WETHNANG NEWS
JAYAPURA, Wethnang News- Di tengah maraknya pengaruh negatif lingkungan seperti ganja, minuman keras dan pergaulan bebas yang mengancam anak-anak Papua di lingkungan Organda, hadir secercah harapan dari sebuah kelompok belajar bernama "Angsa Liar".
Kelompok tumbuh bersama ini didirikan oleh Dosen Universitas Cenderawasih, Dr. Kristina Sawen, S.H., M.H., yang akrab disapa Mama Brian, bersama mahasiswanya.
Menurut Mama Brian, cikal bakal Angsa Liar sudah ada sejak tahun 2022. Awalnya wadah ini menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mendalami kehidupan dari segi Teologi, Filsafat Kehidupan hingga Hukum.
Namun keprihatinan melihat kondisi anak-anak di sekitar Kompleks Organda membuat Mama Brian mengambil langkah nyata.
"Daripada lihat saja, kita harus buat sesuatu. Banyak anak-anak Papua di organda terpengaruh lingkungan negatif. Hidup tidak jelas. Kita mau mereka kenal Tuhan, hidup bersyukur, belajar teguh dan tidak hancurkan masa depan," ujar Mama Brian.
Dibuka Untuk Kelas Nol Hingga SMP
Pada tahun 2026 ini, Angsa Liar membuka diri lebih luas untuk mengajar anak-anak mulai dari kelas nol (PAUD) hingga SMP.
Mama Brian tidak sendiri. Ia mengajak sekitar 10 orang relawan yang terdiri dari mahasiswa dan mama-mama di Organda untuk menjadi pengajar.
Kelas Bimbel Angsa Liar diaktifkan kembali pada bulan Juli 2026 dan hingga kini aktif setiap hari Senin jam 3 sore. Anak-anak kumpul bukan hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga bermain bersama dengan penuh semangat.
Pembagian kelas dilakukan secara terstruktur:
- Kelas 0 - 2 : Diajar oleh Mama Novi dan Mama Sirih
- Kelas 3 - 4 : Diajar oleh Waniel dan Thomas
- Kelas 5 - 6 : Diajar oleh Kak Vanda
Setiap kegiatan bimbel selalu dibuka dengan doa. Anak-anak kemudian dibagi ke kelompok masing-masing. Di akhir sesi, Mama Brian sendiri yang memberikan pengajaran tentang siapa Tuhan Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus.
"Supaya anak-anak tidak menghina orang, tidak melawan, tidak nakal. Wajib utamakan Tuhan, rajin belajar ilmu pengetahuan, dan jadi berkat bagi banyak orang," tambahnya.
Harapan Untuk Perubahan
Harapan besar Mama Brian sederhana: agar anak-anak di kompleks Organda mengalami perubahan nyata. Tidak lagi hidup seperti dulu, tetapi menjadi generasi yang takut akan Tuhan, cerdas, dan punya masa depan yang jelas di Tanah Papua.
Kisah Angsa Liar menjadi bukti bahwa mengajar tidak harus menunggu fasilitas mewah, cukup dengan hati yang tulus untuk generasi penerus bangsa.
_Tim Wethnang Nimi - Jayapura_








