peta situs

Senin, 24 November 2025

Injil, Kolonialisme, dan Hilangnya Budaya Lokal: Kajian Kritis Proses Kristenisasi di Papua

 


Oleh: Waniel Weth

Mahasiswa Program Studi Sejarah

Universitas Cenderawasih


Abstrak

Masuknya kekristenan ke Papua sejak abad ke-19 membawa dampak besar dalam perubahan struktur sosial, budaya, dan sistem kepercayaan masyarakat adat. Di balik narasi modernisasi dan pendidikan, terdapat proses hegemoni budaya yang menggeser praktik leluhur, ritual adat, dan identitas spiritual masyarakat Papua. Artikel ini mengkaji hubungan antara agama Kristen, kolonialisme, dan perubahan budaya di Papua melalui pendekatan sejarah kritis dan teori poskolonial. Temuan menunjukkan bahwa Injil tidak hanya berfungsi sebagai ajaran spiritual, tetapi juga instrumen kekuasaan yang membentuk pola pikir, identitas, dan orientasi budaya baru dalam masyarakat Papua.


Kata kunci: Papua, Injil, kolonialisme, budaya lokal, misi Kristen



Pendahuluan

Papua merupakan salah satu wilayah terakhir di Nusantara yang mengalami kontak langsung dengan misionaris Kristen. Kehadiran agama Kristen sering dipandang sebagai tonggak perubahan menuju pendidikan, kesehatan, dan modernitas (Giay, 1995). Namun perubahan ini membawa konsekuensi serius: terjadinya penghapusan sistem kepercayaan leluhur dan transformasi budaya melalui legitimasi agama.

Pertanyaan utama yang dikaji dalam tulisan ini adalah: Bagaimana penyebaran Injil berpengaruh terhadap hilangnya budaya tradisional Papua dan kepercayaan kepada leluhur?



Pembahasan

1. Sistem Kepercayaan Papua Sebelum Kristenisasi

Sebelum kedatangan misionaris, masyarakat Papua memiliki sistem spiritual berbasis relasi antara manusia, alam, roh leluhur, dan dunia sakral (Kamma, 1976). Upacara adat seperti tarian perang, penyembuhan tradisional, dan simbol-simbol sakral bukan sekadar ritual, tetapi sistem pengetahuan (indigenous knowledge system).

Namun, ketika misionaris tiba, praktik tersebut dilabeli sebagai pagan, kafir, dan penyembahan berhala (Hylkema, 2008).

2. Injil sebagai Instrumen Hegemoni Budaya

Kedatangan misionaris Protestan (1855) dan Katolik (1896) bukan hanya memperkenalkan agama baru, tetapi juga budaya Barat, seperti:

Sistem pendidikan formal

Cara berpakaian Barat

Struktur keluarga monogami

Bahasa asing sebagai bahasa ibadah

Menurut Said (1978), dominasi budaya melalui agama adalah bagian dari proyek orientalism kolonial. Di Papua, injil menjadi alat untuk membangun mentalitas tunduk dan merusak identitas kultural lokal (Giay, 2020).

3. Kolonialisme Rohani dan Transformasi Identitas

Proses kristenisasi beriringan dengan kekuasaan kolonial Belanda. Sekolah zending menghasilkan generasi Papua yang menjauhi budaya adat karena dianggap “dosa” (Widjojo, 2013). Akibatnya terjadi:

Alienasi identitas

Rasa inferior budaya lokal

Pemutusan hubungan kosmos-leluhur

Fanon (1963) menyebut kondisi ini sebagai colonial psychological subjugation—penjajahan mental dan spiritual.

4. Dampak pada Budaya dan Struktur Sosial

Beberapa perubahan yang muncul akibat penetrasi agama dan kolonialisme antara lain:


Aspek

Sebelum Injil

Setelah Kristenisasi

Sistem Kepercayaan

Leluhur & roh alam

Agama Kristen terpusat

Sosial

Kolektif-komunal

Individual dan institusional

Simbol budaya

Sakral

Dilarang/dipandang kafir

Ekspresi budaya

Bebas ritual adat

Dibatasi gereja

(Sumber: Kamma, 1976; Giay, 1995)

5. Gerakan Dekolonisasi Budaya Papua

Memasuki abad ke-21, muncul gerakan teologi kontekstual yang berusaha menegosiasikan hubungan antara adat dan Injil. Beberapa gereja mulai memasukkan unsur budaya lokal dalam ibadah sebagai upaya rekonsiliasi identitas (Roy, 2011).

Penutup

Kehadiran Injil di Papua tidak dapat dipisahkan dari agenda kolonial yang secara sistematis mengubah identitas masyarakat Papua. Meskipun kekristenan membawa pendidikan dan transformasi sosial, prosesnya juga menghapus atau memarginalkan budaya leluhur dan sistem spiritual setempat.

Dekolonisasi spiritual dan budaya di Papua menjadi kebutuhan penting agar masyarakat Papua tidak melihat adat sebagai dosa, tetapi sebagai bagian sah dari identitas historis dan teologis.





Daftar Pustaka

Fanon, F. (1963). The Wretched of the Earth. New York: Grove Press.

Giay, B. (1995). Menuju Papua Baru. Jayapura: Deiyai Press.

Giay, B. (2020). Agama dan Identitas Papua. Jayapura: Penerbit STT Walter Post.

Hylkema, T. (2008). Mission and Culture in Papua. Leiden: KITLV Press.

Kamma, F.C. (1976). Koreri: Messianism in Papua. The Hague: Martinus Nijhoff.

Roy, D. (2011). Christianity and Indigenous Expression in Melanesia. Canberra: ANU Press.

Said, E. (1978). Orientalism. London: Routledge.

Widjojo, M. (2013). Papua Road Map: Negotiating the Past and the Future. Jakarta: LIPI Press.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

  64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan Sumber: AI (oleh Waniel Weth) Pendahuluan Tanggal 1 De...