peta situs

Jumat, 04 September 2026

HMP PENDIDIKAN SEJARAH FKIP-UNCEN GELAR DISKUSI ILMIAH PART III BERSAMA DUTA BACA UNCEN 2025

      Doc: Foto Bersama setelah kegiatan selesai, 04/09/2026-Ruangan A Pendidikan Sejarah. 


Jayapura, 04 September 2026 - Pengurus HMP Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Cenderawasih sukses melaksanakan Diskusi Ilmiah Part III dengan tema "Tips Membaca Buku Yang Benar, Memahami dan Menerapkan Dalam Kehidupan Kita". Kegiatan berlangsung pada Jumat, 04 September 2026 pukul 15.00 - 17.00 WIT di Ruangan A Prodi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN.

Kegiatan ini dipandu oleh moderator Jois Eka Insyaf dan dihadiri oleh pengurus HMP serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN dari berbagai angkatan. Diskusi berlangsung tanpa pembukaan resmi, langsung masuk ke sesi materi agar lebih cair dan interaktif.

Materi: Membaca, Memahami, Menerapkan

Sebagai narasumber, HMP menghadirkan Abraham Yenggren, Mahasiswa Program Studi Sosiologi FISIP UNCEN Angkatan 2024 dan Juara III Duta Baca Perpustakaan Universitas Cenderawasih 2025.

Dalam materinya, Kakak Abraham menyampaikan teknik Membaca Buku Yang Benar dengan 4 poin utama:  

1. Fokus & Tentukan Tujuan: Membaca harus punya tujuan dan manfaat yang jelas agar tidak sia-sia. 

2. Metode Membaca Benar: Menghargai etika penulis, dan mengolah bacaan dari berbagai sumber. 

3. Memahami dan Menerapkan: Jadikan buku sebagai teman dan sahabat dalam hidup. 

4. Diskusi: Selalu berdiskusi dengan orang yang sepaham untuk menerapkan ilmu, baik di kampus, masyarakat, organisasi, hingga ke lingkungan yang belum mengenal literasi.

"Kegiatan diskusi seperti ini jarang sekali dilakukan. Saya sangat berterima kasih kepada HMP Pendidikan Sejarah sudah memberi ruang untuk berbagi tentang literasi," ungkap Abraham di akhir pemaparannya.

Diskusi Aktif & Penutupan

Sesi tanya jawab berjalan sangat aktif. Mahasiswa antusias bertanya tentang kendala membaca, cara memahami buku tebal, dan strategi menerapkan ilmu di ruangan kelas.

Kegiatan ditutup oleh Ketua HMP, Waniel Weth. Dalam sambutannya ia menyampaikan:  

"Kebahagiaan sesungguhnya dapat ditentukan dari kamu sendiri. Menjaga hati, menghargai orang tua, dan memanfaatkan waktu untuk berprestasi. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Fokus pada prosesmu."

Pengurus HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kakak Abraham Yenggren atas ilmu dan motivasi yang telah dibagikan.

Dengan kegiatan ini, HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN berkomitmen terus menumbuhkan budaya literasi agar melahirkan mahasiswa yang berprestasi, kritis, dan berdampak.

Salam Masa Lalu! 🔥

Pengurus HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN 

Editor: Waniel Weth - Ketua HMP


Kamis, 03 September 2026

Na Kal Tomeak Ne Saya anak Honai




 

Doc: Waniel weth, di depan Honai adat Gilika yang dibangun oleh Thomas, Enos Sahe, Yosam Bomol, Waniel, Omku Lamekh Wabuk, Om Septinus Meke, dan Almarhum Lukas Wisal, Sekitar tahun 2017


Pandangan saya terharap Honai adalah rumah adat yang sangat kaya dengan pendidikan/ilmu pengetahuan terutama tentang mendidik dan  bercerita dari tua-tua adat (Nai yabo/nong mabo nang).


1. Pendidikan (Budaya mendidik) yang merupakan pendidikan formal berdasarkan kebiasaan budaya mendidik kepada anak-anak muda untuk belajar berkarakter dan kehidupan sosial bermoral serta spritual atas kepercayaan nenek moyang bangsa dan suku. diwajibkan tinggal berhati-hati karena ada banyak tantangan dalam kehidupan ini.


a. Jangan jalan dengan anak-anak lain 

(Hale mabo boap ving kom)

Jika ada jalan dengan teman untuk 

 berburu atau berkebun tetapi jatuh di atas pohon, jatuh dengan jurang, dan sebagainya pasti ada masalah besar karena harus bayar babi atau bayar kekayaan harta lainnya yang menurut suku Yale/Mek yang dianggap berharga. 

b. Jangan duduk cerita di rumah honai perempuan (Kelabo ae ak/kel tek simun bah yubu yalul).

Karena pasti kamu buat masalah dengan perempuan lain atau main dengan saudara perempuan, pasti ada masalah nanti, pria (kabuni) itu selalu tidur, cerita, dan makan di honai pria)

B. Pendidikan Budaya Cerita Suku Yale atau suku Mek sekarang (Reformasi Penginjilan Gereja Budaya Barat), abad 19 yang menghilangkan budaya cerita ini di Honai adat pria/kabuni.


Kepala suku atau pemimpin tertinggi dan berpengalaman atas perang suku, ahli berburu, berkebun dan keahlian lainnya.

Duduk cerita berdasarkan pengalaman di Honai (Kal tomeak) anak-anak muda diam dengar dan bertanya supaya anak-anak muda (kabuni) itu harus sama seperti orang yang bercerita itu sendiri. Supaya menjadi profesional dalam dunia berburu, berkebun, dan menjadi pemimpin sukunya. Kabuni yang artinya (pemuda) dalam Bahasa Mek harus dengar dan tangkap dari setiap cerita. Itu pengalaman itu menjadi ilmu pengetahuan   baginya.


C. Kal Tomeak (Honai Adat Pria Suku Yale/Mek

Honai bukan hanya mengajarkan kehidupan berburu, berkebun, dan ahli perang suku saja. Tetapi 

Kal tomeak juga berfungsi sebagai rumah untuk bakar ubi, pisang dan sayur lainnya bakar makan atau bawa makanan dari rumah kecil (kel ae-ak) makan di honai.

Jika ada yang belum makan berarti bisa berikannya, supaya dia makan tidur, jangan sampai lapar tahan tidur.

Kita dapat disimpulkan bahwa 

Manusia (Nimi) dari suku Yale/Mek sudah ada pendidikan warisan nenek moyang.


Pendidikan dari luar Papua, hanya datang memberikan gambaran dan wawasan budaya luar (budaya pendidikan Barat).


Kampung Gilika, 

01 Januari 2026

Selasa, 01 September 2026

IBU DR. KRISTINA SAWEN TEKANKAN PENTINGNYA MENGUTAMAKAN TUHAN BAGI MAHASISWA BARU ASRAMA GKI SILAS LIBORANG

 

Doc: Foto Bersama setelah sampaikan materi oleh ibu. Sabtu, 29/09/2026 di Aula ASLIB Padang Bulan, Jayapura Papua.


JAYAPURA– Dosen Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih, Ibu Dr. Kristina Sawen, S.H., M.H. memberikan pemahaman rohani kepada para penghuni baru Asrama Putra GKI Pdt. Silas Liborang Padang Bulan.

Kegiatan penerimaan penghuni baru tersebut berlangsung di Aula ASLIB pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Acara ini bertujuan membekali mahasiswa baru secara iman dan karakter agar mampu menghadapi tantangan selama menempuh pendidikan di Jayapura.

Dalam pemaparannya, Ibu Kristina menyoroti kondisi Papua saat ini.  

“Situasi dan kondisi Papua tidak baik-baik saja. Dengan itu, kita harus kembali mengenal bahwa desain Allah sempurna bagi kita semua: Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus,” ujarnya.

Utamakan Tuhan di Tengah Tantangan

Ibu Kristina mengajak mahasiswa baru untuk menjadikan Tuhan sebagai hal yang utama dan permanen dalam hidup.  

“Mahasiswa harus utamakan Tuhan. Tanpa khawatir, kita percaya bahwa dengan adanya Tuhan, kita yang datang dari pegunungan untuk kuliah di Jayapura dapat menjalani semuanya dengan baik. Tetapi banyak tantangan yang akan dihadapi setiap orang, terutama mahasiswa,” jelasnya.

Beliau juga berpesan agar penghuni asrama mengisi waktu dengan hal-hal positif.  

“Saya mengajak adik-adik mahasiswa baru di Asrama Liborang untuk tinggal dengan baik: belajar dengan rajin, mengikuti komunitas yang membangun diri, terlibat aktif dalam gereja, dan berorganisasi yang baik,” pesannya.

Hindari Hal Negatif, Kejar Prestasi

Ibu Kristina menekankan pentingnya menjaga kekudusan asrama.  

“Tinggal di asrama dengan tidak minum mabuk. Asrama ini adalah asrama yang diberkati, sehingga anak-anak pasti dijaga dan diberkati Tuhan,” tegasnya.

Beliau juga mendorong mahasiswa untuk menjadi pribadi berprestasi.  

“Menjadi mahasiswa berprestasi di kampus bukan hal yang gampang. Tetapi mahasiswa yang mengutamakan Tuhan pasti akan berprestasi, dan menjadi teladan bagi mahasiswa lain. Supaya ke depan tidak ada hal negatif, tetapi hanya hal-hal yang membangun masa depan yang baik,” pungkasnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pondasi iman dan karakter bagi mahasiswa baru Asrama Putra GKI Pdt. Silas Liborang untuk menempuh pendidikan dengan takut akan Tuhan dan semangat belajar yang tinggi.

Di akhir penyampaiannya, beliau membuka kesempatan bagi mahasiswa yang ingin bertumbuh bersama dalam iman.  

“Bagi adik-adik mahasiswa yang ingin bergabung dalam _Kelompok Tumbuh Bersama_, dapat menghubungi saya melalui nomor WhatsApp 0822-3088-4883 atau menghubungi Saudara Waniel di nomor 0812-8882-0490,” tutupnya.

Ditulis oleh Waniel Weth 



KULYASIN TEKANKAN PENTINGNYA BERPIKIR KRITIS BAGI MAHASISWA PENDIDIKAN SEJARAH FKIP-UNCEN


Doc: Foto Bersama dengan narasumber setelah selesai Diskusi dengan bapak Dosen. 01/09/2026 


JAYAPURA – Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN, Bapak Kulyasin, S.Pd., M.Pd. menekankan pentingnya berpikir kritis sebagai nalar berkualitas yang wajib dimiliki setiap mahasiswa, khususnya mahasiswa Pendidikan Sejarah.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Diskusi Ilmiah yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN periode 2026-2027 dengan mengangkat tema "Pentingnya Berpikir Kritis bagi Setiap Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN". 

Kegiatan berlangsung di Ruangan A Prodi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN pada Senin, 01 September 2026.

Diskusi ini dimoderatori oleh Agustinus Samuel Magai, mahasiswa Pendidikan Sejarah angkatan 2024. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa lama dan mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Sejarah.

Nalar dan Budaya Ciri Manusia Berpendidikan

Dalam pemaparannya, Bapak Kulyasin menjelaskan bahwa berpikir kritis sangat penting untuk membedakan mana yang baik dan buruk dalam menyikapi informasi.

“Kalau naluri dan budidaya itu ciri binatang. Sedangkan nalar dan budaya itu ciri manusia. Di perguruan tinggi kita dituntut untuk berpikir kreatif dan berpikir kritis,” ujarnya.

Beliau juga mengingatkan mahasiswa agar bijak dalam membawa budaya. “Bahasa perguruan tinggi itu _drianomisme_, artinya kenal dan berteman dengan semua orang dari satu kabupaten. Boleh ingat kampung, tetapi jangan bawa budaya kampungan ke Jayapura,” tegasnya.

5 Langkah Berpikir Kritis Versi Bapak Kulyasin 

Lebih lanjut, Bapak Kulyasin membagikan 5 langkah berpikir kritis kepada mahasiswa:

1. Berhenti memberikan kesimpulan secara terburu-buru

2. Tanya informasi lebih dalam

3. Bandingkan informasi dari setiap jawaban A dan B

4. Ditimbang sesuai informasi yang benar berdasarkan fakta

5. Buat kesimpulan dari informasi tersebut

“Berpikir kritis bagi mahasiswa Pendidikan Sejarah ibarat Anda menyebrangi suatu sungai. Bagaimana kita bisa selamat sampai di seberang dengan pola pikir yang benar,” jelasnya.

Pengurus HMP Pendidikan Sejarah mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kulyasin yang telah meluangkan waktu dan semangat untuk menyampaikan materi kepada mahasiswa.

“Kami tidak bisa memberikan apa-apa, hanya ucapan terima kasih banyak kepada Bapak Dosen,” ujar perwakilan pengurus.

Dengan adanya diskusi ini, diharapkan mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN mampu berpikir kritis dalam memahami informasi, sehingga dapat memilah mana informasi yang baik dan bermanfaat serta mana yang tidak berguna untuk ditinggalkan.


Di tulis oleh pengurus HMP Pendidikan Sejarah 

 FKIP-UNCEN periode 2026-2027

Jumat, 28 Agustus 2026

HMP-PS : Gelar Kegiatan Rapat Evaluasi pengurus dan Anggota


Dokumentasi:  Pada saat rapat (28/08/2026 


Jayapura-Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih (FKIP-UNCEN) melakukan kegiatan rapat bersama anggota demi kelancaran dalam program kerja yang disusun sejak dilantik.

Sesuai penetapan program kerja yang dilakukan di bulan Mei 2026 yang lalu. 

Berlangsung di ruangan A Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN, Kampus Abepura, Jayapura, Papua, Jumat (28/08/2026.


Ketua Umum HMP-PS, Waniel Weth memberikan motivasi kepada setiap anggota yang hadir sekitar 6 orang lebih. Dari banyak mahasiswa yang ada, kamu yang ingin belajar, perkembang, ingin maju bersama, dan berprestasi.

Mereka yang tidak hadir bukan karena tidak mau ikut kegiatan evaluasi hari ini. Tetapi kita tahu bahwa mereka punya kesibukan/halangan sehingga tidak bisa datang ikut terlibat/berpartisipasi dalam rapat evaluasi hari ini. Dan kegiatan HMP-PS selanjutnya pasti akan mereka juga akan partisipasi.


"Waniel Weth sebagai Ketua

minta maaf selama ini, tidak memberikan teladan, kesempatan, kekompakan kurang, komunikasi hingga tidak memerintahkan tugas dari setiap bidang program kerja yang disusun dari setiap anggota bidang".

Program kerja yang disusun dengan target waktu tepat, tetapi selama ini anggota belum bergerak, tidak tahu tugas fungsi kerja setiap bidang, ada juga sudah tahu tetapi tidak ada niat baik untuk melakukan kegiatan yang baik bagi mahasiswa lain.

Dengan itu, Weth ambil alih dalam beberapa kegiatan seperti diskusi, undang senior untuk menjelaskan tugas dan fungsi oleh Kaka Meki Wetipo di bulan Mei kemarin. 

Bukan anggota tidak bisa tetapi anggota belum aktif dan jalankan program kerja dengan konsisten, kurang adanya kordinasi, komunikasi antar dosen, alumni, senior bahkan seluruh mahasiswa untuk kerjasama, sepakat, sepaham dan jalankan program kerja dengan konsisten.


Harapan supaya belajar dari kesalahan hari ini, belajar memperbaiki diri dan jalankan program kerja dengan baik penuh rasa tanggungjawab.


Lanjut agenda diskusi yang direncanakan di bulan September tentang "pentingnya berpikir kritis bagi mahasiswa pendidikan sejarah FKIP-UNCEN "

harap supaya bidang bersangkutan tanggungjawab kegiatan ini dengan baik.

Supaya mahasiswa baru/lama sebelum kuliah harus membekali dengan menekankan pentingnya berpikir kritis bagi setiap mahasiswa, supaya setiap mahasiswa tahu apa tujuan dia kuliah dan mengikuti kegiatan organisasi yang bisa berproses.


Agus Taplo, sekretaris Umum HMJ-P.IPS hadir dan memberikan penekanan kepada pengurus menjalankan program kerja dengan disiplin, komunikasi dengan dosen, senior-senior dan melakukan kegiatan dengan kesepakatan dari setiap pengurus dan anggota.

Supaya semua mahasiswa hadir dalam setiap kegiatan tertentu yang diadakan oleh HMP-PS.


Mahasiswa Pendidikan Sejarah adalah mahasiswa yang mampu berpikir kritis, berprestasi, penuh tanggungjawab dan integritas yang tinggi sebagai mahasiswa yang menjadi teladan, bermanfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat umum bahkan siap kerja itu tergantung pada hari ini kita belajar berproses.

Dengan itu, menghargai dosen, menjaga 2 ruangan kita , mencintai sejarah hingga lulus.


Ditulis oleh pengurus HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN periode 2026-2027

Rabu, 19 Agustus 2026

HMP Pendidikan Sejarah FKIP Uncen Sukses Gelar Pemilihan Ketua Angkatan dan Ketua Kelas 2026

 

Doc: setelah kegiatan pembentukan ketua angkatan & ketua kelas 2026, (19/08).

Jayapura–Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih (Uncen) sukses menyelenggarakan kegiatan pembentukan pengurus angkatan dan ketua kelas bagi mahasiswa baru angkatan 2026. Kegiatan penting ini dipimpin langsung oleh Sekretaris II HMP, Nanise Lilbid. Di ruangan B Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN. (Rabu, 19/08/2026).


Dalam sesi pembuka, Ketua HMP Pendidikan Sejarah, Waniel Weth, memberikan pembekalan awal mengenai tugas dan fungsi krusial seorang pemimpin di tingkat mahasiswa. Ia menyoroti pentingnya peran ketua angkatan dan ketua kelas dalam menjembatani komunikasi dengan dosen. Selain itu, Waniel juga mengingatkan mahasiswa baru untuk menjaga sikap, membangun kebiasaan belajar yang efektif selama empat tahun ke depan, serta fokus pada strategi menjadi mahasiswa berprestasi.


Melalui proses pemilihan yang demokratis, Marsela Sanadi resmi terpilih sebagai Ketua Angkatan Pendidikan Sejarah 2026, didampingi oleh sekretaris dan bendahara angkatan terpilih.Agenda kemudian dilanjutkan dengan pemilihan ketua kelas. Dari empat kandidat yang maju bersaing, Yos Pagawak mendapatkan kepercayaan penuh dan terpilih sebagai Ketua Kelas 2026, yang selanjutnya dilengkapi dengan jajaran pengurus kelas lainnya.


Turut hadir dalam acara ini, Sekretaris Umum HMJ PIPS, Agus Taplo. Dalam arahannya, Agus menekankan pentingnya menjaga etika selama berkuliah. Ia berpesan agar seluruh mahasiswa baru senantiasa bersikap baik, sopan, serta saling menghargai antar sesama teman, kakak senior, maupun para dosen.Sementara itu, Hauni Hiktaop memberikan penegasan terkait kedisiplinan atribut kampus. Ia mengingatkan mahasiswa baru mengenai kewajiban mengenakan kostum hitam-putih pada hari Senin dan Selasa sebagai identitas pembeda antara senior dan adik tingkat. Hauni juga mengimbau mahasiswa untuk tidak ragu bertanya kepada Ketua HMP atau kakak tingkat jika menghadapi kendala atau kebingungan.


Kegiatan ini resmi ditutup oleh Ketua HMP, Waniel Weth. Dalam pesan/pengarahan penutupnya, Waniel memberikan motivasi agar mahasiswa baru fokus mengejar prestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik.

"Semua itu kembali dan tergantung pada diri sendiri. Di sini tempat untuk kuliah, bukan tempat untuk berpacaran. Harapan besar kami, semua mahasiswa angkatan ini bisa mendapatkan beasiswa," tegas Waniel.


Ia juga mengajak seluruh mahasiswa baru untuk menerapkan filosofi "Benteng Noken Sejarah 2026". Filosofi ini mengibaratkan proses menempuh pendidikan tinggi seperti seorang Mama Papua yang merajut Noken. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, dan ketelitian dalam setiap proses pembuatannya, hingga akhirnya Noken tersebut menjadi sebuah karya yang indah dan bernilai tinggi di mata orang lain.Di akhir penyampaiannya, Waniel kembali mengingatkan pentingnya menjaga etika komunikasi yang baik dalam setiap interaksi, baik saat berhadapan/komunikasi dengan dosen maupun dengan kakak tingkat di lingkungan FKIP Uncen.


Disampaikan oleh pengurus HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN 


Jayapura, 19 Agustus 2026

Jumat, 14 Agustus 2026

EVALUASI PKKMB PRODI PENDIDIKAN SEJARAH: TANGGUNG JAWAB PANITIA HARUS DIKERJAKAN DENGAN DISIPLIN


Doc: Usai rapat evaluasi (Jumat, 14/2026) oleh pengurus HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN 

Jayapura–Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih (FKIP-UNCEN) menggelar Rapat Evaluasi Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tingkat Prodi tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Kelas A, Lantai 2 Gedung Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN, Jayapura, pada Jumat (14/08/2026). 

Rapat ini difokuskan untuk membahas berbagai kendala teknis dan koordinasi pada pelaksanaan PKKMB hari Rabu (12/08/2026) lalu, yang dinilai kurang sukses. Melalui evaluasi ini, pengurus HMP menekankan pentingnya rasa tanggung jawab, disiplin, dan komitmen bagi seluruh panitia demi mempersiapkan pelaksanaan PKKMB tahun 2027 yang lebih baik.

Pandangan Pimpinan Organisasi ketua HMP Pendidikan Sejarah, Waniel Weth, menegaskan bahwa tujuan utama dari evaluasi ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengoreksi kesalahan yang terjadi selama kegiatan. Waniel menegaskan bahwa hal-hal negatif yang terjadi pada kegiatan kemarin tidak boleh terulang lagi di masa mendatang. Panitia PKKMB 2027 harus mampu memberikan yang terbaik dengan belajar dari kekurangan panitia tahun 2026 ini. 

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (HMJ PIPS), Agus Taplo, menyampaikan pandangannya terkait kedisplinan forum. Meskipun jumlah panitia yang hadir dalam rapat evaluasi sedikit, ia mengapresiasi mereka yang datang karena menunjukkan mentalitas mau belajar dan bertanggung jawab mewakili rekan-rekan panitia lainnya.

Catatan Penting dan Evaluasi per Seksi rapat berlangsung dinamis dengan pemaparan kendala dari masing-masing seksi kerja:

Seksi Keamanan & Pendampingan Maba: Ditemukan adanya oknum panitia yang memberikan instruksi fisik berlebih seperti jongkok dan naik tangga. Akibatnya, ada mahasiswa baru yang mengalami kram kaki parah hingga tidak bisa berjalan. Panitia dinilai kurang tanggap dan sempat mengabaikan kondisi mahasiswa baru yang sakit tersebut. Padahal, sebelumnya sudah diumumkan di Aula FKIP agar mahasiswa baru yang memiliki riwayat sakit atau fisik lemah segera melapor untuk tidak mengikuti sesi jalan kaki. Namun, komunikasi ini kurang ditanggapi serius oleh mahasiswa baru yang bersangkutan.


Pada malam hari, orang tua dari mahasiswa baru yang cedera datang ke kampus dalam kondisi marah. Masalah ini diselesaikan secara mandiri oleh Kaka Alfredo, Agus Taplo, Agus Bidana, dan Demas yang mengantarkan mahasiswa tersebut pulang. 

Kejadian ini memicu teguran keras dan kekecewaan dari Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FKIP UNCEN, Bapak Petrus. Kedepan, seluruh panitia diminta kolektif bertanggung jawab dan tidak saling mengandalkan.

Seksi Acara & Master of Ceremony (MC):

Sesi acara prodi sempat diambil alih oleh dosen (Ibu Ester Yampeyadi) karena MC dinilai tidak siap, kurang fokus, dan kurang pengalaman. Petugas MC yang awalnya dijadwalkan (Isnot dan Defi) diganti mendadak oleh Alfa bersama Alfa, namun keduanya tidak menjalankan tugas dengan baik dan masih terus menunggu petunjuk Ketua HMP di saat acara harus dimulai.

Kondisi ruang kelas A berantakan saat dosen masuk, karena posisi MC tidak bersiap di tempat dan malah ikut berjalan ke Aula bersama mahasiswa baru. Di sisi lain, terdapat bantuan dari panitia tingkat fakultas dan jurusan (Orpa dan Elisabeth), namun koordinasinya belum terarah dengan baik.

Panitia menyoroti kurangnya konfirmasi jadwal materi dari para dosen pemateri seperti Ibu Megi, Bapak Kulyasin, dan Bapak Albert. Untuk ke depan, pihak Prodi diharapkan dapat memberikan salinan data SKS mata kuliah kepada Ketua HMP agar dapat dibagikan langsung, sehingga mahasiswa baru mengetahui mata kuliah yang akan dikontrak tiap semester.

Seksi Perlengkapan & Logistik:

Beban kerja seksi perlengkapan dinilai timpang karena sebagian besar tugas fisik dikerjakan sendiri oleh Ketua HMP (Waniel Weth) bersama beberapa rekan seperti Anius, Temerius, dan panitia mahasiswi. Pembersihan Laboratorium Sejarah bahkan dibantu oleh dosen, yaitu Bapak Susanto dan Bapak Kulyasin.

Seksi perlengkapan dan keamanan kurang sinkron terkait pemindahan ruangan (dari Ruang A ke Ruang B, hingga pemindahan ke Laboratorium Sejarah), sehingga sempat membuat pemateri menunggu. Ketua HMP bahkan harus membawa dan mengejar sendiri spanduk kegiatan ke halaman gedung fakultas agar terpasang di depan mahasiswa baru.

Setelah acara selesai, mayoritas panitia langsung meninggalkan lokasi. Proses pengembalian fasilitas kelas seperti menyusun kursi, memasang papan tulis, mengembalikan meja, dan bunga kembali diselesaikan secara mandiri oleh Waniel Weth dan Anis Dipur.

Agus Taplo sempat menegur tindakan salah satu panitia (Orpa) yang menyuruh kakak tingkat (senior angkatan 2023) untuk membersihkan ruangan. Menurutnya, batasan etika antara senior dan junior di lingkungan kampus tetap harus dihargai demi menjaga keharmonisan organisasi. 

Seksi Konsumsi:

Ditemukan adanya tindakan menegur panitia terkait makan siang di dalam ruangan di hadapan mahasiswa baru. Hal ini dinilai kurang etis dan seharusnya dibicarakan di luar ruangan.

Anggaran konsumsi yang terkumpul merupakan hasil sumbangan sukarela panitia. Namun, terjadi kekurangan porsi makanan yang menyebabkan Ketua HMP serta beberapa kakak tingkat tidak mendapat jatah makan siang. Selain itu, dilaporkan adanya hilangnya satu kotak kue konsumsi panitia, yang memicu kecurigaan internal akibat kurangnya konsistensi kerja. 

Untuk menutupi kekurangan fasilitas seperti air karton, tisu, kue panitia, dan photo booth, Ketua HMP terpaksa menggunakan dana pribadi karena pihak Prodi hanya menanggung pengadaan spanduk akibat belum turunnya anggaran dari fakultas.

Seksi Dokumentasi:

Proses dokumentasi yang dilakukan oleh Agus Bidana dan Ardyan masih menggunakan ponsel Android pribadi, sehingga kualitas gambar di beberapa sesi kurang maksimal. File dokumentasi juga belum disatukan di Google Drive dan video kegiatan belum diedit untuk diserahkan kepada dosen. Kedepan, panitia menyarankan pengadaan atau penyewaan kamera standar untuk arsip sejarah dan kebutuhan promosi Prodi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN ke luar.

Rekomendasi Pembenahan Organisasi Di akhir sesi evaluasi, Agus Taplo selaku Sekretaris Umum HMJ PIPS memberikan poin-poin saran strategis untuk perbaikan HMP Pendidikan Sejarah ke depan:

1. Penerapan Peraturan Organisasi: Mengingatkan seluruh anggota untuk patuh pada tata tertib kampus dan mekanisme rapat, termasuk budaya menginstruksi jika ingin menanggapi pembicaraan orang lain.

2. Kaderisasi dan Ketegasan: Pengurus HMP harus lebih tegas dan konsisten dalam mengambil kebijakan, serta melakukan kaderisasi kepemimpinan yang baik agar pembagian tugas berjalan optimal.

3. Fokus Kerja Terstruktur: Pada hari pelaksanaan kegiatan, setiap fungsi seksi harus langsung bergerak secara mandiri sesuai hasil pengarahan awal (briefing), tanpa perlu menunggu instruksi berulang dari Ketua HMP.

Penutup

Rapat evaluasi resmi ditutup oleh Sekretaris II HMP Pendidikan Sejarah, Nanise Lilbid. Dalam kalimat penutupnya, Nanise mengajak seluruh panitia untuk menjadikan kesalahan pada PKKMB 2026 sebagai pelajaran berharga yang tidak perlu dimasukkan ke dalam hati secara personal.Ia berharap draf evaluasi yang dibagikan dapat dibaca kembali di rumah masing-masing sebagai bahan refleksi diri, sehingga kepanitiaan PKKMB tingkat Prodi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN pada tahun 2027 mampu menunjukkan performa kerja yang jauh lebih kompak, disiplin, dan sukses.


Ditulis oleh: Waniel Weth 

Ketua HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN 



HMP PENDIDIKAN SEJARAH FKIP-UNCEN GELAR DISKUSI ILMIAH PART III BERSAMA DUTA BACA UNCEN 2025

      Doc: Foto Bersama setelah kegiatan selesai, 04/09/2026-Ruangan A Pendidikan Sejarah.  Jayapura, 04 September 2026 - Pengurus HMP Pendi...