak pertama kali ditetapkan oleh UNISCO pada 1995, sepanjang tahun merayakan setiap tahun. Sudah 29 Tahun lalu, penetapannya di konferensi umum UNISCO ke-28 di Paris.

Setiap 23 April dipilih karena tanggal ini banyak penulis besar dunia meninggal, seperti Shakespeare dan Cervantes.

Tujuan diselenggarakannya acara ini untuk promosi membaca, kesadaran Intektual hebat, penerbitan, dan hak cipta.

Tahun 2026 ini menghayati/memperingati hari buku se-dunia yang ke-31.

Dalam kesempatan ini, Gatiraa (komunitas kecil tentang kesadaran literasi) yang diselenggarakan dengan sederhana, kegiatan baca buku bersama (together books reading).
Gatiraa mengundang mahasiswa universitas Cenderawasih terutama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Dari banyak mahasiswa yang ada, 3 orang yang mewakili mengikuti kegiatan ini. Tiga (3) mahasiswa tersebut dua orang dari program studi Pendidikan Biologi dan satu orang dari Prodi Pendidikan Sejarah.

Kegiatan reading party book conversation adalah kegiatan kepedulian komunitas Gatiraa terhadap literasi (baca tulis) di Papua. Atas realitas yang sedang di hadapi oleh seluruh orang Papua tentang kurangnya minat  membaca buku yang menyebabkan tidak bisa berpikir kritis, mengikuti kegiatan hiburan saja dan dampaknya bisa dimanfaatkan oleh pihak bersangkutan. Karena kebodohan diri sendiri, serta tidak bisa melihat kehidupan sosial yang terjadi dimana-mana.

Dengan itu, Gatiraa mem -bergerak hati untuk membukakan pintu jalannya intektual yang berkualitas dari Timur Indonesia secara luas.

Narasumber terhebat (Kak Ohcy, educreator dan penulis buku 'Bagaimana jika")

Gatiraa hadirkan kegiatan hari buku sedunia, dengan narasumber yang luar biasa. Yaitu kak Ohcy educreator dan penulis buku " Bagaimana Jika". Dengan kak ohcy sangat memahami tentang pendidikan di Papua dan bagaimana anak-anak Papua belajar sesuai kontekstual Papua. Supaya pendidikan tidak jauh dari luar Papua tetapi belajar dari daerah nya sendiri.
Dengan berpikir kritis dan kreatif dalam kehidupan manusia. Kak Ohcy mengajarkan 3 mindset yang berkualitas tentang perilaku manusia untuk bersosial dalam masyarakat.

Dalam perjalanan kehidupan manusia sering muncul  rasa ingin tahu dan ambisi instraksi sosial tinggi untuk kemaknaan hidup sesungguhnya. Kak Ohcy menjelaskan secara sederhana sehingga peserta lebih 10 orang ikut sangat menikmati proses belajarnya.
selanjutnya, membaca buku masing-masing dan sharing apa yang dipelajari serta terakhir main gemas di buku tentang "Bagaimana jika" bersama kak Ohcy penulis bukunya. 
Buku ini sangat inspiratif bagi banyak orang. Singkat tetapi kena di sasaran untuk membedakan kehidupan manusia secara baik dan buruk. 

Diskusi Bersama dengan pihak Gatiraa dan kak Ohcy 

Pesan disampaikan dari Kak Ohcy dan pendiri Gatiraa kepada perwakilan mahasiswa FKIP Universitas Cenderawasih.
Harap kerjasamanya untuk mengadakan kegiatan Penggerak literasi kepada sesama mahasiswa dan masyarakat Papua. Supaya kesadaran manusia untuk memanusiakan manusia muncul dari peran literasi secara efektif terhadap semua pihak.

Jika FKIP UNCEN membutuhkan literasi secara umum, kami terbuka sekali untuk sama-sama menjalankan hal positif (pendidikan) kepada mahasiswa Papua, supaya menjadi guru profesional dan mengubah peradaban Pendidikan secara nyata.

Curhatan dan Pembayaran mandiri Waniel Weth 

Waniel Weth, mahasiswa pendidikan sejarah sangat berterima kasih karena selama Waniel selama tinggal di Jayapura tidak pernah mengikuti kegiatan seperti ini.
Waniel Weth, sebelum ikut kegiatan, sempat chat di grup WA (curhat), tentang pembayaran untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dan perpaksa bayar secara mandiri.
Untuk manfaat nya saya mendapatkan banyak hal positif. Terima kasih semuanya. 

Dicatat oleh Waniel Weth (Mahasiswa Prodi Pendidikan sejarah FKIP-UNCEN)

Salam literasi untuk seluruh mahasiswa Papua 🤝














Jumat, 03 April 2026

Komai, terinspirasi dari kisah perjuangan Atinus Meke, seorang Mahasiswa Uncen

 Komai, terinspirasi dari kisah perjuangan Atinus Meke, seorang Mahasiswa Uncen 

Foto orang tua, Yonas Meke, Desember 2025


KOMAI WAE AMLA 

(Seorang menggunakan Koteka)  

Suku Yalinimi Masyarakat Papua Pegunungan 


Koteka sebagai pakaian adat Papua Pegunungan,

Dalam tradisi hidup nenek moyang suku Yale nimi (Mek sekarang) Koteka bernilai tinggi untuk menutup kemaluan laki-laki, dan tidak ada hal yang untuk ditertawakan oleh pihak lain. Artinya seseorang menggunakan Koteka di depan banyak orang (publik) adalah hal normal bagi kehidupan suku Besar Yali & Mek.


Dalam skripsinya, (Anis Weth, 2024) mengatakan bahwa sistem kekerabatan sosial di kampung Lulun dan sekitarnya, masyarakat menggunakan komai sebagai pakaian adat, identitas bangsa, kebiasaan hidup yang secara sah. Tidak hal yang meremehkan budaya Koteka dari masyarakat imigran Barat yang datang melihat budaya Papua, lebih khususnya menikmati keindahan, kebiasaan hidup masyarakat dari pegunungan Papua.

Dengan demikian Koteka adalah pakaian adat istiadat suku dari Pegunungan Papua yang secara sah. Negara RI wajib mengakui budaya masyarakat yang menggunakan Koteka pakaian adat karena budaya adalah cipta rasa karya yang secara kreatif dan unik dari Papua Pegunungan.


Jenis-jenis Koteka (Komai fene)

1. Koteka (komai makne) koteka kecil yang biasa tanam di halaman rumah. Berfungsi untuk menutup kemaluan pria. 

2. Koteka Besar (Komai nubu engge) Komai ini disimpan bibit nya untuk menanam kembali ke tanah yang subur dan baik.

Karena tulang/kulit komai besar, sehingga berguna untuk bibitnya saja. Tetapi yang kecil juga ambil bibitnya demi menanam kembali.


Proses Tanam komai & menyimpan komai 

a. Tahapan menanam (komai memnep)

  Bibit nya komai yang sudah disimpan kering, itu taruh/menanam di tanah yang bagus. Sering menanam di halaman rumah yang tanahnya hitam. Supaya setelah di tanam langsung tubuh dengan baik. Biasanya komai harus ada tempat melintang kayu, tujuan perkembangan tumbuhan komai berjalan lancar dan berbuah.

b. Menyimpan Komai (Komai Pai amnep ae ak) Komai sudah tua berarti dipetik, bawah ke rumah untuk melakukan kubur di api, tujuannya panas dan mengeluarkan daging dari dalam komai, selanjutnya menyimpan di atas asap api (UK hin ak) supaya komai kering dan siap dipakai oleh seseorang. Jika kering bisa ikat dengan daun-daun seperti daun buah merah untuk diikat dan menyimpan di honai.


Untuk komai setiap orang dewasa sekitar umur 12-15 tahun, yang layak menggunakan komai sebagai orang yang dewasa secara sah pada umumnya.

Baik  dari nenek moyang sampai Injil masuk di wilayah ini. Injil masuk dan menghilangkan budaya menggunakan Koteka bagi orang Yalimek secara umumnya. Pembawa Injil (Allah Yubu) dari Suku Yali kepada Suku Yalinimi, Mek sekitar tahun 1982.


Tetapi sampai saat ini, orang tua dari kampung Thamak, Tiple, saolom, dan Gilika masih menggunakan komai. Walaupun orang lain sudah terbiasa dengan pakaian modern.


Buktinya, Yonas Meke atau (dipanggil dengan nama Yonathan Meke) dari kampung Thamak, masih menggunakan komai, sebagai pakaian adat identitas diri tidak bisa melepaskan. 


Orang tua, Yonathan Meke masih menggunakan Koteka sampai hari ini, Desember 2025 kemarin saya bicara dengan orang tua ini, sempat ada liburan ke kampung asalnya Wahalu, Gilika. 


Latar Belakang Yonathan Meke berasal dari Kampung Wahalu, Gilika. Tetapi dulu sekitar tahun 1970-an ia pergi imigrasi ke kampung Thamak. Karena keluarga Meke, dari kampung Wahalu ditinggalkan, sebab dianggap sebagai anak yatim-piatu. Sehingga tidak bisa memperhatikan dari Marga Meke.

Namun itu, Yonathan Meke pergi merantau ke Thamak untuk tinggal disitu dengan keluarga kerabat seperti Lukas Auk dan ada berapa orang lainnya. Tinggal menetap di kampung ini dan kawin dengan perempuan dari kampung merengman, sudah mempunyai anak-anak.

Sampai saat ini Yonathan tidak bisa balik ke kampung Wahalu. Karena sudah terdaftar sebagai kk di kampung ini selamanya.


Anak pertama dari bapak Yonathan adalah Atinus Meke.

Atinus Meke, Sekarang kuliah di Universitas Cenderawasih di fakultas Ekonomi dan Bisnis, pada jurusan/program studi Ekonomi Pembangunan.

Tahun 2026 ini  Atinus berstatus sebagai mahasiswa aktif pada semester IV (Empat), sedang mengikuti proses belajar mengajar di kampus nya.


Bapaknya, Yonathan Meke, sempat sakit di tahun 2024, pada saat itu Atinus Lulus SMA di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan.

Atinus dengar informasi bulan juli 2024, bahwa ayahnya sakit di kampung Thamak, distrik Welarek. 


Akhirnya Atinus berangkat ke kampung, Distrik Welarek menggunakan pesawat kecil. 


Tiba di Welarek, Atinus langsung pergi ke Kampung Thamak, sekitar 3/5 jam dalam perjalanan kaki. 

Tiba di kampung dengan kekhawatiran atas sakit orang tuanya. Ketemu dengan orang tua, Yonathan, anak selamat datang, saya tidak bisa hidup lagi (Name wali yalam Sempan, nai sumane naikna malioro delamnel).


Ah, nai mali danu alam kom yang artinya Bapak tidak akan meninggal.


Hari itu  tidur di kampung dengan orang tua. Hari besoknya, sekitar jam 5-6 pagi Atinus mengendong ayahnya. Naik ke Welarek berjalan kaki, Atinus tidak minta bantuan ke orang lain, tetapi Atinus sendiri; 


Di kampung Thamak, sebenarnya di kampung ini ada lapangan terbang untuk pesawat kecil.

Tetapi belum ada jadwal penerbangan untuk melayani masyarakat. Kecuali pesawat pakai yang bisa melayani di kampung Thamak.


Sampai di Welarek, pukul 10.30 WIT, Atinus tanya ke pegawai/karyawan Bandara Welarek.

Petugas karyawan, diinformasikan bahwa ada pesawat kecil. Tujuh ke Wamena, langsung Atinus beli tiket pesawat.


Pukul 12.45 WIT tiba wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.


Hari esoknya Atinus mau beli tiket pesawat tujuan ke Jayapura tetapi orang tuanya, tidak mau menggunakan pesawat, dengan alasan takut mati/meninggal di dalam pesawat.

Akhirnya Atinus ambil langkah strategis untuk jalan darat menggunakan mobil ke Jayapura. 


Meke bergerak untuk memastikan mobil tujuan ke Elelim, kab. Yalimo. Tapi di jalan trans Elelim-Wamena ada balang di tengah jalan.

 Atinus memikirkan caranya untuk hari itu juga bisa ke Elelim, jadi Atinus pakai mobil, tujuan berjalanan ke Elelim tetapi harus ikut jalan Kab.  Tolikara, akan tembus di tengah jalan trans Elelim-Wamena.

Tiba Elelim dengan selamat, Atinus tidak mau tinggal lama-lama di Elelim. Akan lanjutkan berjanan ke Jayapura menggunakan jalan trans Papua.

Tetap Atinus dengan ayahku sakit ikut berjalanan darat (mobil) ke Jayapura 2 hari.

Sampai di Jayapura, Atinus membawa ayahnya RSUD Dok 2, pada periksa dari tim medis bilang belum ada sakit.

Walaupun ayahnya sakit memang, Atinus tidak mau berdebat disitu.

Bergerak hatinya untuk membawa lagi ke rumah sakit lain yang ada di Jayapura.


Pada akhirnya orangtua Yonhtan sedikit membaik karena sudah minum obat.


Atinus bilang ke ayahnya, saya pergi tes ujian mandiri kampus di Uncen.

Ayahnya, bilang dengan Bahasa Yale/Mek 

(Nai pilam luam, wene nen wali wannati) yang artinya silahkan anak pergi tes, ayah sekarang sudah membaik jadi akan tinggal di rumah.


Atinus dan ayahnya, Yonatan habiskan satu bulan di Jayapura.


Atinus dengar begini, sudah lulus ujian di kampus universitas Cenderawasih Jayapura, di program studi Ekonomi Pembangunan.

Atinus senang sekali, karena sebuah perjuangan panjang ia lakukan seperti ambil ayah di kampung, membawa ke Jayapura sudah sembuh sampai hari ini masih baik kesehatan ayahnya.

Atinus juga bisa lulus ujian, menjadi mahasiswa baru di UNCEN tahun 2024.


Ayahnya sudah sembuh total sakitnya yang menderita, Atinus antar ayahnya ke kampung dan balik lanjutkan kuliah sebagai mahasiswa Uncen pada (semester I) di fakultas ekonomi dan bisnis universitas Cenderawasih (UNCEN) Jayapura. Sampai hari ini Atinus sebagai mahasiswa aktif di Uncen Jayapura.


Atinus terinspirasi & moral bagi anak-anak Papua yang lainnya bahwa:

1. Atinus mengurus ayahnya yang sakit sekaligus mengejar masa depannya.

2. Teman-temannya fokus masuk perguruan tinggi negeri dan swasta. Atinus berusaha untuk menyelamatkan ayah yang begitu menderita dengan sakit yang cukup tergolong. Atinus tidak menyerah dengan kehidupan ini. Tetapi usaha Atinus adalah membawanya orang tua dari di kampung ke kota. Karena di kampung belum ada tempat pelayanan kesehatan untuk melayani masyarakat yang sakit/menderita.

3. Mahasiswa adalah pembawa solusi bagi masyarakat seperti menolong orang tua, membantu orang sekitar yang membutuhkan tetapi juga kita terus mengejar masa depan dengan penuh perjuangan.

4. Atinus memberikan contoh kepada mahasiswa Papua yang lainnya bahwa jika orang tua kita sakit berarti kita harus usahakan orang tua kita membawa ke rumah sakit. Supaya dapat tertolong dari penyakit-penyakit nya.


Walaupun aktivitas kuliah padat tetapi kita Mahasiswa bagi waktu belajar menyesuaikan dengan terjadwal. Supaya dampak ilmu pengetahuan yang kita perjuangkan itu dapat bermanfaat bagi keluarga, komunitas, dan negara.


Penulis, Waniel Weth 

Jayapura, 4 April 2026





Selasa, 31 Maret 2026

UK SEGEN KONG-KONG NA API BERASAL DARI TALI & KAYU KERING 🔥 Sebuh Analisis Berdasarkan Pengalaman Praktis dari Suku Yalenimi, Papua pegunungan

 NANGKABO..(Salam Buat Semuanya)

UK SEGEN KONG-KONG NA

API BERASAL DARI TALI & KAYU KERING 🔥

Sebuh Analisis Berdasarkan Pengalaman Praktis dari Suku Yalenimi, Papua pegunungan 

Oleh : Waniel Weth 

_________________________________


     Dokumentasi: Bakar Batu di kabupaten Yalimo Papua Pegunungan 

    Februari 2026


UK  = Api 

SEGEN = Tali Kering

KONG-KONG NA = Kayu Kering 


1. Sejarah Uk

Uk berasal dari kayu dan tali gesekan secara persamaan oleh seseorang, sehingga hasilnya menjadi api. Proses itu disebut "gesekan" atau "frikasi" dalam fisika. Ketika kayu dan tali digosokkan bersama, energi kinetik diubah menjadi energi panas, sehingga suhu meningkat dan memicu reaksi kimia yang menghasilkan api.


Dalam fisika, proses ini dikenal sebagai "konversi energi mekanik menjadi energi termal" melalui gesekan. 


Dengan demikian usaha manusia untuk membuahkan hasilnya (UK/API).


Sehingga bisa masak hasil kebun dan makan.


Cerita mitos (uk samen dane)

Dari orang ke orang lain 

Yang artinya orang keluar dari dari satu wilayah ke wilayah lain bawah api mengunakan noken yang rusak, supaya tidak bisa padam.

Dan orang lihat asap, jadi mereka datang ambil api di orang dengan sapaan kata naro atau nangkae yang artinya Kaka / teman/sabat 

a. Naro 

Pertama datang minta api dengan kata "Naro" berarti tidak bisa kawin karena adik Kaka (Eldo naipsae) Sampai hari ini orang tidak bisa kawin. Contohnya 

Klen Marga Mirin dan Marga sa'e/Tibul.

b. Nangkae (teman/saudara luar)

Seseorang datang ke orang yang punya api l, datang berkata "Nangkae" berarti klen marga yang punya api dan datang minta api bisa kawin. Tradisi ini, sampai hari ini pun ada di pedalaman Papua.


2. Pemilih kayu dan tali 

1. Kayu kering (Kal Ul)

Kayu yang bagus yang biasa orang gunakan tidak sembarang kayu.

Di masyarakat kampung Lulun mengunakan kayu (sabla ul), kwelm ul, serek ul, dan sebagainya. Ul artinya kayu kering.


2. Tali (Hing)

Hing biasanya memiliki kekuatan untuk pengecekan kayu, tali yang kering (hing ul) orang biasa taruh di atas asap supaya menjadi hitam dan kering yang berkualitas.


Suku Bangsa masyarakat kampung Lulun, kabupaten Yahukimo Papua Pegunungan mengunakan tali sao, ju hing, boreng, dan a'al 

membersihkan dengan baik, jemur di atas asap api atau dalam bahasa kampung Lulun (ukhinak) supaya dapat kering dengan baik.

Suku Bangsa ini, ingin masak bakar batu, bikin kebun, berburu di hutan dan sebagainya harus ada uk. Supaya bisa menjalankan aktivitas kebun, bakar batu. 


Orang (Nimi) itu harus isi uk segen supaya mau isap rokok, masak makan, bikin kebun baru, tidur honai kecil-besar, orang harus melakukan gesekan uk supaya menjadi api nyala yang baik berguna.

Daun kering sama-sama taruh adalah daun buah merah yang kering (ken ma'al olonga soa) setelah itu tarik gesekan tali tanpa kayu supaya bis jadi api.


Tali dan kayu tidak basah, kena air, jika kena air berarti tidak bisa menyala. Dengan itu harus diikat dengan baik, simpan di tempat yang aman supaya tidak kena basah air.


Untuk tarik gesekan kayu kering dan tali itu harus kuat orangnya 

Jika badan lemah berarti tidak bisa menjadi bentuk api.

Misalnya orang tua, anak-anak kecil tidak bisa melakukan gesekan tali dan kayu kering. Karena badan energi tidak kuat. 


3. Proses menyimpan api 

1. UK kalkahe hao weretop

Kubur kayu yang ada api ke dalam sedang menyala di tempat bakar.

2. UK ak gelikin simpan api di noken robek.

Menyimpan api dengan noken yang rusak.

3. UK ubul bi (Ambil api di keluarga sekitar)

Ambil uk di lingkungan sekitar usaha manusia untuk bisa masak makan, memberikan hangat badan dan pasang api  dikebun baru. 

Cerita mama walina (nari kainnti) jika ambil api di tetangga itu takut karena jangan sampai mereka marah, memukul kita, dan tidak di kasih seperti anak yatim piatu yang pergi meminta api orang tidak bisa memberikan api.


4. Uk di honai kecil dan honai besar (uk kelmabo ae ak, uk yawi ae ak)

1. Api di honai kecil perempuan, kebi masyarakat kampung Lulun, di rumah kecil tempat tidur perempuan, anak-anak kecil, tempat kubur ubi, bakar pisang, bakar batu kecil untuk masak sayur. Jadi pria makan dulu sebelum pergi ke honai besar, karena honai kecil yang dia buat untuk keluarga nya. Dia diwajibkan tidur di honai besar (mem yawi ae ak).

2. Api di honai besar (uk yawi ae ak)

semua laki-laki di kampung itu biasa tidur honai baik orang tua laki-laki, dewasa, pemuda serta anak-anak kecil ukuran 10 tahun.

Setelah orang beraktivitas kebun, makan hasil kebun, orang datang tidur di honai besar khusus pria.

Di yawiak bisa masak ubi, ubi jalar, pisang dan sebagainya makan sama-sama di honai.

Jam 5 sore orang bawa kayu api dari kebun, masing-masing pria wajib membawa kayu api untuk honai kecil besar. Supaya pada saat tidur tidak dingin karena api nyala menghangatkan tubuh badan orang.

Jam 4-5 sudah orang bangun baik laki-laki maupun perempuan, tetapi laki-laki yang duluan bangun, yang sudah bangun itu bisa cerita, makan ubi yang dikubur dari api, bakar pisang dan lain sebagainya. Jadi pergi ke honai kecil hanya tanpa makan saja. Sudah makan sarapan di honai besar yang sudah kenyang berarti langsung pergi kebun.

Orang-orang disini bisanya bagi tugas seperti ada yang ambil ubi, sayuran, bikin kebun, dan masak supaya aktivitas berjalan lancar.


Maknanya orang kampung Lulun api adalah cermin kehidupan manusia dan lambang kekuatan yang dari nenek moyang digunakan sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk memasak makanan dari hasil kebun.

Dan kehidupan mereka tergantung pada alam,   jadi setiap wilayah baik barat, timur, selatan, uatar dibagi berdasarkan kekuasaan tanah adat. Yang memiliki tempat yang bisa bagi wilayah tetapi tidak ingin bagi juga tidak salahnya, seluruh aktivitas kebun ubi, kelari dan sayur dibagi berdasarkan klen marga.

Namun itu, marga pendatang (janan nimi) itu pendekatan ke yang punya pemilik tanah supaya (mo sao dam nimi) bisa bagi tanah.


Dengan begitu seluruh kebun, sayur, tempat berburu masing-masing marga. Jika pencurian maka ada tenda bayar babi, ganti, minta maaf. Dulu biasa melakukan perang keluarga baik secara terbuka maupun secara sembunyi.


Dengan demikian api sangat bermanfaat bagi kehidupan orang, kita bisa mempertahankan energi kehidupan sehari-hari dengan penuh bermakna, jika kita masak makan dari hasil usaha manusia baik hasil bumi yang ada. 


Jayapura, 1 April 2026





Minggu, 18 Januari 2026

Pelajar, Mahasiswa, dan Warga Elelim Turun Langsung Bersihkan Sampah, Kritik Minimnya Perhatian Pemkab. Yalimo (Senin, 19 Januari 2026)

 

     Doc: Foto kebersihan lingkungan sampah. Senin, 19/01/26|09.30 WIT.

Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan— Kondisi kebersihan lingkungan di Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, kian memprihatinkan akibat penumpukan sampah yang tidak tertangani dengan baik. Menyikapi hal tersebut, pelajar, mahasiswa, dan warga masyarakat Elelim mengambil langkah nyata dengan (turun langsung membersihkan lingkungan), tanpa menunggu tindakan dari pemerintah daerah.

Aksi peduli kebersihan ini, (dimulai pada Senin, 19 Januari 2026), dan direncanakan berlangsung selama "dua hingga tiga hari ke depan". Kegiatan difokuskan pada "pembersihan sampah di jalan umum, pemukiman warga, sekitar sekolah, dan fasilitas umum" di Distrik Elelim.

Para peserta menegaskan bahwa gerakan ini "bukan sekadar wacana atau pernyataan sikap", melainkan "aksi nyata di lapangan" sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Mereka juga menyampaikan "kritik terbuka terhadap Pemerintah Kabupaten Yalimo" yang dinilai "kurang memberikan perhatian serius terhadap pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan", khususnya di ibu kota distrik.

“Kami tidak hanya bicara. Kami langsung turun tangan membersihkan lingkungan kami sendiri. Aksi ini akan berlangsung selama dua sampai tiga hari ke depan. Kami ingin menunjukkan bahwa perubahan harus dimulai dari tindakan nyata,” ujar salah satu koordinator kegiatan di Elelim.

Menurut warga, sampah yang menumpuk selama ini telah mengganggu aktivitas masyarakat dan berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. Mereka berharap pemerintah daerah segera "menyediakan fasilitas tempat pembuangan sampah, sistem pengangkutan rutin, serta program kebersihan yang berkelanjutan".

Aksi kebersihan ini juga melibatkan "Waniel Weth", salah satu "calon peserta Papua–Maluku Digital Bootcamp (PMDB 2025)", yang merupakan "mahasiswa asal Kabupaten Yalimo dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Cenderawasih (UNCEN), Jayapura". Kehadiran Waniel menjadi simbol kepedulian mahasiswa Yalimo di perantauan terhadap kondisi daerah asalnya.

Waniel menegaskan bahwa mahasiswa memiliki "tanggung jawab moral dan sosial" untuk terlibat langsung dalam persoalan masyarakat, termasuk masalah lingkungan.

“Sebagai mahasiswa, kami tidak bisa hanya menyampaikan kritik. Kami harus turun langsung, bekerja bersama masyarakat, dan memberi contoh. Lingkungan yang bersih adalah dasar bagi kesehatan, pendidikan, dan masa depan generasi Yalimo,” tegasnya.

Melalui aksi ini, pelajar, mahasiswa, dan warga Elelim berharap "Pemerintah Kabupaten Yalimo dapat melihat kondisi riil di lapangan" dan segera mengambil langkah konkret dalam penanganan sampah. Mereka menekankan bahwa "kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama", namun tetap membutuhkan "peran aktif dan kebijakan nyata dari pemerintah daerah".

Aksi berlangsung dengan tertib dan penuh semangat gotong royong, sebagai wujud kepedulian masyarakat Distrik Elelim demi menciptakan "lingkungan yang bersih, sehat, dan layak huni".


Penulis, Waniel Weth

Mahasiswa kab. Yalimo 


Minggu, 30 November 2025

64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

 


64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

Sumber: AI (oleh Waniel Weth)


Pendahuluan


Tanggal 1 Desember setiap tahun adalah salah satu tanggal paling penting dalam sejarah Papua. Bagi sebagian masyarakat Papua—khususnya kelompok pro-kemerdekaan—tanggal ini bukan sekadar momentum politik, tetapi simbol identitas, perjuangan, dan memori kolektif. Tahun 2025 menandai 64 tahun sejak 1 Desember 1961, ketika Dewan Nieuw Guinea (Nieuw Guinea Raad) mengesahkan simbol-simbol nasional Papoea: Bintang Kejora, lagu “Hai Tanahku Papua”, dan rancangan struktur negara.


Bagi masyarakat pro-kemerdekaan, 1 Desember dipahami sebagai “hari kelahiran bangsa Papua modern”. Namun bagi pemerintah Indonesia, tanggal ini tidak dianggap sebagai hari kemerdekaan. Perbedaan persepsi inilah yang menjadi sumber ketegangan politik selama lebih dari enam dekade.


Artikel ini tidak memihak pada agenda politik apa pun; tujuannya memberikan pemahaman historis dan ilmiah mengenai makna 1 Desember, perubahan politik Papua sejak 1961, dan dampaknya bagi masyarakat Papua hingga tahun 2025.



1. Sejarah 1 Desember 1961


1.1. Sidang Nieuw Guinea Raad


Pada tahun 1961, Belanda memberikan peluang bagi rakyat Papua untuk mulai mempersiapkan pemerintahan sendiri. Melalui Dewan Nieuw Guinea:


Bendera Bintang Kejora dikibarkan sebagai simbol nasional Papua


Lagu Hai Tanahku Papua diresmikan


Nama bangsa Papoea dipakai secara resmi


Ditetapkan rencana kemerdekaan bertahap dalam beberapa tahun



Tanggal 1 Desember 1961 kemudian menjadi simbol “kelahiran politik” bagi sebagian besar rakyat Papua.


1.2. Konflik dengan Indonesia


Indonesia, di bawah Presiden Soekarno, menolak rencana Belanda dan menganggap Papua bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Pada 19 Desember 1961, Soekarno mengumumkan Trikora untuk “merebut Irian Barat”.


Ketegangan meningkat hingga:


Perjanjian New York 1962 (tanpa perwakilan Papua),


Masuknya pasukan Indonesia,


Penyerahan UNTEA 1963,


Pepera 1969 yang kontroversial.



2. Mengapa 1 Desember Dirayakan Setiap Tahun?


2.1. Simbol Identitas


Bagi banyak orang Papua, 1 Desember melambangkan:


pengakuan identitas nasional,


sejarah yang dihapus negara,


harga diri kolektif,


simbol bahwa mereka bukan hanya “daerah” tetapi “bangsa”.



2.2. Mengingat Luka Sejarah


Peralihan kekuasaan dari Belanda ke Indonesia menimbulkan:


operasi militer,


pelanggaran HAM,


pemaksaan politik,


hilangnya simbol Papua.



Peristiwa-peristiwa ini membentuk memori trauma yang masih dirasakan hingga generasi 2025.


2.3. Resistensi Damai


Kelompok pro-kemerdekaan merayakan 1 Desember sebagai bentuk perlawanan damai, ekspresi hak politik, dan penguatan identitas. Sebagian mengibarkan Bintang Kejora, sebagian menggelar ibadah syukur, renungan, atau aksi damai.



3. Mengapa 2025 Disebut 64 Tahun?


Perhitungan 64 tahun berasal dari:


2025 – 1961 = 64 tahun


Artinya:


> Sudah enam dekade lebih sejak Papua pertama kali mendeklarasikan simbol kenegaraan modernnya.



Selama 64 tahun tersebut, masyarakat Papua mengalami:


integrasi paksa,


perubahan politik besar,


mobilisasi penduduk dari luar Papua,


pembangunan yang tidak merata,


konflik berkepanjangan.



4. Kondisi Papua Selama 64 Tahun Bersama Indonesia


4.1. Ekonomi dan Pembangunan


Papua tetap menjadi wilayah:


termiskin di Indonesia,


infrastruktur tertinggal,


angka gizi buruk tinggi,


kematian ibu dan anak tertinggi nasional.



Walaupun sumber daya alam melimpah, manfaatnya tidak dinikmati mayoritas orang asli Papua.


4.2. Konflik dan Keamanan


Konflik antara aparat dan kelompok bersenjata berlangsung sejak 1960-an hingga 2025, menyebabkan:


pengungsian massal,


kematian warga sipil,


trauma turun-temurun.



4.3. Demokrasi yang Terbatas


Ruang berekspresi sering dibatasi:


pembubaran aksi damai,


pelarangan simbol identitas,


kriminalisasi aktivis.



Hal ini memicu persepsi bahwa Papua tidak diperlakukan sebagai warga negara yang setara.



5. Makna 1 Desember bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan


5.1. Hari Kebangkitan Identitas


Ini adalah hari untuk:


merayakan jati diri,


mengenang leluhur,


menguatkan solidaritas sesama orang Papua.



5.2. Hari Perjuangan Damai


Banyak kelompok memaknai 1 Desember sebagai:


momentum refleksi,


doa perdamaian,


pendidikan politik,


memperkuat hak-hak masyarakat adat.



5.3. Hari Pengingat Ketidakadilan


Sebagian masyarakat mengingat:


sejarah politik yang tidak adil,


penindasan,


ketidakmerataan pembangunan,


hilangnya tanah adat dan budaya.



6. Sikap Pemerintah Indonesia


Pemerintah Indonesia melihat 1 Desember sebagai:


bagian dari gerakan separatisme,


ancaman terhadap kedaulatan negara,


simbol politik yang dilarang.



Namun pendekatan keamanan yang dominan justru mempertajam luka sejarah. Sejumlah akademisi Indonesia sendiri menilai bahwa:


> Papua tidak akan damai tanpa dialog bermartabat, keadilan, dan penghormatan identitas.



7. Apa Harapan Papua di Usia 64 Tahun Ini?


Terlepas dari perbedaan pandangan politik, mayoritas masyarakat Papua menginginkan:


penghentian kekerasan,


hak hidup aman,


pemulihan martabat budaya,


ruang demokrasi lebih bebas,


pembangunan manusia yang merata,


reformasi kebijakan Otsus,


dialog sejati Jakarta–Papua.



Generasi muda Papua ingin masa depan yang:


berakar pada budaya,


intelektual,


damai,


bermartabat.



Penutup


Tanggal 1 Desember 1961–2025 bukan sekadar sejarah, tetapi pengalaman hidup selama 64 tahun yang membentuk identitas dan perjuangan masyarakat Papua.


Bagi kelompok pro-kemerdekaan, hari ini:


adalah tanda kelahiran bangsa,


simbol harga diri,


refleksi luka sejarah,


dan harapan masa depan.


Tugas generasi kini bukan memperpanjang konflik, tetapi mencari jalan damai, keadilan, dan pengakuan martabat manusia di tanah Papua.


Senin, 24 November 2025

Injil, Kolonialisme, dan Hilangnya Budaya Lokal: Kajian Kritis Proses Kristenisasi di Papua

 


Oleh: Waniel Weth

Mahasiswa Program Studi Sejarah

Universitas Cenderawasih


Abstrak

Masuknya kekristenan ke Papua sejak abad ke-19 membawa dampak besar dalam perubahan struktur sosial, budaya, dan sistem kepercayaan masyarakat adat. Di balik narasi modernisasi dan pendidikan, terdapat proses hegemoni budaya yang menggeser praktik leluhur, ritual adat, dan identitas spiritual masyarakat Papua. Artikel ini mengkaji hubungan antara agama Kristen, kolonialisme, dan perubahan budaya di Papua melalui pendekatan sejarah kritis dan teori poskolonial. Temuan menunjukkan bahwa Injil tidak hanya berfungsi sebagai ajaran spiritual, tetapi juga instrumen kekuasaan yang membentuk pola pikir, identitas, dan orientasi budaya baru dalam masyarakat Papua.


Kata kunci: Papua, Injil, kolonialisme, budaya lokal, misi Kristen



Pendahuluan

Papua merupakan salah satu wilayah terakhir di Nusantara yang mengalami kontak langsung dengan misionaris Kristen. Kehadiran agama Kristen sering dipandang sebagai tonggak perubahan menuju pendidikan, kesehatan, dan modernitas (Giay, 1995). Namun perubahan ini membawa konsekuensi serius: terjadinya penghapusan sistem kepercayaan leluhur dan transformasi budaya melalui legitimasi agama.

Pertanyaan utama yang dikaji dalam tulisan ini adalah: Bagaimana penyebaran Injil berpengaruh terhadap hilangnya budaya tradisional Papua dan kepercayaan kepada leluhur?



Pembahasan

1. Sistem Kepercayaan Papua Sebelum Kristenisasi

Sebelum kedatangan misionaris, masyarakat Papua memiliki sistem spiritual berbasis relasi antara manusia, alam, roh leluhur, dan dunia sakral (Kamma, 1976). Upacara adat seperti tarian perang, penyembuhan tradisional, dan simbol-simbol sakral bukan sekadar ritual, tetapi sistem pengetahuan (indigenous knowledge system).

Namun, ketika misionaris tiba, praktik tersebut dilabeli sebagai pagan, kafir, dan penyembahan berhala (Hylkema, 2008).

2. Injil sebagai Instrumen Hegemoni Budaya

Kedatangan misionaris Protestan (1855) dan Katolik (1896) bukan hanya memperkenalkan agama baru, tetapi juga budaya Barat, seperti:

Sistem pendidikan formal

Cara berpakaian Barat

Struktur keluarga monogami

Bahasa asing sebagai bahasa ibadah

Menurut Said (1978), dominasi budaya melalui agama adalah bagian dari proyek orientalism kolonial. Di Papua, injil menjadi alat untuk membangun mentalitas tunduk dan merusak identitas kultural lokal (Giay, 2020).

3. Kolonialisme Rohani dan Transformasi Identitas

Proses kristenisasi beriringan dengan kekuasaan kolonial Belanda. Sekolah zending menghasilkan generasi Papua yang menjauhi budaya adat karena dianggap “dosa” (Widjojo, 2013). Akibatnya terjadi:

Alienasi identitas

Rasa inferior budaya lokal

Pemutusan hubungan kosmos-leluhur

Fanon (1963) menyebut kondisi ini sebagai colonial psychological subjugation—penjajahan mental dan spiritual.

4. Dampak pada Budaya dan Struktur Sosial

Beberapa perubahan yang muncul akibat penetrasi agama dan kolonialisme antara lain:


Aspek

Sebelum Injil

Setelah Kristenisasi

Sistem Kepercayaan

Leluhur & roh alam

Agama Kristen terpusat

Sosial

Kolektif-komunal

Individual dan institusional

Simbol budaya

Sakral

Dilarang/dipandang kafir

Ekspresi budaya

Bebas ritual adat

Dibatasi gereja

(Sumber: Kamma, 1976; Giay, 1995)

5. Gerakan Dekolonisasi Budaya Papua

Memasuki abad ke-21, muncul gerakan teologi kontekstual yang berusaha menegosiasikan hubungan antara adat dan Injil. Beberapa gereja mulai memasukkan unsur budaya lokal dalam ibadah sebagai upaya rekonsiliasi identitas (Roy, 2011).

Penutup

Kehadiran Injil di Papua tidak dapat dipisahkan dari agenda kolonial yang secara sistematis mengubah identitas masyarakat Papua. Meskipun kekristenan membawa pendidikan dan transformasi sosial, prosesnya juga menghapus atau memarginalkan budaya leluhur dan sistem spiritual setempat.

Dekolonisasi spiritual dan budaya di Papua menjadi kebutuhan penting agar masyarakat Papua tidak melihat adat sebagai dosa, tetapi sebagai bagian sah dari identitas historis dan teologis.





Daftar Pustaka

Fanon, F. (1963). The Wretched of the Earth. New York: Grove Press.

Giay, B. (1995). Menuju Papua Baru. Jayapura: Deiyai Press.

Giay, B. (2020). Agama dan Identitas Papua. Jayapura: Penerbit STT Walter Post.

Hylkema, T. (2008). Mission and Culture in Papua. Leiden: KITLV Press.

Kamma, F.C. (1976). Koreri: Messianism in Papua. The Hague: Martinus Nijhoff.

Roy, D. (2011). Christianity and Indigenous Expression in Melanesia. Canberra: ANU Press.

Said, E. (1978). Orientalism. London: Routledge.

Widjojo, M. (2013). Papua Road Map: Negotiating the Past and the Future. Jakarta: LIPI Press.


Senin, 17 November 2025

Kuliah Umum Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Public lecture “Dinamika Timur Tengah dalam Diplomasi Indonesia” Aula FISIP Universitas Cenderawasih – Jayapura, 18 November 2025


      Foto Waniel-dengan anggota BSKLN yang bagian keamanan dan hukum di Timur Tengah.


LAPORAN KEGIATAN

Kuliah Umum Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia

Public lecture “Dinamika Timur Tengah dalam Diplomasi Indonesia” 

Aula FISIP Universitas Cenderawasih – Jayapura, 18 November 2025.


1. Latar Belakang

   Kuliah umum ini diselenggarakan oleh Badan Sinergi Kementerian Luar Negeri (BSKLN) sebagai bagian dari upaya memperluas literasi publik mengenai politik luar negeri Indonesia. Kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan akademik kepada dosen, mahasiswa, dan civitas akademika Universitas Cenderawasih Jayapura mengenai dinamika kawasan Timur Tengah serta posisi strategis Indonesia di tingkat global.

Pemilihan Papua—khususnya Universitas Cenderawasih—menjadi lokasi kuliah umum merupakan bentuk komitmen Kementerian Luar Negeri untuk menghadirkan edukasi diplomasi secara merata di seluruh Indonesia, termasuk Indonesia Timur.

2. Pemateri

Kuliah umum dibawakan oleh Disampaikan oleh: Vahd Nabyl Achmad Muchela

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika, didampingi oleh beberapa anggota tim BSKLN. Para pemateri memberikan penjelasan teoritis sekaligus pengalaman lapangan selama bertugas dalam berbagai misi diplomasi di Timur Tengah.

3. Agenda Materi

Berdasarkan slide dan penjelasan pemateri, terdapat enam poin pokok yang disampaikan, yaitu:

1. Sekilas tentang BSKLN

2. Mengenal kawasan “Timur Tengah”

3. Signifikansi kontemporer Timur Tengah

4. Dinamika hubungan Indonesia dan Timur Tengah

5. Diplomatic exposures di Timur Tengah

6. Key takeaways (poin-poin penting)

4. Penjelasan Materi Kuliah Umum

1) Sekilas tentang BSKLN

Pemateri menjelaskan fungsi BSKLN sebagai jembatan antara Kementerian Luar Negeri dan publik. Tugas BSKLN meliputi:

Melaksanakan kuliah umum, edukasi, dan diseminasi kebijakan luar negeri.

Menghubungkan diplomasi pemerintah dengan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat.

Meningkatkan pemahaman publik terhadap isu-isu internasional.

Melalui kegiatan seperti ini, BSKLN berharap generasi muda Papua semakin melek geopolitik dan memahami peran Indonesia di dunia.

2) Mengenal Kawasan “Timur Tengah”

Pemateri menguraikan batasan geografis dan karakteristik kawasan Timur Tengah, termasuk:

Negara-negara yang tergolong sebagai Timur Tengah.

Ciri budaya, agama, bahasa, serta sejarah panjang peradaban di kawasan tersebut.

Mengapa kawasan ini menjadi pusat perhatian dunia, baik dari sisi energi, politik, maupun keamanan.

Kawasan ini memiliki hubungan historis dengan Indonesia melalui perdagangan, pendidikan, diplomasi, dan ikatan keagamaan.

3) Signifikansi Kontemporer Timur Tengah

Poin ini menekankan pentingnya Timur Tengah di era modern:

Energi dunia: pemasok utama minyak dan gas global.

Perdagangan internasional: jalur vital seperti Terusan Suez dan Selat Hormuz.

Investasi & ekonomi: peluang kerja sama dengan negara Teluk yang sedang tumbuh cepat.

Politik global: dinamika konflik Palestina, Suriah, Yaman, rivalitas Iran–Saudi, hingga normalisasi hubungan antarnegara.

Indonesia berkepentingan menjaga stabilitas dan membangun kemitraan strategis dengan kawasan ini.

4) Dinamika Hubungan Indonesia dan Timur Tengah

Pemateri menjelaskan hubungan bilateral dan multilateral antara Indonesia dan negara-negara Timur Tengah, meliputi:

Kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi.

Kerja sama pendidikan, keagamaan, dan pertukaran budaya.

Perlindungan WNI dan pekerja migran.

Diplomasi Indonesia di forum internasional (OKI, GNB, PBB) terutama terkait isu Palestina.

Kunjungan kenegaraan, perjanjian bilateral, dan peluang kerja sama baru di masa depan.

Kawasan Timur Tengah juga menjadi mitra penting dalam penguatan ketahanan energi nasional.

5) Diplomatic Exposures di Timur Tengah

Bagian ini menjadi sangat menarik karena pemateri dan tim BSKLN berbagi pengalaman nyata selama menjalankan tugas diplomasi:

Menangani konflik dan situasi krisis untuk melindungi WNI.


Negosiasi diplomatik dalam isu keamanan, hukum internasional, dan kemanusiaan.

Pengalaman evakuasi warga Indonesia di negara konflik seperti Suriah dan Yaman.

Upaya membangun kerja sama ekonomi dan menarik investasi.

Pembelajaran penting tentang komunikasi budaya, sensitivitas politik, dan etika diplomasi.

Bagian ini memberikan gambaran nyata tentang dunia diplomasi di lapangan.

6) Key Takeaways (Hal-Hal Penting yang Perlu Diingat)

Pada penutup materi, pemateri menyoroti beberapa pelajaran utama:

Diplomasi adalah kombinasi antara keahlian komunikasi, pemahaman budaya, dan kemampuan negosiasi.

Timur Tengah adalah kawasan strategis yang sangat memengaruhi ekonomi dan stabilitas dunia.

Indonesia memiliki posisi terhormat di mata negara-negara kawasan sebagai negara Muslim terbesar yang demokratis dan moderat.

Mahasiswa harus memahami geopolitik agar mampu membaca isu global dan berkontribusi dalam masa depan diplomasi Indonesia.

Kemenlu RI hadir di Papua untuk mendorong generasi muda agar lebih terlibat dalam isu internasional.


5. Kesimpulan

        Kuliah umum Kementerian Luar Negeri RI di Aula FISIP-UNCEN memberikan wawasan komprehensif tentang geopolitik Timur Tengah dan peran strategis Indonesia. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga dilengkapi dengan pengalaman langsung para diplomat, sehingga sangat bermanfaat bagi peserta.

      Kegiatan ini diharapkan memperluas pengetahuan mahasiswa dan dosen mengenai diplomasi, serta memotivasi generasi muda Papua untuk memahami isu global dan ikut berperan dalam membangun hubungan internasional Indonesia di masa depan.


Dicatat oleh Waniel Weth mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN Jayapura.

Jumat, 14 November 2025

Jiwa Anak-Anak Muda Kristen untuk Mengubah Peradaban Dunia Baru Papua Dalam Kegiatan Weekend Alumni Perkantas Papua 2025, Hotel Suni Abepura, Jayapura ( – 05 November 2025);

 Jiwa Anak-Anak Muda Kristen untuk Mengubah Peradaban Dunia Baru Papua

Dalam Kegiatan Weekend Alumni Perkantas Papua 2025,

Hotel Suni Abepura, Jayapura ( – 05 November 2025);



Foto 4 orang anak Papua, di hotel suni Abepura, Jayapura. November 2025;

Jayapura — Suasana hangat dan penuh sukacita memenuhi ruang pertemuan di Hotel Suni Abepura, Jayapura, dalam rangka kegiatan Weekend Alumni Perkantas Papua tahun 2025. Acara yang mempertemukan berbagai generasi alumni dan kader muda Perkantas ini menjadi momentum berharga untuk memperkuat kembali panggilan pelayanan, kekeluargaan, dan semangat perubahan bagi tanah Papua.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, sejumlah anak muda Kristen yang hadir menunjukkan antusiasme luar biasa untuk terlibat dalam gerakan pembaharuan. Empat pemuda yang tergambar dalam dokumentasi acara tersebut menjadi representasi generasi baru Papua yang memiliki hati untuk Tuhan dan kerinduan untuk membangun peradaban baru melalui integritas, iman, dan karya nyata.

Pertemuan ini bukan sekadar reuni, tetapi wadah refleksi dan penguatan iman. Para peserta diajak menggali kembali visi Perkantas: membentuk mahasiswa dan pelajar Kristen yang memiliki karakter Kristus, pemimpin yang berintegritas, serta pribadi yang berdampak bagi masyarakat. Melalui sesi pembinaan, doa, dan diskusi, para muda-mudi ini disadarkan kembali bahwa perubahan Papua dimulai dari generasi yang mau dibentuk dan diperlengkapi.

Salah satu peserta menyampaikan bahwa melalui kegiatan Weekend Alumni ini, mereka semakin yakin bahwa Tuhan sedang menyiapkan generasi transformatif yang akan membawa angin segar bagi Papua, baik di bidang pelayanan, pendidikan, kemasyarakatan, hingga kepemimpinan.

“Kami percaya bahwa Papua akan mengalami perubahan ketika generasi mudanya hidup takut akan Tuhan dan mau bekerja dengan hati yang benar,” ujarnya.

Acara Weekend Alumni Perkantas Papua 2025 ini menjadi titik temu antara pengalaman masa lalu dan harapan masa depan. Dengan semangat persaudaraan dan kasih Kristus, para peserta pulang dengan hati yang dipenuhi sukacita dan komitmen untuk terus menjadi garam dan terang bagi Papua—membangun peradaban baru yang penuh kebenaran, damai, dan pengharapan.


Oleh Waniel Weth 


Salah satu dari 4 orang itu pada gambar 📝

BERSAMA KB-YUSIDABEUR RAYON GILIKA MEMBAWA PERSATUAN MAHASISWA & MASYARAKAT GILIKA KELUAR DARI SEKAT EGOISME

 BERSAMA KB-YUSIDABEUR RAYON GILIKA MEMBAWA PERSATUAN MAHASISWA & MASYARAKAT GILIKA KELUAR DARI SEKAT EGOISME. (November 2025);

   Doc: foto bersama oleh generasi Muda Gilika di Jayapura, November 2025.

Sudah saatnya generasi muda Gilika, khususnya Mahasiswa, bangkit dari sekat-sekat sempit yang selama ini membelenggu semangat kebersamaan. Egoisme kampung, Distrik, lahir besar kota, kampung dan ikatan lokal yang menutup ruang dialog dan kolaborasi hanya melahirkan perpecahan yang melemahkan kekuatan intelektual kita sendiri. Kita lupa bahwa tujuan utama Mahasiswa bukan sekadar mengangkat identitas asal, tetapi membangun kesadaran kolektif demi perubahan sosial yang lebih besar bagi seluruh masyarakat Gilika.


Persatuan sejati tidak lahir dari asal-usul yang sama, tetapi dari kesadaran bahwa masa depan daerah ini ditentukan oleh kemampuan kita untuk berpikir dan bergerak bersama. 

Mahasiswa Gilika harus berani keluar dari kotak sempit primordialisme lokal, dan menatap jauh ke depan sebagai satu tubuh yang menyatu dalam visi besar: pendidikan, kemajuan, dan pembebasan dari ketertinggalan.


Ketika Mahasiswa lebih sibuk mempertahankan nama kampung, Distrik atau lahir besar kota dan kampung dari pada memperjuangkan kepentingan bersama, maka cita-cita untuk melahirkan perubahan hanya akan menjadi slogan kosong. Kita tidak sedang bersaing untuk menjadi yang paling dikenal, tetapi sedang meniti jalan panjang untuk menjadi generasi yang dikenang karena menyatukan yang tercerai.


Kini waktunya membangun solidaritas intelektual sebuah ikatan yang melampaui batas. Persatuan Mahasiswa Gilika harus menjadi fondasi baru yang menolak fragmentasi sosial dan menegaskan bahwa kekuatan sejati lahir dari kebersamaan.


Kita semua berasal dari kampung yang berbeda, tetapi darah dan tanah yang kita pijak adalah satu: *GILIKA* . Maka, marilah kita keluar dari sekat egoisme yang sempit, berdiri dalam semangat kesetaraan, dan bersama-sama menulis babak baru sejarah MAHASISWA Gilika generasi yang berpikir global, tetapi tetap berakar pada nilai dan martabat lokalnya.


NANGKABO 

Wali ... 3X


Dokumen:

Dokumentasi ini adalah giat Mahasiswa asal Gilika di Kota Jayapura setelah melakukan kegiatan _"Pelatihan Administrasi & Kesekretariatan"._ 


 _Jayapura, 11 November 2025_


Oleh:

 *ARKILAUS WABUK*

Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN Alami Kecelakaan, Teman-Teman Lakukan Kunjungan di Rumah Sakit Dian Harapan Jayapura, (13–14 November 2025)

 Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN Alami Kecelakaan, Teman-Teman Lakukan Kunjungan di Rumah Sakit Dian Harapan

Jayapura, (13–14 November 2025)

      Doc: Foto Yaniton Murib, di rumah sakit Dian Harapan, Waena, Jayapura.


Seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Cenderawasih (UNCEN), Yaniton Murib, mengalami kecelakaan kendaraan bermotor pada Kamis, 13 November 2025 sekitar pukul 16.40 WIT. Insiden terjadi di area antara pos penjagaan Uncen, jalan menuju Kamvolker Waena, dan akses Uncen Atas.

Menurut keterangan keluarga, khususnya dari pihak om-nya yang turut mengalami kecelakaan, Yaniton bersama om-nya berangkat dari Arso menuju Abepura, kemudian naik ke Rektorat Uncen untuk melakukan pelaporan administrasi terkait persiapan wisuda tanggal 20 November mendatang. Setelah selesai mengurus laporan, keduanya turun kembali menuju Waena.

Kronologis Singkat Kejadian

Di dekat pos penjagaan Uncen, Yaniton diduga kehilangan kontrol dan tidak sempat melakukan pengereman, sehingga motor yang dikendarainya mengalami benturan dan menyebabkan keduanya terjatuh.

Yaniton Murib mengalami luka cukup serius di bagian wajah, mata, dan tangan,

Sementara om-nya mengalami luka lebih ringan pada bagian kaki.

Yaniton langsung dilarikan ke Rumah Sakit Dian Harapan, Waena pada hari kejadian. Hingga Jumat, 14 November 2025, kondisi Yaniton masih belum dapat bicara maupun makan, sehingga memerlukan perawatan intensif.

Kunjungan Teman-Teman dan Permohonan Orang Tua

Sejumlah teman sekelas, termasuk Waniel Weth dan Temerius Mul, melakukan kunjungan langsung untuk melihat kondisi Yaniton di Rumah Sakit Dian Harapan. Mereka juga akan menyampaikan pemberitahuan resmi kepada dosen-dosen bersangkutan serta ketua kelas mengenai kondisi Yaniton.

Pihak keluarga berharap agar Yaniton diberikan keringanan dalam kegiatan perkuliahan dan administrasi kampus selama beberapa minggu ke depan, hingga kondisi kesehatannya membaik.

Ajakan untuk Teman-Teman Kampus

Pihak keluarga dan teman-teman mengajak siapa pun yang memiliki kesempatan untuk turut menjenguk atau memberikan dukungan doa bagi Yaniton. Musibah ini menjadi pengingat bahwa solidaritas dan kepedulian antar mahasiswa sangat penting dalam menghadapi tantangan hidup.

Penutup

Demikian informasi kecelakaan yang menimpa saudara Yaniton Murib, mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN semester III.

Semoga Yaniton segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa.


Jayapura, Jumat, 14 November 2025


Disampaikan oleh:

Waniel & Temerius – Teman Kelas Yaniton

Minggu, 09 November 2025

SELAMAT KEPADA WANIEL WETH, JUARA II DUTA BACA UPA PERPUSTAKAAN UNCEN 2025

Di Tulis oleh Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN 

               Doc: Foto setelah dapat juara II Duta Baca UPA Perpustakaan UNCEN Jayapura.


SELAMAT KEPADA WANIEL WETH, JUARA II DUTA BACA UPA PERPUSTAKAAN UNCEN 2025. (Jayapura, 06 November 2025).

       Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Cenderawasih, Waniel Weth, yang berhasil meraih Juara II Pemilihan Duta Baca UPA Perpustakaan Universitas Cenderawasih Tahun 2025.

Acara pemilihan Duta Baca ini diselenggarakan oleh UPA Perpustakaan Universitas Cenderawasih pada Kamis, 6 November 2025, bertempat di Gedung UPA Perpustakaan UNCEN Jayapura. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program literasi kampus yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan budaya literasi di kalangan mahasiswa.

Dalam ajang bergengsi ini, Waniel Weth tampil dengan penuh percaya diri, menampilkan wawasan luas dan semangat tinggi dalam mempromosikan gerakan literasi di lingkungan kampus. Keberhasilannya menjadi Juara II merupakan bukti nyata komitmen mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah dalam mendukung kemajuan literasi di Tanah Papua.

“Menjadi Duta Baca bukan hanya tentang penghargaan, tapi tentang tanggung jawab untuk menginspirasi mahasiswa lain agar gemar membaca dan menulis,” ungkap Waniel setelah menerima sertifikat dan medali penghargaan.

Kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi seluruh sivitas akademika Universitas Cenderawasih untuk terus mengembangkan budaya literasi dan memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan di bidang pendidikan dan pengetahuan.

Seluruh keluarga besar Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN Jayapura mengucapkan selamat dan sukses kepada Waniel Weth atas prestasi yang diraih. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan berkontribusi positif bagi kampus dan masyarakat Papua.




Jumat, 07 November 2025

Yoel Sahe, Anak Pedalaman Papua Buktikan Bahwa Mimpi Bisa Jadi Nyata. (Kupang, Jumat, 7 November 2025).



              Doc: Foto ujian skripsi nya oleh Yoel sahe 


 Yoel Sahe, Anak Pedalaman Papua Buktikan Bahwa Mimpi Bisa Jadi Nyata. (Kupang, Jumat, 7 November 2025)

Kabar membanggakan datang dari Kampung Lulun, Distrik Kosarek, Kabupaten Yahukimo, Papua. Salah satu putra terbaik daerah, Yoel Sahe, berhasil menyelesaikan ujian skripsinya di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Perjalanan pendidikan Yoel penuh perjuangan. Berasal dari pedalaman Papua yang jauh dari akses pendidikan memadai, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan semangat pantang menyerah, doa, dan kerja keras, Yoel berhasil menaklukkan berbagai tantangan hingga mencapai puncak studinya.

Dalam kesempatan usai ujian skripsi, Yoel memberikan pesan inspiratif kepada generasi muda Papua.

“Jangan takut bermimpi sekalipun kamu berasal dari kampung kecil. Tuhan sudah tanamkan potensi besar dalam diri setiap anak Papua. Kalau kita mau berjuang dan percaya, semua bisa tercapai,” ujarnya dengan senyum penuh syukur.

Keberhasilan Yoel menjadi contoh nyata bahwa anak-anak Papua dari kampung pun mampu bersaing dan berprestasi di dunia pendidikan tinggi. Kisahnya kini menjadi inspirasi bagi pelajar dan mahasiswa Papua untuk terus belajar, melangkah, dan membangun masa depan yang lebih baik bagi Tanah Papua.

Keluarga besar Pelajar dan Mahasiswa Kampung Lulun turut mengucapkan selamat dan sukses atas pencapaian Yoel Sahe. Semoga semangat juangnya menyalakan harapan baru bagi generasi Papua yang sedang menempuh pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.

Sabtu, 18 Oktober 2025

Anak Papua Bangkit! Inspirasi dari Kaka Jose, Motivator Se-Papua

 

🌄 Anak Papua Bangkit! Inspirasi dari Kaka Jose, Motivator Se-Papua



Doc: Foto bersama dengan Kaka Jose di Hotel Suni, Abepura, Jayapura.

Dalam rangka pemilihan Duta Bahasa se-Papua

Tuhan 2025.



Pendahuluan

Papua adalah tanah yang diberkati Tuhan dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, di tengah keindahan itu, masih banyak anak-anak muda Papua yang kehilangan arah, terjebak dalam putus sekolah, pengaruh minuman keras, dan pergaulan bebas. Di tengah situasi ini, muncul sosok Kaka Jose, seorang motivator muda dari Papua yang membawa pesan perubahan: “Bangkit dan ubah masa depanmu mulai dari dirimu sendiri!”


Melalui berbagai video motivasi di media sosial, seminar, dan kunjungan ke sekolah-sekolah serta kampus, Kaka Jose menjadi suara yang membangkitkan harapan generasi muda Papua agar tidak menyerah pada keadaan, tetapi menjadi pemimpin masa depan yang kuat, cerdas, dan takut akan Tuhan.


Pembahasan


🌱 1. Anak Papua Punya Potensi Besar


Kaka Jose sering berkata dalam salah satu videonya:


> “Tuhan tidak salah tempatkan engkau di Papua. Engkau lahir di sini karena Tuhan punya rencana besar.”


Pesan ini mengingatkan anak-anak muda Papua bahwa setiap orang memiliki potensi luar biasa, terlepas dari keterbatasan fasilitas, ekonomi, atau lingkungan. Banyak anak muda di pegunungan, lembah, dan pesisir yang memiliki bakat dalam seni, olahraga, pendidikan, dan pelayanan — mereka hanya membutuhkan dorongan dan arah yang tepat.


🔥 2. Jangan Takut Gagal


Dalam banyak motivasinya, Kaka Jose menekankan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan proses pembentukan karakter.

Ia berkata:


> “Kalau jatuh, bangkit lagi! Jangan biarkan kegagalan hari ini mencuri masa depanmu.”


Pesan ini sangat relevan bagi banyak anak muda Papua yang sering merasa minder atau takut mencoba hal baru. Semangat untuk bangkit dari kegagalan adalah kunci untuk mencapai sukses dan menjadi panutan bagi generasi berikutnya.


💡 3. Pendidikan Adalah Jalan Menuju Perubahan


Kaka Jose juga sering berbicara tentang pentingnya pendidikan sebagai alat untuk membebaskan diri dari keterbelakangan. Dalam salah satu video motivasinya di sekolah, ia mengatakan:


> “Kalau kamu ingin bantu Papua, jangan hanya bicara. Sekolah baik-baik, belajar sungguh-sungguh, dan kembalilah bangun daerahmu.”


Pendidikan bukan hanya soal mendapatkan ijazah, tetapi juga soal membangun pola pikir baru, disiplin, dan tanggung jawab. Melalui pendidikan, anak-anak muda Papua bisa menjadi pemimpin yang berintegritas dan mampu membawa perubahan nyata di daerah mereka masing-masing.


✊ 4. Hindari Pengaruh Negatif dan Fokus pada Tujuan


Kaka Jose menantang anak-anak muda Papua untuk menjauhi minuman keras, narkoba, dan seks bebas — hal-hal yang sering menghancurkan masa depan generasi muda.

Ia berkata dengan tegas:


> “Anak muda Papua harus beda! Jangan ikuti jalan yang bikin hancur, tapi pilih jalan yang bikin kamu hidup.”


Dengan memilih lingkungan yang baik, bergabung dengan komunitas positif, dan memiliki mentor yang mendukung, setiap anak muda Papua bisa membangun masa depan yang penuh harapan.


🌍 5. Bangun Papua dengan Cinta dan Tindakan Nyata


Motivasi Kaka Jose tidak berhenti pada kata-kata. Ia mendorong anak-anak muda Papua untuk turun langsung ke lapangan, melayani, mengajar, atau membuat gerakan kecil di kampung-kampung.


> “Kalau kamu mau lihat Papua berubah, mulai dari dirimu sendiri. Jadilah terang di tempatmu berdiri.”


Pesan ini mengajak semua anak muda untuk tidak hanya bermimpi besar, tetapi juga bertindak kecil dengan setia. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta.



Penutup


Anak-anak muda Papua membutuhkan lebih banyak figur seperti Kaka Jose — sosok yang menginspirasi dengan ketulusan, berbicara dengan hati, dan memberi contoh nyata lewat hidupnya. Melalui pesan-pesan motivasinya, Kaka Jose menyalakan api harapan bahwa masa depan Papua ada di tangan generasi muda yang berani bermimpi, berjuang, dan tetap rendah hati.


Mari anak-anak muda Papua:


> “Bangkit, belajar, dan berjuang! Jangan tunggu orang lain ubah Papua. Engkaulah masa depan Papua.”


Sumber Referensi


1. Video motivasi Kaka Jose – “Bangkitlah Anak Papua” (YouTube, 2024).


2. Seminar Pemuda Papua, Jayapura – “Pendidikan dan Perubahan Generasi” (2023).


3. Wawancara Kaka Jose dengan Radio RRI Jayapura – “Pemuda dan Masa Depan Papua”.


4. Buku: Inspirasi Timur – Kisah Anak Papua Membangun Harapan, Penerbit Obor Nusantara (2022).


5. Artikel: “Pemuda Papua dan Tantangan Perubahan Sosial”, Kompas.com (2023).

6. Video Instagram @kakajoseofficial – “Kamu Bisa Kalau Kamu Mau!” (2024).



Kamis, 16 Oktober 2025

Hanina, Perempuan Hebat dari Kampung Gilika – Yalimo Pegunungan Papua


Dokumentasi: Foto wisuda di hari ini

Jayapura, 16 Oktober 2025


Hanina, Perempuan Hebat dari Kampung Gilika – Yalimo Pegunungan Papua


Di tengah lembah hijau dan pegunungan yang sejuk di Gilika, Kabupaten Yalimo, lahirlah seorang perempuan tangguh bernama Hanina Paluke. Ia tumbuh di lingkungan sederhana, namun menyimpan tekad besar: ingin menolong sesama melalui dunia kesehatan.


Sejak kecil, Hanina dikenal sebagai sosok rajin, rendah hati, dan selalu haus ilmu. Jalan menuju pendidikan tinggi bukanlah hal mudah bagi anak dari pelosok Papua. Namun Hanina tidak pernah menyerah. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jembatan menuju perubahan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat kampung halamannya.

Dengan perjuangan dan doa keluarga, Hanina akhirnya diterima di Poltekkes Kemenkes Jayapura — sebuah langkah besar bagi seorang anak dari pedalaman. Di kampus inilah ia belajar dengan sungguh-sungguh, melewati berbagai tantangan akademik dan kehidupan kota yang serba baru.


Tahun demi tahun berlalu, dan pada Kamis, 16 Oktober 2025, doa panjang itu terjawab. Hanina resmi menyandang gelar Sarjana Terapan Keperawatan (S.Tr.Kep). Hari wisuda itu bukan hanya milik Hanina, tetapi juga milik seluruh keluarga besar KB-YUSIDABEUR Rayon Gilika Klasis Yalimo Elelim, yang dengan bangga mengucapkan:


> “Selamat dan sukses atas wisudanya,

Kaka kami, ade kami, saudari kami Hanina Paluke, S.Tr.Kep.

Semoga ilmu dan profesi yang telah diraih menjadi berkat bagi masyarakat dan kemuliaan nama Tuhan.”


Kini, Hanina menjadi teladan bagi banyak anak muda Papua — bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi mereka yang mau berjuang dan percaya pada Tuhan. Dari kampung Gilika di pegunungan Yalimo, ia menunjukkan bahwa perempuan Papua mampu berdiri tegak, berpendidikan, dan melayani dengan kasih.

Ditulis oleh: Pengurus KB-YUSIDABEUR Rayon Gilika Klasis Yalimo Elelim di kota Jayapura.



Kamis, 02 Oktober 2025

Budaya “Pemalas” dalam Perspektif Ekonomi Papua: Tantangan dan Solusi Pembangunan

 



Budaya “Pemalas” dalam Perspektif Ekonomi Papua: Tantangan dan Solusi Pembangunan

Artikel



Contoh: Ilustrasi orang pemalas dalam segala pekerjaan.


Abstrak


Papua merupakan wilayah dengan kekayaan alam yang melimpah, namun tingkat kesejahteraan masyarakatnya masih tertinggal dibandingkan daerah lain di Indonesia. Salah satu isu yang sering muncul adalah stigma “pemalas” yang dilekatkan pada masyarakat Papua, khususnya dalam bidang ekonomi. Artikel ini membahas akar budaya kerja masyarakat Papua, faktor sosial-historis yang memengaruhi rendahnya partisipasi ekonomi, serta tantangan modernisasi yang dihadapi. Stigma tersebut tidak sepenuhnya benar, melainkan lahir dari pertemuan antara tradisi hidup subsisten dengan sistem ekonomi pasar yang menuntut produktivitas tinggi. Melalui penguatan pendidikan, pengembangan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi lokal, diharapkan masyarakat Papua dapat keluar dari stigma tersebut dan berperan aktif dalam pembangunan nasional.



Kata Kunci


Papua, budaya kerja, pemalas, ekonomi lokal, pembangunan, pemberdayaan masyarakat.


Pendahuluan 


1. Latar Belakang


Meskipun Papua dikenal dengan kekayaan sumber daya alam seperti emas, tembaga, hutan, dan laut, namun data menunjukkan bahwa masyarakat Papua masih memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Hal ini sering dikaitkan dengan anggapan bahwa orang Papua “pemalas” dalam mengelola ekonomi. Padahal, dalam antropologi, budaya kerja masyarakat Papua terbentuk dari sistem hidup tradisional yang lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan dasar ketimbang akumulasi modal.


2. Budaya Subsisten vs Ekonomi Pasar


Budaya Subsisten: Masyarakat Papua pada umumnya hidup dari berburu, berkebun, dan meramu. Sistem ini berorientasi pada kecukupan (cukup makan hari ini), bukan pada akumulasi kekayaan.


Ekonomi Pasar Modern: Sistem kapitalisme nasional menuntut kerja produktif, kompetisi, dan akumulasi modal. Perbedaan orientasi inilah yang sering membuat masyarakat Papua dipandang “tidak produktif” atau “pemalas”.


3. Faktor Historis dan Struktural


Kolonialisme & eksploitasi SDA: Sejak zaman Belanda hingga sekarang, hasil kekayaan Papua banyak dikuasai pihak luar, membuat masyarakat asli hanya jadi penonton.


Pendidikan & keterampilan rendah: Minimnya akses pendidikan berkualitas membuat partisipasi dalam dunia kerja modern sangat terbatas.


Ketergantungan pada dana Otsus: Alokasi dana Otonomi Khusus besar, namun sering tidak sampai pada masyarakat bawah, menciptakan mental ketergantungan.


Stigma sosial: Label “pemalas” sering melemahkan motivasi generasi muda Papua.


4. Perspektif Budaya


Dalam budaya Melanesia, kerja keras biasanya dilakukan secara kolektif untuk kepentingan bersama (gotong royong), bukan individual. Hal ini berbeda dengan sistem ekonomi nasional yang berbasis kompetisi individu. Perbedaan paradigma inilah yang membuat adaptasi masyarakat Papua menjadi lebih lambat.



Solusi


1. Pendidikan dan Keterampilan


Peningkatan akses pendidikan vokasi yang sesuai dengan potensi lokal (perikanan, pertanian modern, teknologi).


Program magang dan kewirausahaan bagi generasi muda Papua.


2. Pemberdayaan Ekonomi Lokal


Mendorong koperasi dan UMKM berbasis komunitas adat.


Mendukung hasil kerajinan, pertanian, dan pariwisata Papua untuk masuk pasar nasional maupun internasional.


3. Penguatan Budaya Kerja Positif


Mengintegrasikan nilai gotong royong Papua dengan prinsip ekonomi modern.


Kampanye melawan stigma “pemalas” dengan menampilkan figur sukses Papua.


4. Pengawasan Dana Otsus dan Investasi


Memastikan dana pembangunan sampai ke masyarakat akar rumput.


Mengatur agar investasi asing dan nasional melibatkan tenaga kerja lokal Papua.


Kesimpulan dan Saran


Stigma “pemalas” pada masyarakat Papua lebih tepat dipahami sebagai perbedaan sistem budaya kerja, bukan kelemahan bawaan. Masyarakat Papua memiliki cara hidup yang berorientasi pada keseimbangan dengan alam, namun tantangan ekonomi modern menuntut pola kerja baru. Dengan pendidikan yang tepat, pemberdayaan ekonomi lokal, serta penguatan budaya kerja positif, masyarakat Papua dapat keluar dari stigma tersebut. Pemerintah pusat maupun daerah harus memastikan bahwa pembangunan benar-benar memberdayakan orang asli Papua, bukan hanya memberi label atau ketergantungan.



Daftar Pustaka


1. Keesing, R. M. (1992). Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Erlangga.


2. Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.


3. Widjojo, M. S. (2010). Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the Future. Jakarta: LIPI.


4. Tim BPS Papua. (2023). Statistik Kesejahteraan Rakyat Papua. Badan Pusat Statistik.


5. Rutherford, D. (2003). Raiding the Land of the Foreigners: The Limits of the Nation on an Indonesian Frontier. Princeton: Princeton University Press.


6. Chauvel, R. (2005). Constructing Papuan Nationalism: History, Ethnicity, and Adaptation. Washington: East-West Center.


7. Alua, A. (2002). Papua Barat dari Pangkuan ke Pangkuan. Jayapura: Sekretariat Keadilan dan Perdamaian.


8. Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Sosial. Bandung: Alfabeta.


9. Mansoben, J. R. (1995). Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. Jakarta: LIPI-RUL.


10. Hernawan, B. (2019). Papua dan Tantangan Otonomi Khusus. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.


Penulis, Waniel Weth 

Student from west Papua


Sabtu, 27 September 2025

Menjadi Mahasiswa Luar Biasa di Kampus Universitas Cenderawasih

 



Menjadi Mahasiswa Luar Biasa di Kampus Universitas Cenderawasih

Oleh: Waniel Weth (mahasiswa sejarah FKIP-UNCEN)


Contoh: Sertifikat prestasi seseorng mahasiswa


Pendahuluan


Menjadi mahasiswa bukan hanya soal hadir di ruang kuliah dan mengerjakan tugas, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu memaksimalkan potensi diri, berkontribusi untuk masyarakat, serta menjadi teladan bagi lingkungannya. Di Universitas Cenderawasih (Uncen), salah satu perguruan tinggi terbesar di Papua, mahasiswa memiliki peluang besar untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang luar biasa.


Mahasiswa Luar Biasa: Definisi dan Ciri


Mahasiswa luar biasa dapat dipahami sebagai mahasiswa yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga aktif dalam kegiatan non-akademik seperti organisasi, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. Ciri-cirinya antara lain:


1. Berprestasi akademik – mampu menjaga IPK dengan baik melalui kedisiplinan belajar.



2. Aktif berorganisasi – berperan dalam organisasi intra maupun ekstra kampus.



3. Berjiwa sosial – peduli terhadap permasalahan masyarakat, khususnya di tanah Papua.



4. Memiliki visi dan tujuan hidup – tidak sekadar kuliah, tetapi juga menyiapkan diri untuk masa depan.



5. Kreatif dan inovatif – mampu melahirkan ide dan solusi baru dalam berbagai bidang.




Peluang Berkembang di Universitas Cenderawasih


Uncen menyediakan berbagai sarana bagi mahasiswa untuk menjadi luar biasa, antara lain:


Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM): tempat mengasah kepemimpinan, seni, olahraga, dan minat bakat.


Kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat: mahasiswa bisa terlibat langsung dalam proyek dosen atau membuat riset mandiri.


Beasiswa: bagi mahasiswa berprestasi maupun kurang mampu secara ekonomi.


Forum diskusi dan seminar: ruang untuk memperluas wawasan dan jejaring akademik.



Tantangan Mahasiswa Uncen


Namun, menjadi mahasiswa luar biasa tidaklah mudah. Tantangan yang dihadapi antara lain:


Keterbatasan fasilitas belajar di beberapa fakultas.


Perbedaan latar belakang mahasiswa yang menuntut sikap toleransi dan solidaritas.


Pengaruh lingkungan negatif seperti pergaulan bebas atau sikap malas belajar.


Strategi Menjadi Mahasiswa Luar Biasa


Agar mampu menghadapi tantangan tersebut, mahasiswa perlu:

1. Membangun disiplin belajar dengan manajemen waktu yang baik.


2. Berpartisipasi aktif dalam organisasi kampus untuk melatih kepemimpinan.


3. Mengembangkan literasi digital dan riset guna menghadapi era globalisasi.


4. Menjaga integritas dan karakter sebagai identitas mahasiswa Papua yang bermartabat.


5. Menjadi agen perubahan sosial dengan memanfaatkan ilmu untuk kesejahteraan masyarakat.


Penutup


Menjadi mahasiswa luar biasa di Universitas Cenderawasih berarti menjadi pribadi yang utuh: cerdas secara akademik, aktif secara sosial, dan visioner untuk masa depan. Mahasiswa tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk berkontribusi bagi kemajuan Papua dan Indonesia. Dengan semangat belajar, kepedulian sosial, serta keberanian bermimpi besar, mahasiswa Uncen mampu menjadi agen perubahan yang membawa cahaya harapan bagi bangsa.



Sumber / Referensi


1. Tilaar, H.A.R. (2002). Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya.


2. Sardiman, A.M. (2011). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: RajaGrafindo Persada.


3. Dikti Kemdikbud RI. (2020). Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


4. Astuti, R. (2021). “Pengembangan Karakter Mahasiswa melalui Organisasi Kampus.” Jurnal Pendidikan Karakter, 11(2).


5. Universitas Cenderawasih. (2023). Profil dan Informasi Kampus. Jayapura: Uncen Press.


6. Nainupu, A. (2019). “Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Sosial di Papua.” Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 8(1).


Senin, 08 September 2025

Yang Menikmati Dana Otsus Papua Diam, Sedangkan yang Belum Mendapatkan Dana Otsus Papua yang Berteriak Minta Merdeka

 “Yang Menikmati Dana Otsus Papua Diam, Sedangkan yang Belum Mendapatkan Dana Otsus Papua yang Berteriak Minta Merdeka”

Oleh, Waniel Weth mahasiswa universitas Cenderawasih Jayapura.

 

              Dok: foto ilustrasi orang Papua menikmati hidup dengan dana Otsus Papua.



Pendahuluan

Otonomi Khusus (Otsus) Papua merupakan kebijakan pemerintah Indonesia yang diberikan kepada Provinsi Papua sejak tahun 2001 melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat Papua dalam mengatur pembangunan daerahnya, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta mengurangi kesenjangan antara Papua dan daerah lain di Indonesia.


Namun dalam pelaksanaannya, dana Otsus yang jumlahnya sangat besar justru menimbulkan perdebatan. Ada pihak-pihak tertentu yang mendapatkan akses lebih luas terhadap dana Otsus dan hidup dalam kenyamanan, sementara sebagian masyarakat Papua lainnya merasa terpinggirkan karena tidak merasakan manfaat secara langsung. Hal inilah yang menimbulkan paradoks: mereka yang menikmati dana Otsus cenderung diam, sedangkan masyarakat yang tidak mendapat manfaatnya justru bersuara keras bahkan menuntut kemerdekaan.



Pembahasan


1. Tujuan dan Realitas Dana Otsus


Dana Otsus diharapkan dapat digunakan untuk sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Papua. Namun dalam kenyataan, penyaluran dana Otsus sering kali tidak merata dan terjebak dalam birokrasi serta kepentingan politik elit daerah.


Banyak laporan menunjukkan adanya praktik korupsi, salah sasaran program, hingga ketidaktransparanan dalam pengelolaan anggaran. Akibatnya, masyarakat pedalaman Papua masih kesulitan mengakses layanan pendidikan dan kesehatan, sementara segelintir elit politik dan birokrat menikmati keuntungan besar.


2. Diamnya Penerima Manfaat Otsus


Kelompok yang mendapatkan akses dana Otsus, baik secara langsung maupun tidak langsung, cenderung diam. Hal ini karena mereka sudah diuntungkan secara ekonomi dan sosial. Mereka bisa menikmati fasilitas pendidikan, pekerjaan, dan peluang usaha. Diamnya kelompok ini menandakan adanya sikap pasif akibat ketergantungan pada dana Otsus, tanpa kritik terhadap ketidakadilan distribusi.


3. Suara Merdeka dari Kelompok yang Terpinggirkan


Sebaliknya, masyarakat Papua yang tidak mendapatkan manfaat dari dana Otsus, khususnya masyarakat di daerah pedalaman dan wilayah terisolasi, sering kali merasa tidak diperhatikan. Mereka tetap miskin, sulit mengakses pendidikan, pelayanan kesehatan, serta infrastruktur dasar. Kondisi ini membuat sebagian dari mereka menyuarakan ketidakpuasan bahkan menuntut kemerdekaan sebagai bentuk perlawanan.


4. Politisasi Dana Otsus


Dana Otsus sering dijadikan alat politik untuk menguatkan kekuasaan elit lokal dan sebagai bargaining politik antara pusat dan daerah. Hal ini memperkuat stigma bahwa Otsus bukan solusi bagi Papua, melainkan hanya “gula-gula politik” untuk meredam tuntutan kemerdekaan.


5. Jalan Keluar: Transparansi dan Keadilan


Untuk menjawab masalah ini, beberapa langkah perlu dilakukan:


Transparansi pengelolaan dana Otsus melalui audit independen.


Pemerataan akses bagi masyarakat Papua, khususnya di daerah pedalaman.


Pemberdayaan masyarakat lokal agar tidak hanya bergantung pada elit politik.


Dialog konstruktif antara pemerintah pusat dan masyarakat Papua agar suara kritis tidak hanya dijawab dengan pendekatan keamanan, melainkan dengan solusi kesejahteraan.



Penutup


Paradoks diamnya penerima manfaat dana Otsus dan kerasnya suara mereka yang tidak menikmatinya menunjukkan adanya ketimpangan dalam pengelolaan kebijakan tersebut. Otsus seharusnya menjadi jembatan untuk kesejahteraan, bukan sumber konflik sosial dan politik. Jika pengelolaan dana Otsus tidak segera diperbaiki dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan pemerataan, maka potensi konflik dan tuntutan merdeka dari masyarakat Papua akan terus bergema.



Daftar Pustaka


1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.


2. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. (2021). Laporan Hasil Pemeriksaan Dana Otonomi Khusus Papua.


3. Ginting, A. (2020). Otonomi Khusus Papua: Harapan dan Realitas. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor.


4. Kementerian Keuangan RI. (2022). Data dan Evaluasi Dana Otsus Papua.


5. Widjojo, M. S. (2015). Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the Future. Jakarta: LIPI Press.


6. Tebay, N. (2009). Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Perspektif Papua. Jayapura: Sekretariat Keadilan dan Perdamaian.


7. Tempo. (2021). “20 Tahun Dana Otsus Papua, Siapa yang Diuntungkan?”


8. Kompas. (2022). “Ketimpangan Otsus Papua dan Suara Kemerdekaan.”


9. Elmslie, J. (2018). West Papua: The Issue of Political Independence and Autonomy. Sydney: University of New South Wales.



10. Ikrar Nusa Bhakti. (2013). Papua dalam Politik Nasional Indonesia. Jakarta: LIPI.

Sejumlah Buruh bekerja merayakan May Day dan Menyampaikan Aspirasi Kepada Pemerintah

Doc: Foto saat sampaikan aspirasi kepada Pemerintah Pusat dan Daerah.  Sabtu, 01/Mei/2026 Jayapura-Waniel Weth - Dewan Pimpinan Cabang (DPC)...