peta situs

Jumat, 14 Agustus 2026

EVALUASI PKKMB PRODI PENDIDIKAN SEJARAH: TANGGUNG JAWAB PANITIA HARUS DIKERJAKAN DENGAN DISIPLIN


Doc: Usai rapat evaluasi (Jumat, 14/2026) oleh pengurus HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN 

Jayapura–Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih (FKIP-UNCEN) menggelar Rapat Evaluasi Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tingkat Prodi tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Kelas A, Lantai 2 Gedung Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN, Jayapura, pada Jumat (14/08/2026). 

Rapat ini difokuskan untuk membahas berbagai kendala teknis dan koordinasi pada pelaksanaan PKKMB hari Rabu (12/08/2026) lalu, yang dinilai kurang sukses. Melalui evaluasi ini, pengurus HMP menekankan pentingnya rasa tanggung jawab, disiplin, dan komitmen bagi seluruh panitia demi mempersiapkan pelaksanaan PKKMB tahun 2027 yang lebih baik.

Pandangan Pimpinan Organisasi ketua HMP Pendidikan Sejarah, Waniel Weth, menegaskan bahwa tujuan utama dari evaluasi ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengoreksi kesalahan yang terjadi selama kegiatan. Waniel menegaskan bahwa hal-hal negatif yang terjadi pada kegiatan kemarin tidak boleh terulang lagi di masa mendatang. Panitia PKKMB 2027 harus mampu memberikan yang terbaik dengan belajar dari kekurangan panitia tahun 2026 ini. 

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (HMJ PIPS), Agus Taplo, menyampaikan pandangannya terkait kedisplinan forum. Meskipun jumlah panitia yang hadir dalam rapat evaluasi sedikit, ia mengapresiasi mereka yang datang karena menunjukkan mentalitas mau belajar dan bertanggung jawab mewakili rekan-rekan panitia lainnya.

Catatan Penting dan Evaluasi per Seksi rapat berlangsung dinamis dengan pemaparan kendala dari masing-masing seksi kerja:

Seksi Keamanan & Pendampingan Maba: Ditemukan adanya oknum panitia yang memberikan instruksi fisik berlebih seperti jongkok dan naik tangga. Akibatnya, ada mahasiswa baru yang mengalami kram kaki parah hingga tidak bisa berjalan. Panitia dinilai kurang tanggap dan sempat mengabaikan kondisi mahasiswa baru yang sakit tersebut. Padahal, sebelumnya sudah diumumkan di Aula FKIP agar mahasiswa baru yang memiliki riwayat sakit atau fisik lemah segera melapor untuk tidak mengikuti sesi jalan kaki. Namun, komunikasi ini kurang ditanggapi serius oleh mahasiswa baru yang bersangkutan.


Pada malam hari, orang tua dari mahasiswa baru yang cedera datang ke kampus dalam kondisi marah. Masalah ini diselesaikan secara mandiri oleh Kaka Alfredo, Agus Taplo, Agus Bidana, dan Demas yang mengantarkan mahasiswa tersebut pulang. 

Kejadian ini memicu teguran keras dan kekecewaan dari Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FKIP UNCEN, Bapak Petrus. Kedepan, seluruh panitia diminta kolektif bertanggung jawab dan tidak saling mengandalkan.

Seksi Acara & Master of Ceremony (MC):

Sesi acara prodi sempat diambil alih oleh dosen (Ibu Ester Yampeyadi) karena MC dinilai tidak siap, kurang fokus, dan kurang pengalaman. Petugas MC yang awalnya dijadwalkan (Isnot dan Defi) diganti mendadak oleh Alfa bersama Alfa, namun keduanya tidak menjalankan tugas dengan baik dan masih terus menunggu petunjuk Ketua HMP di saat acara harus dimulai.

Kondisi ruang kelas A berantakan saat dosen masuk, karena posisi MC tidak bersiap di tempat dan malah ikut berjalan ke Aula bersama mahasiswa baru. Di sisi lain, terdapat bantuan dari panitia tingkat fakultas dan jurusan (Orpa dan Elisabeth), namun koordinasinya belum terarah dengan baik.

Panitia menyoroti kurangnya konfirmasi jadwal materi dari para dosen pemateri seperti Ibu Megi, Bapak Kulyasin, dan Bapak Albert. Untuk ke depan, pihak Prodi diharapkan dapat memberikan salinan data SKS mata kuliah kepada Ketua HMP agar dapat dibagikan langsung, sehingga mahasiswa baru mengetahui mata kuliah yang akan dikontrak tiap semester.

Seksi Perlengkapan & Logistik:

Beban kerja seksi perlengkapan dinilai timpang karena sebagian besar tugas fisik dikerjakan sendiri oleh Ketua HMP (Waniel Weth) bersama beberapa rekan seperti Anius, Temerius, dan panitia mahasiswi. Pembersihan Laboratorium Sejarah bahkan dibantu oleh dosen, yaitu Bapak Susanto dan Bapak Kulyasin.

Seksi perlengkapan dan keamanan kurang sinkron terkait pemindahan ruangan (dari Ruang A ke Ruang B, hingga pemindahan ke Laboratorium Sejarah), sehingga sempat membuat pemateri menunggu. Ketua HMP bahkan harus membawa dan mengejar sendiri spanduk kegiatan ke halaman gedung fakultas agar terpasang di depan mahasiswa baru.

Setelah acara selesai, mayoritas panitia langsung meninggalkan lokasi. Proses pengembalian fasilitas kelas seperti menyusun kursi, memasang papan tulis, mengembalikan meja, dan bunga kembali diselesaikan secara mandiri oleh Waniel Weth dan Anis Dipur.

Agus Taplo sempat menegur tindakan salah satu panitia (Orpa) yang menyuruh kakak tingkat (senior angkatan 2023) untuk membersihkan ruangan. Menurutnya, batasan etika antara senior dan junior di lingkungan kampus tetap harus dihargai demi menjaga keharmonisan organisasi. 

Seksi Konsumsi:

Ditemukan adanya tindakan menegur panitia terkait makan siang di dalam ruangan di hadapan mahasiswa baru. Hal ini dinilai kurang etis dan seharusnya dibicarakan di luar ruangan.

Anggaran konsumsi yang terkumpul merupakan hasil sumbangan sukarela panitia. Namun, terjadi kekurangan porsi makanan yang menyebabkan Ketua HMP serta beberapa kakak tingkat tidak mendapat jatah makan siang. Selain itu, dilaporkan adanya hilangnya satu kotak kue konsumsi panitia, yang memicu kecurigaan internal akibat kurangnya konsistensi kerja. 

Untuk menutupi kekurangan fasilitas seperti air karton, tisu, kue panitia, dan photo booth, Ketua HMP terpaksa menggunakan dana pribadi karena pihak Prodi hanya menanggung pengadaan spanduk akibat belum turunnya anggaran dari fakultas.

Seksi Dokumentasi:

Proses dokumentasi yang dilakukan oleh Agus Bidana dan Ardyan masih menggunakan ponsel Android pribadi, sehingga kualitas gambar di beberapa sesi kurang maksimal. File dokumentasi juga belum disatukan di Google Drive dan video kegiatan belum diedit untuk diserahkan kepada dosen. Kedepan, panitia menyarankan pengadaan atau penyewaan kamera standar untuk arsip sejarah dan kebutuhan promosi Prodi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN ke luar.

Rekomendasi Pembenahan Organisasi Di akhir sesi evaluasi, Agus Taplo selaku Sekretaris Umum HMJ PIPS memberikan poin-poin saran strategis untuk perbaikan HMP Pendidikan Sejarah ke depan:

1. Penerapan Peraturan Organisasi: Mengingatkan seluruh anggota untuk patuh pada tata tertib kampus dan mekanisme rapat, termasuk budaya menginstruksi jika ingin menanggapi pembicaraan orang lain.

2. Kaderisasi dan Ketegasan: Pengurus HMP harus lebih tegas dan konsisten dalam mengambil kebijakan, serta melakukan kaderisasi kepemimpinan yang baik agar pembagian tugas berjalan optimal.

3. Fokus Kerja Terstruktur: Pada hari pelaksanaan kegiatan, setiap fungsi seksi harus langsung bergerak secara mandiri sesuai hasil pengarahan awal (briefing), tanpa perlu menunggu instruksi berulang dari Ketua HMP.

Penutup

Rapat evaluasi resmi ditutup oleh Sekretaris II HMP Pendidikan Sejarah, Nanise Lilbid. Dalam kalimat penutupnya, Nanise mengajak seluruh panitia untuk menjadikan kesalahan pada PKKMB 2026 sebagai pelajaran berharga yang tidak perlu dimasukkan ke dalam hati secara personal.Ia berharap draf evaluasi yang dibagikan dapat dibaca kembali di rumah masing-masing sebagai bahan refleksi diri, sehingga kepanitiaan PKKMB tingkat Prodi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN pada tahun 2027 mampu menunjukkan performa kerja yang jauh lebih kompak, disiplin, dan sukses.


Ditulis oleh: Waniel Weth 

Ketua HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN 



Jumat, 15 Mei 2026

HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN Gelar Diskusi Peringati Hari Buku Nasional



Doc: Foto bersama pemateri pada 15/05/2026.

Jayapura, 17 Mei 2026 – Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Cenderawasih (HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN) menggelar Diskusi Terbuka dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional, Sabtu (17/05/2026), di Ruang Sejarah FKIP-UNCEN.

Kegiatan yang mengusung tema _“Pentingnya Organisasi bagi Setiap Mahasiswa & Memahami Setiap Bidang Kerja HMP serta Sukses Menjalankan Program Kerja Tahunan”_ ini dihadiri beberapa mahasiswa Pendidikan Sejarah dan dipandu langsung oleh moderator Temerius Mul, dengan MC Deka.

Organisasi sebagai Kelas Kedua Mahasiswa

Dalam pemaparannya, Yuni Meke, Mahasiswa UNCEN sekaligus Ketua Umum IPM-WELBEN, menekankan bahwa organisasi adalah “kelas kedua” yang tidak didapatkan di ruang kuliah. 

“Organisasi melatih 5 hal penting: motivasi, integritas, tanggung jawab, konsistensi, dan komitmen. Kalau mahasiswa tidak pernah terlibat, saat turun ke sekolah nanti akan kewalahan karena tidak terbiasa mengarahkan dan bertanggung jawab,” tegas Yuni.

Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak sekadar “titip nama” di organisasi tanpa menjalankan tugas. Menurutnya, hal itu merusak moral dan nama baik organisasi.

Bedah 6 Bidang Kerja HMP

Sementara itu, Meki Wetipo, S.Pd, Mantan Ketua HMJ dan Alumni Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN, memaparkan tugas dan fungsi 6 bidang inti dalam HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN:

1. Bidang Pengembangan Organisasi – menguatkan internal dan kaderisasi pengurus.

2. Bidang Akademik dan Keilmuan – mengadakan diskusi, bedah buku, dan seminar sejarah.

3. Bidang Minat Bakat dan Kreativitas – menyalurkan potensi mahasiswa di bidang seni, olahraga, dan kreativitas.

4. Bidang Pengabdian Masyarakat – menyalurkan ilmu sejarah ke masyarakat dan sekolah.

5. Bidang Hubungan Eksternal– menjembatani komunikasi HMP dengan pihak luar dan membawa aspirasi mahasiswa ke pimpinan.

6. Bidang Kewirausahaan – mendorong kemandirian dana melalui bazar dan usaha kecil, tanpa selalu bergantung pada fakultas.

“Kegiatan HMP tidak akan jalan kalau koordinator bidang tidak paham tugasnya. Jika program kerja tidak dijalankan dengan baik, maka akan muncul ketidakbertanggungjawaban dan HMP bisa mati suri,” ujar Meki.

Harapan ke Depan

Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang refleksi bagi seluruh pengurus dan anggota HMP agar lebih memahami peran masing-masing. 

“Organisasi adalah latihan jadi guru, pemimpin, dan warga negara yang bertanggung jawab. Kalau serius di sini, kamu akan siap saat terjun ke masyarakat nanti,” tutup Meki.

Diskusi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang antusias dari para peserta. Kegiatan ditutup dengan foto bersama sebagai dokumentasi peringatan Hari Buku Nasional 2026.


_Waniel Weth-

Rabu, 13 Mei 2026

Tokoh Gilika-Lawe Sepakat Bentuk Panitia Selesaikan Konflik Pelayanan dan Versi Masuknya Injil

 

JAYAPURA – Tokoh masyarakat, mahasiswa, dan senior dari wilayah Gilika dan Lawe menggelar pertemuan di Sekretariat KB-YUSIDABEUR, Kota Jayapura, Rabu (13/05/2026). Pertemuan ini membahas kemunduran pelayanan gereja dan perbedaan versi masuknya Injil di kedua wilayah. Hasilnya, peserta sepakat membentuk satu panitia bersama sebagai langkah awal penyelesaian masalah.

Poin-poin yang disampaikan dalam pertemuan:

1. Kekompakan tanpa perbedaan – Kaka Oknel Meke, S.M., menegaskan pentingnya menyatukan mahasiswa, masyarakat, dan senior dari Gilika dan Lawe sebagai langkah pertama.  

2. Kondisi pelayanan lumpuh – Pelayanan di Gilika dan Lawe lumpuh total karena minimnya tenaga penginjil. Saat ini hanya ada satu penginjil aktif, Bapak Agus Nahabil.  

3. Pelaporan ke Klasis Yalimo Eleim – Bapak Korneles Deal, S.IP., akan melaporkan hasil diskusi dan mengusulkan penyatuan tanggal masuknya Injil serta doa pemulihan di Gilika.  

4. Pembentukan panitia khusus – Kaka Ebeth Nelambo, S.M., dan Kaka Amsal Nahabial, S.Sos., mendorong dibentuknya panitia khusus sebelum pembentukan Panitia Yubelium.  

5. Dukungan 10 desa – Orang tua Yahaya Paluke menekankan kehadiran 10 desa dari Lawe dan Gilika sangat penting untuk sumber dana kegiatan.  

6. Mendekatnya waktu Yubelium – Kaka Sanatiel Nahabial mengingatkan waktu menjelang Yubelium 50 Tahun Emas sudah mendesak.  

7. Ruang dialog terbuka – Yuni Meke, Ketua IPM-Welben, dan Yosias Bomol, Ketua IPM-DB, mengajak semua pihak duduk bersama tanpa menolak salah satu versi sejarah masuknya Injil.

Tugas selanjutnya yang disepakati:

1. Membentuk satu panitia untuk menyelesaikan konflik pelayanan dan perbedaan tanggal masuknya Injil di Gilika.  

2. Menggelar doa pemulihan atas masalah kematian dan lemahnya kekompakan pelayanan.  

3. Senior yang hadir berkomunikasi dengan pihak yang belum terlibat untuk menyatukan pikiran.  

4. Setelah kesatuan tercapai, konfirmasi kembali ke Pengurus KB-YUSIDABEUR dan KB-Kapasisigal untuk menyiapkan agenda pembentukan panitia.  

5. Fokus ke persiapan Panitia Yubelium 50 Tahun Emas di wilayah Gilika.


Oleh, Eliaser Wabuk 

Sekretaris Umum KB-YUSIDABEUR Rayon Gilika di Kota Jayapura 

Kamis, 30 April 2026

Sejumlah Buruh bekerja merayakan May Day dan Menyampaikan Aspirasi Kepada Pemerintah

Doc: Foto saat sampaikan aspirasi kepada Pemerintah Pusat dan Daerah. 
Sabtu, 01/Mei/2026

Jayapura-Waniel Weth - Dewan Pimpinan Cabang (DPC), Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dan Masyarakat Kota Jayapura, Provinsi Papua, merayakan Hari Buruh Nasional dan Internasional di Lingkaran Abepura Kota Jayapura, Jumat, 1/Mei/2026.

Ketua DPD KSPSI, Yahya Waromi meminta tuntutan kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Papua terutama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) segara membuat Undang-undang Ketenagakerjaan dalam waktu 2 tahun. Untuk menindaklanjuti kata Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada bulan April, tahun 2025 yang lalu. 

 "Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) mengungkap bahwa pemerintah telah melakukan serap aspirasi di 13 wilayah mencakup 38 provinsi dari berbagai unsur, termasuk serikat pekerja/buruh, terkait kebijakan pengupahan, PKWT, outsourcing, dan PHK" Kata Waromi;

Menurutnya, "Tuntutan Utama 2026 (May Day): Pada 1 Mei 2026, kita Buruh menyampaikan tuntutan utama yang dikenal dengan istilah HOSTUM (Hapus Outsourcing, Tolak Upah Murah), serta menuntut pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT). Kenaikan Upah 2026 adalah harapan dan doa dari semua Buruh Indonesia" tegas Waromi. 

Sementara itu, "salah satu Buruh kerja di staf Universitas Muhammadiyah Papua, Ibu Ongge menyampaikan aspirasinya, selama ibu Ongge kerja 10 tahun tetapi upah ganji tidak pernah mendapatkan lebih tinggi, hanya standar saja dari setiap tahun. Menyebabkan saya menderita dan tidak pernah mendapatkan kesejahteraan hidup yang berkualitas'" ungkapnya;

Kami Buruh bekerja menolak usulan kenaikan UMP 2026 yang ditetapkan pemerintah dan pengusaha, serta menuntut kenaikan sebesar 8,5% hingga 10,5%. Supaya Pemerintah Daerah terutama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD segera menangkapi hal ini secara serius.




Senin, 27 April 2026

Pentingnya Kesadaran Literasi bagi kehidupan Mahasiswa dan masyarakat Papua

 

Doc: foto bersama setelah kegiatan selesai, di postingan Instragram @gatiraa. Sabtu, (25 April 2026 


Pentingnya Kesadaran Literasi bagi kehidupan Mahasiswa dan masyarakat  Papua 

Reading party : Books & Conversation
Dalam rangka hari buku sedunia (world book day) yang selenggarakan oleh komunitas Gatiraa di kafe Khlui perumnas 1 Waena, Jayapura 
Sabtu, (25/April/2026)

Sejarah Hari Buku se-dunia 

Hari Buku se-dunia (world book day) sejak pertama kali ditetapkan oleh UNISCO pada 1995, sepanjang tahun merayakan setiap tahun. Sudah 29 Tahun lalu, penetapannya di konferensi umum UNISCO ke-28 di Paris.

Setiap 23 April dipilih karena tanggal ini banyak penulis besar dunia meninggal, seperti Shakespeare dan Cervantes.

Tujuan diselenggarakannya acara ini untuk promosi membaca, kesadaran Intektual hebat, penerbitan, dan hak cipta.

Tahun 2026 ini menghayati/memperingati hari buku se-dunia yang ke-31.

Dalam kesempatan ini, Gatiraa (komunitas kecil tentang kesadaran literasi) yang diselenggarakan dengan sederhana, kegiatan baca buku bersama (together books reading).
Gatiraa mengundang mahasiswa universitas Cenderawasih terutama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Dari banyak mahasiswa yang ada, 3 orang yang mewakili mengikuti kegiatan ini. Tiga (3) mahasiswa tersebut dua orang dari program studi Pendidikan Biologi dan satu orang dari Prodi Pendidikan Sejarah.

Kegiatan reading party book conversation adalah kegiatan kepedulian komunitas Gatiraa terhadap literasi (baca tulis) di Papua. Atas realitas yang sedang di hadapi oleh seluruh orang Papua tentang kurangnya minat  membaca buku yang menyebabkan tidak bisa berpikir kritis, mengikuti kegiatan hiburan saja dan dampaknya bisa dimanfaatkan oleh pihak bersangkutan. Karena kebodohan diri sendiri, serta tidak bisa melihat kehidupan sosial yang terjadi dimana-mana.

Dengan itu, Gatiraa mem -bergerak hati untuk membukakan pintu jalannya intektual yang berkualitas dari Timur Indonesia secara luas.

Narasumber terhebat (Kak Ohcy, educreator dan penulis buku 'Bagaimana jika")

Gatiraa hadirkan kegiatan hari buku sedunia, dengan narasumber yang luar biasa. Yaitu kak Ohcy educreator dan penulis buku " Bagaimana Jika". Dengan kak ohcy sangat memahami tentang pendidikan di Papua dan bagaimana anak-anak Papua belajar sesuai kontekstual Papua. Supaya pendidikan tidak jauh dari luar Papua tetapi belajar dari daerah nya sendiri.
Dengan berpikir kritis dan kreatif dalam kehidupan manusia. Kak Ohcy mengajarkan 3 mindset yang berkualitas tentang perilaku manusia untuk bersosial dalam masyarakat.

Dalam perjalanan kehidupan manusia sering muncul  rasa ingin tahu dan ambisi instraksi sosial tinggi untuk kemaknaan hidup sesungguhnya. Kak Ohcy menjelaskan secara sederhana sehingga peserta lebih 10 orang ikut sangat menikmati proses belajarnya.
selanjutnya, membaca buku masing-masing dan sharing apa yang dipelajari serta terakhir main gemas di buku tentang "Bagaimana jika" bersama kak Ohcy penulis bukunya. 
Buku ini sangat inspiratif bagi banyak orang. Singkat tetapi kena di sasaran untuk membedakan kehidupan manusia secara baik dan buruk. 

Diskusi Bersama dengan pihak Gatiraa dan kak Ohcy 

Pesan disampaikan dari Kak Ohcy dan pendiri Gatiraa kepada perwakilan mahasiswa FKIP Universitas Cenderawasih.
Harap kerjasamanya untuk mengadakan kegiatan Penggerak literasi kepada sesama mahasiswa dan masyarakat Papua. Supaya kesadaran manusia untuk memanusiakan manusia muncul dari peran literasi secara efektif terhadap semua pihak.

Jika FKIP UNCEN membutuhkan literasi secara umum, kami terbuka sekali untuk sama-sama menjalankan hal positif (pendidikan) kepada mahasiswa Papua, supaya menjadi guru profesional dan mengubah peradaban Pendidikan secara nyata.

Curhatan dan Pembayaran mandiri Waniel Weth 

Waniel Weth, mahasiswa pendidikan sejarah sangat berterima kasih karena selama Waniel selama tinggal di Jayapura tidak pernah mengikuti kegiatan seperti ini.
Waniel Weth, sebelum ikut kegiatan, sempat chat di grup WA (curhat), tentang pembayaran untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dan perpaksa bayar secara mandiri.
Untuk manfaat nya saya mendapatkan banyak hal positif. Terima kasih semuanya. 

Dicatat oleh Waniel Weth (Mahasiswa Prodi Pendidikan sejarah FKIP-UNCEN)

Salam literasi untuk seluruh mahasiswa Papua 🤝














Jumat, 03 April 2026

Komai, terinspirasi dari kisah perjuangan Atinus Meke, seorang Mahasiswa Uncen

 Komai, terinspirasi dari kisah perjuangan Atinus Meke, seorang Mahasiswa Uncen 

Foto orang tua, Yonas Meke, Desember 2025


KOMAI WAE AMLA 

(Seorang menggunakan Koteka)  

Suku Yalinimi Masyarakat Papua Pegunungan 


Koteka sebagai pakaian adat Papua Pegunungan,

Dalam tradisi hidup nenek moyang suku Yale nimi (Mek sekarang) Koteka bernilai tinggi untuk menutup kemaluan laki-laki, dan tidak ada hal yang untuk ditertawakan oleh pihak lain. Artinya seseorang menggunakan Koteka di depan banyak orang (publik) adalah hal normal bagi kehidupan suku Besar Yali & Mek.


Dalam skripsinya, (Anis Weth, 2024) mengatakan bahwa sistem kekerabatan sosial di kampung Lulun dan sekitarnya, masyarakat menggunakan komai sebagai pakaian adat, identitas bangsa, kebiasaan hidup yang secara sah. Tidak hal yang meremehkan budaya Koteka dari masyarakat imigran Barat yang datang melihat budaya Papua, lebih khususnya menikmati keindahan, kebiasaan hidup masyarakat dari pegunungan Papua.

Dengan demikian Koteka adalah pakaian adat istiadat suku dari Pegunungan Papua yang secara sah. Negara RI wajib mengakui budaya masyarakat yang menggunakan Koteka pakaian adat karena budaya adalah cipta rasa karya yang secara kreatif dan unik dari Papua Pegunungan.


Jenis-jenis Koteka (Komai fene)

1. Koteka (komai makne) koteka kecil yang biasa tanam di halaman rumah. Berfungsi untuk menutup kemaluan pria. 

2. Koteka Besar (Komai nubu engge) Komai ini disimpan bibit nya untuk menanam kembali ke tanah yang subur dan baik.

Karena tulang/kulit komai besar, sehingga berguna untuk bibitnya saja. Tetapi yang kecil juga ambil bibitnya demi menanam kembali.


Proses Tanam komai & menyimpan komai 

a. Tahapan menanam (komai memnep)

  Bibit nya komai yang sudah disimpan kering, itu taruh/menanam di tanah yang bagus. Sering menanam di halaman rumah yang tanahnya hitam. Supaya setelah di tanam langsung tubuh dengan baik. Biasanya komai harus ada tempat melintang kayu, tujuan perkembangan tumbuhan komai berjalan lancar dan berbuah.

b. Menyimpan Komai (Komai Pai amnep ae ak) Komai sudah tua berarti dipetik, bawah ke rumah untuk melakukan kubur di api, tujuannya panas dan mengeluarkan daging dari dalam komai, selanjutnya menyimpan di atas asap api (UK hin ak) supaya komai kering dan siap dipakai oleh seseorang. Jika kering bisa ikat dengan daun-daun seperti daun buah merah untuk diikat dan menyimpan di honai.


Untuk komai setiap orang dewasa sekitar umur 12-15 tahun, yang layak menggunakan komai sebagai orang yang dewasa secara sah pada umumnya.

Baik  dari nenek moyang sampai Injil masuk di wilayah ini. Injil masuk dan menghilangkan budaya menggunakan Koteka bagi orang Yalimek secara umumnya. Pembawa Injil (Allah Yubu) dari Suku Yali kepada Suku Yalinimi, Mek sekitar tahun 1982.


Tetapi sampai saat ini, orang tua dari kampung Thamak, Tiple, saolom, dan Gilika masih menggunakan komai. Walaupun orang lain sudah terbiasa dengan pakaian modern.


Buktinya, Yonas Meke atau (dipanggil dengan nama Yonathan Meke) dari kampung Thamak, masih menggunakan komai, sebagai pakaian adat identitas diri tidak bisa melepaskan. 


Orang tua, Yonathan Meke masih menggunakan Koteka sampai hari ini, Desember 2025 kemarin saya bicara dengan orang tua ini, sempat ada liburan ke kampung asalnya Wahalu, Gilika. 


Latar Belakang Yonathan Meke berasal dari Kampung Wahalu, Gilika. Tetapi dulu sekitar tahun 1970-an ia pergi imigrasi ke kampung Thamak. Karena keluarga Meke, dari kampung Wahalu ditinggalkan, sebab dianggap sebagai anak yatim-piatu. Sehingga tidak bisa memperhatikan dari Marga Meke.

Namun itu, Yonathan Meke pergi merantau ke Thamak untuk tinggal disitu dengan keluarga kerabat seperti Lukas Auk dan ada berapa orang lainnya. Tinggal menetap di kampung ini dan kawin dengan perempuan dari kampung merengman, sudah mempunyai anak-anak.

Sampai saat ini Yonathan tidak bisa balik ke kampung Wahalu. Karena sudah terdaftar sebagai kk di kampung ini selamanya.


Anak pertama dari bapak Yonathan adalah Atinus Meke.

Atinus Meke, Sekarang kuliah di Universitas Cenderawasih di fakultas Ekonomi dan Bisnis, pada jurusan/program studi Ekonomi Pembangunan.

Tahun 2026 ini  Atinus berstatus sebagai mahasiswa aktif pada semester IV (Empat), sedang mengikuti proses belajar mengajar di kampus nya.


Bapaknya, Yonathan Meke, sempat sakit di tahun 2024, pada saat itu Atinus Lulus SMA di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan.

Atinus dengar informasi bulan juli 2024, bahwa ayahnya sakit di kampung Thamak, distrik Welarek. 


Akhirnya Atinus berangkat ke kampung, Distrik Welarek menggunakan pesawat kecil. 


Tiba di Welarek, Atinus langsung pergi ke Kampung Thamak, sekitar 3/5 jam dalam perjalanan kaki. 

Tiba di kampung dengan kekhawatiran atas sakit orang tuanya. Ketemu dengan orang tua, Yonathan, anak selamat datang, saya tidak bisa hidup lagi (Name wali yalam Sempan, nai sumane naikna malioro delamnel).


Ah, nai mali danu alam kom yang artinya Bapak tidak akan meninggal.


Hari itu  tidur di kampung dengan orang tua. Hari besoknya, sekitar jam 5-6 pagi Atinus mengendong ayahnya. Naik ke Welarek berjalan kaki, Atinus tidak minta bantuan ke orang lain, tetapi Atinus sendiri; 


Di kampung Thamak, sebenarnya di kampung ini ada lapangan terbang untuk pesawat kecil.

Tetapi belum ada jadwal penerbangan untuk melayani masyarakat. Kecuali pesawat pakai yang bisa melayani di kampung Thamak.


Sampai di Welarek, pukul 10.30 WIT, Atinus tanya ke pegawai/karyawan Bandara Welarek.

Petugas karyawan, diinformasikan bahwa ada pesawat kecil. Tujuh ke Wamena, langsung Atinus beli tiket pesawat.


Pukul 12.45 WIT tiba wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.


Hari esoknya Atinus mau beli tiket pesawat tujuan ke Jayapura tetapi orang tuanya, tidak mau menggunakan pesawat, dengan alasan takut mati/meninggal di dalam pesawat.

Akhirnya Atinus ambil langkah strategis untuk jalan darat menggunakan mobil ke Jayapura. 


Meke bergerak untuk memastikan mobil tujuan ke Elelim, kab. Yalimo. Tapi di jalan trans Elelim-Wamena ada balang di tengah jalan.

 Atinus memikirkan caranya untuk hari itu juga bisa ke Elelim, jadi Atinus pakai mobil, tujuan berjalanan ke Elelim tetapi harus ikut jalan Kab.  Tolikara, akan tembus di tengah jalan trans Elelim-Wamena.

Tiba Elelim dengan selamat, Atinus tidak mau tinggal lama-lama di Elelim. Akan lanjutkan berjanan ke Jayapura menggunakan jalan trans Papua.

Tetap Atinus dengan ayahku sakit ikut berjalanan darat (mobil) ke Jayapura 2 hari.

Sampai di Jayapura, Atinus membawa ayahnya RSUD Dok 2, pada periksa dari tim medis bilang belum ada sakit.

Walaupun ayahnya sakit memang, Atinus tidak mau berdebat disitu.

Bergerak hatinya untuk membawa lagi ke rumah sakit lain yang ada di Jayapura.


Pada akhirnya orangtua Yonhtan sedikit membaik karena sudah minum obat.


Atinus bilang ke ayahnya, saya pergi tes ujian mandiri kampus di Uncen.

Ayahnya, bilang dengan Bahasa Yale/Mek 

(Nai pilam luam, wene nen wali wannati) yang artinya silahkan anak pergi tes, ayah sekarang sudah membaik jadi akan tinggal di rumah.


Atinus dan ayahnya, Yonatan habiskan satu bulan di Jayapura.


Atinus dengar begini, sudah lulus ujian di kampus universitas Cenderawasih Jayapura, di program studi Ekonomi Pembangunan.

Atinus senang sekali, karena sebuah perjuangan panjang ia lakukan seperti ambil ayah di kampung, membawa ke Jayapura sudah sembuh sampai hari ini masih baik kesehatan ayahnya.

Atinus juga bisa lulus ujian, menjadi mahasiswa baru di UNCEN tahun 2024.


Ayahnya sudah sembuh total sakitnya yang menderita, Atinus antar ayahnya ke kampung dan balik lanjutkan kuliah sebagai mahasiswa Uncen pada (semester I) di fakultas ekonomi dan bisnis universitas Cenderawasih (UNCEN) Jayapura. Sampai hari ini Atinus sebagai mahasiswa aktif di Uncen Jayapura.


Atinus terinspirasi & moral bagi anak-anak Papua yang lainnya bahwa:

1. Atinus mengurus ayahnya yang sakit sekaligus mengejar masa depannya.

2. Teman-temannya fokus masuk perguruan tinggi negeri dan swasta. Atinus berusaha untuk menyelamatkan ayah yang begitu menderita dengan sakit yang cukup tergolong. Atinus tidak menyerah dengan kehidupan ini. Tetapi usaha Atinus adalah membawanya orang tua dari di kampung ke kota. Karena di kampung belum ada tempat pelayanan kesehatan untuk melayani masyarakat yang sakit/menderita.

3. Mahasiswa adalah pembawa solusi bagi masyarakat seperti menolong orang tua, membantu orang sekitar yang membutuhkan tetapi juga kita terus mengejar masa depan dengan penuh perjuangan.

4. Atinus memberikan contoh kepada mahasiswa Papua yang lainnya bahwa jika orang tua kita sakit berarti kita harus usahakan orang tua kita membawa ke rumah sakit. Supaya dapat tertolong dari penyakit-penyakit nya.


Walaupun aktivitas kuliah padat tetapi kita Mahasiswa bagi waktu belajar menyesuaikan dengan terjadwal. Supaya dampak ilmu pengetahuan yang kita perjuangkan itu dapat bermanfaat bagi keluarga, komunitas, dan negara.


Penulis, Waniel Weth 

Jayapura, 4 April 2026





EVALUASI PKKMB PRODI PENDIDIKAN SEJARAH: TANGGUNG JAWAB PANITIA HARUS DIKERJAKAN DENGAN DISIPLIN

Doc: Usai rapat evaluasi (Jumat, 14/2026) oleh pengurus HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN  Jayapura–Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) P...