peta situs

Senin, 27 April 2026

Pentingnya Kesadaran Literasi bagi kehidupan Mahasiswa dan masyarakat Papua

 

Doc: foto bersama setelah kegiatan selesai, di postingan Instragram @gatiraa. Sabtu, (25 April 2026 


Pentingnya Kesadaran Literasi bagi kehidupan Mahasiswa dan masyarakat  Papua 

Reading party : Books & Conversation
Dalam rangka hari buku sedunia (world book day) yang selenggarakan oleh komunitas Gatiraa di kafe Khlui perumnas 1 Waena, Jayapura 
Sabtu, (25/April/2026)

Sejarah Hari Buku se-dunia 

Hari Buku se-dunia (world book day) sejak pertama kali ditetapkan oleh UNISCO pada 1995, sepanjang tahun merayakan setiap tahun. Sudah 29 Tahun lalu, penetapannya di konferensi umum UNISCO ke-28 di Paris.

Setiap 23 April dipilih karena tanggal ini banyak penulis besar dunia meninggal, seperti Shakespeare dan Cervantes.

Tujuan diselenggarakannya acara ini untuk promosi membaca, kesadaran Intektual hebat, penerbitan, dan hak cipta.

Tahun 2026 ini menghayati/memperingati hari buku se-dunia yang ke-31.

Dalam kesempatan ini, Gatiraa (komunitas kecil tentang kesadaran literasi) yang diselenggarakan dengan sederhana, kegiatan baca buku bersama (together books reading).
Gatiraa mengundang mahasiswa universitas Cenderawasih terutama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Dari banyak mahasiswa yang ada, 3 orang yang mewakili mengikuti kegiatan ini. Tiga (3) mahasiswa tersebut dua orang dari program studi Pendidikan Biologi dan satu orang dari Prodi Pendidikan Sejarah.

Kegiatan reading party book conversation adalah kegiatan kepedulian komunitas Gatiraa terhadap literasi (baca tulis) di Papua. Atas realitas yang sedang di hadapi oleh seluruh orang Papua tentang kurangnya minat  membaca buku yang menyebabkan tidak bisa berpikir kritis, mengikuti kegiatan hiburan saja dan dampaknya bisa dimanfaatkan oleh pihak bersangkutan. Karena kebodohan diri sendiri, serta tidak bisa melihat kehidupan sosial yang terjadi dimana-mana.

Dengan itu, Gatiraa mem -bergerak hati untuk membukakan pintu jalannya intektual yang berkualitas dari Timur Indonesia secara luas.

Narasumber terhebat (Kak Ohcy, educreator dan penulis buku 'Bagaimana jika")

Gatiraa hadirkan kegiatan hari buku sedunia, dengan narasumber yang luar biasa. Yaitu kak Ohcy educreator dan penulis buku " Bagaimana Jika". Dengan kak ohcy sangat memahami tentang pendidikan di Papua dan bagaimana anak-anak Papua belajar sesuai kontekstual Papua. Supaya pendidikan tidak jauh dari luar Papua tetapi belajar dari daerah nya sendiri.
Dengan berpikir kritis dan kreatif dalam kehidupan manusia. Kak Ohcy mengajarkan 3 mindset yang berkualitas tentang perilaku manusia untuk bersosial dalam masyarakat.

Dalam perjalanan kehidupan manusia sering muncul  rasa ingin tahu dan ambisi instraksi sosial tinggi untuk kemaknaan hidup sesungguhnya. Kak Ohcy menjelaskan secara sederhana sehingga peserta lebih 10 orang ikut sangat menikmati proses belajarnya.
selanjutnya, membaca buku masing-masing dan sharing apa yang dipelajari serta terakhir main gemas di buku tentang "Bagaimana jika" bersama kak Ohcy penulis bukunya. 
Buku ini sangat inspiratif bagi banyak orang. Singkat tetapi kena di sasaran untuk membedakan kehidupan manusia secara baik dan buruk. 

Diskusi Bersama dengan pihak Gatiraa dan kak Ohcy 

Pesan disampaikan dari Kak Ohcy dan pendiri Gatiraa kepada perwakilan mahasiswa FKIP Universitas Cenderawasih.
Harap kerjasamanya untuk mengadakan kegiatan Penggerak literasi kepada sesama mahasiswa dan masyarakat Papua. Supaya kesadaran manusia untuk memanusiakan manusia muncul dari peran literasi secara efektif terhadap semua pihak.

Jika FKIP UNCEN membutuhkan literasi secara umum, kami terbuka sekali untuk sama-sama menjalankan hal positif (pendidikan) kepada mahasiswa Papua, supaya menjadi guru profesional dan mengubah peradaban Pendidikan secara nyata.

Curhatan dan Pembayaran mandiri Waniel Weth 

Waniel Weth, mahasiswa pendidikan sejarah sangat berterima kasih karena selama Waniel selama tinggal di Jayapura tidak pernah mengikuti kegiatan seperti ini.
Waniel Weth, sebelum ikut kegiatan, sempat chat di grup WA (curhat), tentang pembayaran untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dan perpaksa bayar secara mandiri.
Untuk manfaat nya saya mendapatkan banyak hal positif. Terima kasih semuanya. 

Dicatat oleh Waniel Weth (Mahasiswa Prodi Pendidikan sejarah FKIP-UNCEN)

Salam literasi untuk seluruh mahasiswa Papua 🤝














Jumat, 03 April 2026

Komai, terinspirasi dari kisah perjuangan Atinus Meke, seorang Mahasiswa Uncen

 Komai, terinspirasi dari kisah perjuangan Atinus Meke, seorang Mahasiswa Uncen 

Foto orang tua, Yonas Meke, Desember 2025


KOMAI WAE AMLA 

(Seorang menggunakan Koteka)  

Suku Yalinimi Masyarakat Papua Pegunungan 


Koteka sebagai pakaian adat Papua Pegunungan,

Dalam tradisi hidup nenek moyang suku Yale nimi (Mek sekarang) Koteka bernilai tinggi untuk menutup kemaluan laki-laki, dan tidak ada hal yang untuk ditertawakan oleh pihak lain. Artinya seseorang menggunakan Koteka di depan banyak orang (publik) adalah hal normal bagi kehidupan suku Besar Yali & Mek.


Dalam skripsinya, (Anis Weth, 2024) mengatakan bahwa sistem kekerabatan sosial di kampung Lulun dan sekitarnya, masyarakat menggunakan komai sebagai pakaian adat, identitas bangsa, kebiasaan hidup yang secara sah. Tidak hal yang meremehkan budaya Koteka dari masyarakat imigran Barat yang datang melihat budaya Papua, lebih khususnya menikmati keindahan, kebiasaan hidup masyarakat dari pegunungan Papua.

Dengan demikian Koteka adalah pakaian adat istiadat suku dari Pegunungan Papua yang secara sah. Negara RI wajib mengakui budaya masyarakat yang menggunakan Koteka pakaian adat karena budaya adalah cipta rasa karya yang secara kreatif dan unik dari Papua Pegunungan.


Jenis-jenis Koteka (Komai fene)

1. Koteka (komai makne) koteka kecil yang biasa tanam di halaman rumah. Berfungsi untuk menutup kemaluan pria. 

2. Koteka Besar (Komai nubu engge) Komai ini disimpan bibit nya untuk menanam kembali ke tanah yang subur dan baik.

Karena tulang/kulit komai besar, sehingga berguna untuk bibitnya saja. Tetapi yang kecil juga ambil bibitnya demi menanam kembali.


Proses Tanam komai & menyimpan komai 

a. Tahapan menanam (komai memnep)

  Bibit nya komai yang sudah disimpan kering, itu taruh/menanam di tanah yang bagus. Sering menanam di halaman rumah yang tanahnya hitam. Supaya setelah di tanam langsung tubuh dengan baik. Biasanya komai harus ada tempat melintang kayu, tujuan perkembangan tumbuhan komai berjalan lancar dan berbuah.

b. Menyimpan Komai (Komai Pai amnep ae ak) Komai sudah tua berarti dipetik, bawah ke rumah untuk melakukan kubur di api, tujuannya panas dan mengeluarkan daging dari dalam komai, selanjutnya menyimpan di atas asap api (UK hin ak) supaya komai kering dan siap dipakai oleh seseorang. Jika kering bisa ikat dengan daun-daun seperti daun buah merah untuk diikat dan menyimpan di honai.


Untuk komai setiap orang dewasa sekitar umur 12-15 tahun, yang layak menggunakan komai sebagai orang yang dewasa secara sah pada umumnya.

Baik  dari nenek moyang sampai Injil masuk di wilayah ini. Injil masuk dan menghilangkan budaya menggunakan Koteka bagi orang Yalimek secara umumnya. Pembawa Injil (Allah Yubu) dari Suku Yali kepada Suku Yalinimi, Mek sekitar tahun 1982.


Tetapi sampai saat ini, orang tua dari kampung Thamak, Tiple, saolom, dan Gilika masih menggunakan komai. Walaupun orang lain sudah terbiasa dengan pakaian modern.


Buktinya, Yonas Meke atau (dipanggil dengan nama Yonathan Meke) dari kampung Thamak, masih menggunakan komai, sebagai pakaian adat identitas diri tidak bisa melepaskan. 


Orang tua, Yonathan Meke masih menggunakan Koteka sampai hari ini, Desember 2025 kemarin saya bicara dengan orang tua ini, sempat ada liburan ke kampung asalnya Wahalu, Gilika. 


Latar Belakang Yonathan Meke berasal dari Kampung Wahalu, Gilika. Tetapi dulu sekitar tahun 1970-an ia pergi imigrasi ke kampung Thamak. Karena keluarga Meke, dari kampung Wahalu ditinggalkan, sebab dianggap sebagai anak yatim-piatu. Sehingga tidak bisa memperhatikan dari Marga Meke.

Namun itu, Yonathan Meke pergi merantau ke Thamak untuk tinggal disitu dengan keluarga kerabat seperti Lukas Auk dan ada berapa orang lainnya. Tinggal menetap di kampung ini dan kawin dengan perempuan dari kampung merengman, sudah mempunyai anak-anak.

Sampai saat ini Yonathan tidak bisa balik ke kampung Wahalu. Karena sudah terdaftar sebagai kk di kampung ini selamanya.


Anak pertama dari bapak Yonathan adalah Atinus Meke.

Atinus Meke, Sekarang kuliah di Universitas Cenderawasih di fakultas Ekonomi dan Bisnis, pada jurusan/program studi Ekonomi Pembangunan.

Tahun 2026 ini  Atinus berstatus sebagai mahasiswa aktif pada semester IV (Empat), sedang mengikuti proses belajar mengajar di kampus nya.


Bapaknya, Yonathan Meke, sempat sakit di tahun 2024, pada saat itu Atinus Lulus SMA di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan.

Atinus dengar informasi bulan juli 2024, bahwa ayahnya sakit di kampung Thamak, distrik Welarek. 


Akhirnya Atinus berangkat ke kampung, Distrik Welarek menggunakan pesawat kecil. 


Tiba di Welarek, Atinus langsung pergi ke Kampung Thamak, sekitar 3/5 jam dalam perjalanan kaki. 

Tiba di kampung dengan kekhawatiran atas sakit orang tuanya. Ketemu dengan orang tua, Yonathan, anak selamat datang, saya tidak bisa hidup lagi (Name wali yalam Sempan, nai sumane naikna malioro delamnel).


Ah, nai mali danu alam kom yang artinya Bapak tidak akan meninggal.


Hari itu  tidur di kampung dengan orang tua. Hari besoknya, sekitar jam 5-6 pagi Atinus mengendong ayahnya. Naik ke Welarek berjalan kaki, Atinus tidak minta bantuan ke orang lain, tetapi Atinus sendiri; 


Di kampung Thamak, sebenarnya di kampung ini ada lapangan terbang untuk pesawat kecil.

Tetapi belum ada jadwal penerbangan untuk melayani masyarakat. Kecuali pesawat pakai yang bisa melayani di kampung Thamak.


Sampai di Welarek, pukul 10.30 WIT, Atinus tanya ke pegawai/karyawan Bandara Welarek.

Petugas karyawan, diinformasikan bahwa ada pesawat kecil. Tujuh ke Wamena, langsung Atinus beli tiket pesawat.


Pukul 12.45 WIT tiba wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.


Hari esoknya Atinus mau beli tiket pesawat tujuan ke Jayapura tetapi orang tuanya, tidak mau menggunakan pesawat, dengan alasan takut mati/meninggal di dalam pesawat.

Akhirnya Atinus ambil langkah strategis untuk jalan darat menggunakan mobil ke Jayapura. 


Meke bergerak untuk memastikan mobil tujuan ke Elelim, kab. Yalimo. Tapi di jalan trans Elelim-Wamena ada balang di tengah jalan.

 Atinus memikirkan caranya untuk hari itu juga bisa ke Elelim, jadi Atinus pakai mobil, tujuan berjalanan ke Elelim tetapi harus ikut jalan Kab.  Tolikara, akan tembus di tengah jalan trans Elelim-Wamena.

Tiba Elelim dengan selamat, Atinus tidak mau tinggal lama-lama di Elelim. Akan lanjutkan berjanan ke Jayapura menggunakan jalan trans Papua.

Tetap Atinus dengan ayahku sakit ikut berjalanan darat (mobil) ke Jayapura 2 hari.

Sampai di Jayapura, Atinus membawa ayahnya RSUD Dok 2, pada periksa dari tim medis bilang belum ada sakit.

Walaupun ayahnya sakit memang, Atinus tidak mau berdebat disitu.

Bergerak hatinya untuk membawa lagi ke rumah sakit lain yang ada di Jayapura.


Pada akhirnya orangtua Yonhtan sedikit membaik karena sudah minum obat.


Atinus bilang ke ayahnya, saya pergi tes ujian mandiri kampus di Uncen.

Ayahnya, bilang dengan Bahasa Yale/Mek 

(Nai pilam luam, wene nen wali wannati) yang artinya silahkan anak pergi tes, ayah sekarang sudah membaik jadi akan tinggal di rumah.


Atinus dan ayahnya, Yonatan habiskan satu bulan di Jayapura.


Atinus dengar begini, sudah lulus ujian di kampus universitas Cenderawasih Jayapura, di program studi Ekonomi Pembangunan.

Atinus senang sekali, karena sebuah perjuangan panjang ia lakukan seperti ambil ayah di kampung, membawa ke Jayapura sudah sembuh sampai hari ini masih baik kesehatan ayahnya.

Atinus juga bisa lulus ujian, menjadi mahasiswa baru di UNCEN tahun 2024.


Ayahnya sudah sembuh total sakitnya yang menderita, Atinus antar ayahnya ke kampung dan balik lanjutkan kuliah sebagai mahasiswa Uncen pada (semester I) di fakultas ekonomi dan bisnis universitas Cenderawasih (UNCEN) Jayapura. Sampai hari ini Atinus sebagai mahasiswa aktif di Uncen Jayapura.


Atinus terinspirasi & moral bagi anak-anak Papua yang lainnya bahwa:

1. Atinus mengurus ayahnya yang sakit sekaligus mengejar masa depannya.

2. Teman-temannya fokus masuk perguruan tinggi negeri dan swasta. Atinus berusaha untuk menyelamatkan ayah yang begitu menderita dengan sakit yang cukup tergolong. Atinus tidak menyerah dengan kehidupan ini. Tetapi usaha Atinus adalah membawanya orang tua dari di kampung ke kota. Karena di kampung belum ada tempat pelayanan kesehatan untuk melayani masyarakat yang sakit/menderita.

3. Mahasiswa adalah pembawa solusi bagi masyarakat seperti menolong orang tua, membantu orang sekitar yang membutuhkan tetapi juga kita terus mengejar masa depan dengan penuh perjuangan.

4. Atinus memberikan contoh kepada mahasiswa Papua yang lainnya bahwa jika orang tua kita sakit berarti kita harus usahakan orang tua kita membawa ke rumah sakit. Supaya dapat tertolong dari penyakit-penyakit nya.


Walaupun aktivitas kuliah padat tetapi kita Mahasiswa bagi waktu belajar menyesuaikan dengan terjadwal. Supaya dampak ilmu pengetahuan yang kita perjuangkan itu dapat bermanfaat bagi keluarga, komunitas, dan negara.


Penulis, Waniel Weth 

Jayapura, 4 April 2026





Selasa, 31 Maret 2026

UK SEGEN KONG-KONG NA API BERASAL DARI TALI & KAYU KERING 🔥 Sebuh Analisis Berdasarkan Pengalaman Praktis dari Suku Yalenimi, Papua pegunungan

 NANGKABO..(Salam Buat Semuanya)

UK SEGEN KONG-KONG NA

API BERASAL DARI TALI & KAYU KERING 🔥

Sebuh Analisis Berdasarkan Pengalaman Praktis dari Suku Yalenimi, Papua pegunungan 

Oleh : Waniel Weth 

_________________________________


     Dokumentasi: Bakar Batu di kabupaten Yalimo Papua Pegunungan 

    Februari 2026


UK  = Api 

SEGEN = Tali Kering

KONG-KONG NA = Kayu Kering 


1. Sejarah Uk

Uk berasal dari kayu dan tali gesekan secara persamaan oleh seseorang, sehingga hasilnya menjadi api. Proses itu disebut "gesekan" atau "frikasi" dalam fisika. Ketika kayu dan tali digosokkan bersama, energi kinetik diubah menjadi energi panas, sehingga suhu meningkat dan memicu reaksi kimia yang menghasilkan api.


Dalam fisika, proses ini dikenal sebagai "konversi energi mekanik menjadi energi termal" melalui gesekan. 


Dengan demikian usaha manusia untuk membuahkan hasilnya (UK/API).


Sehingga bisa masak hasil kebun dan makan.


Cerita mitos (uk samen dane)

Dari orang ke orang lain 

Yang artinya orang keluar dari dari satu wilayah ke wilayah lain bawah api mengunakan noken yang rusak, supaya tidak bisa padam.

Dan orang lihat asap, jadi mereka datang ambil api di orang dengan sapaan kata naro atau nangkae yang artinya Kaka / teman/sabat 

a. Naro 

Pertama datang minta api dengan kata "Naro" berarti tidak bisa kawin karena adik Kaka (Eldo naipsae) Sampai hari ini orang tidak bisa kawin. Contohnya 

Klen Marga Mirin dan Marga sa'e/Tibul.

b. Nangkae (teman/saudara luar)

Seseorang datang ke orang yang punya api l, datang berkata "Nangkae" berarti klen marga yang punya api dan datang minta api bisa kawin. Tradisi ini, sampai hari ini pun ada di pedalaman Papua.


2. Pemilih kayu dan tali 

1. Kayu kering (Kal Ul)

Kayu yang bagus yang biasa orang gunakan tidak sembarang kayu.

Di masyarakat kampung Lulun mengunakan kayu (sabla ul), kwelm ul, serek ul, dan sebagainya. Ul artinya kayu kering.


2. Tali (Hing)

Hing biasanya memiliki kekuatan untuk pengecekan kayu, tali yang kering (hing ul) orang biasa taruh di atas asap supaya menjadi hitam dan kering yang berkualitas.


Suku Bangsa masyarakat kampung Lulun, kabupaten Yahukimo Papua Pegunungan mengunakan tali sao, ju hing, boreng, dan a'al 

membersihkan dengan baik, jemur di atas asap api atau dalam bahasa kampung Lulun (ukhinak) supaya dapat kering dengan baik.

Suku Bangsa ini, ingin masak bakar batu, bikin kebun, berburu di hutan dan sebagainya harus ada uk. Supaya bisa menjalankan aktivitas kebun, bakar batu. 


Orang (Nimi) itu harus isi uk segen supaya mau isap rokok, masak makan, bikin kebun baru, tidur honai kecil-besar, orang harus melakukan gesekan uk supaya menjadi api nyala yang baik berguna.

Daun kering sama-sama taruh adalah daun buah merah yang kering (ken ma'al olonga soa) setelah itu tarik gesekan tali tanpa kayu supaya bis jadi api.


Tali dan kayu tidak basah, kena air, jika kena air berarti tidak bisa menyala. Dengan itu harus diikat dengan baik, simpan di tempat yang aman supaya tidak kena basah air.


Untuk tarik gesekan kayu kering dan tali itu harus kuat orangnya 

Jika badan lemah berarti tidak bisa menjadi bentuk api.

Misalnya orang tua, anak-anak kecil tidak bisa melakukan gesekan tali dan kayu kering. Karena badan energi tidak kuat. 


3. Proses menyimpan api 

1. UK kalkahe hao weretop

Kubur kayu yang ada api ke dalam sedang menyala di tempat bakar.

2. UK ak gelikin simpan api di noken robek.

Menyimpan api dengan noken yang rusak.

3. UK ubul bi (Ambil api di keluarga sekitar)

Ambil uk di lingkungan sekitar usaha manusia untuk bisa masak makan, memberikan hangat badan dan pasang api  dikebun baru. 

Cerita mama walina (nari kainnti) jika ambil api di tetangga itu takut karena jangan sampai mereka marah, memukul kita, dan tidak di kasih seperti anak yatim piatu yang pergi meminta api orang tidak bisa memberikan api.


4. Uk di honai kecil dan honai besar (uk kelmabo ae ak, uk yawi ae ak)

1. Api di honai kecil perempuan, kebi masyarakat kampung Lulun, di rumah kecil tempat tidur perempuan, anak-anak kecil, tempat kubur ubi, bakar pisang, bakar batu kecil untuk masak sayur. Jadi pria makan dulu sebelum pergi ke honai besar, karena honai kecil yang dia buat untuk keluarga nya. Dia diwajibkan tidur di honai besar (mem yawi ae ak).

2. Api di honai besar (uk yawi ae ak)

semua laki-laki di kampung itu biasa tidur honai baik orang tua laki-laki, dewasa, pemuda serta anak-anak kecil ukuran 10 tahun.

Setelah orang beraktivitas kebun, makan hasil kebun, orang datang tidur di honai besar khusus pria.

Di yawiak bisa masak ubi, ubi jalar, pisang dan sebagainya makan sama-sama di honai.

Jam 5 sore orang bawa kayu api dari kebun, masing-masing pria wajib membawa kayu api untuk honai kecil besar. Supaya pada saat tidur tidak dingin karena api nyala menghangatkan tubuh badan orang.

Jam 4-5 sudah orang bangun baik laki-laki maupun perempuan, tetapi laki-laki yang duluan bangun, yang sudah bangun itu bisa cerita, makan ubi yang dikubur dari api, bakar pisang dan lain sebagainya. Jadi pergi ke honai kecil hanya tanpa makan saja. Sudah makan sarapan di honai besar yang sudah kenyang berarti langsung pergi kebun.

Orang-orang disini bisanya bagi tugas seperti ada yang ambil ubi, sayuran, bikin kebun, dan masak supaya aktivitas berjalan lancar.


Maknanya orang kampung Lulun api adalah cermin kehidupan manusia dan lambang kekuatan yang dari nenek moyang digunakan sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk memasak makanan dari hasil kebun.

Dan kehidupan mereka tergantung pada alam,   jadi setiap wilayah baik barat, timur, selatan, uatar dibagi berdasarkan kekuasaan tanah adat. Yang memiliki tempat yang bisa bagi wilayah tetapi tidak ingin bagi juga tidak salahnya, seluruh aktivitas kebun ubi, kelari dan sayur dibagi berdasarkan klen marga.

Namun itu, marga pendatang (janan nimi) itu pendekatan ke yang punya pemilik tanah supaya (mo sao dam nimi) bisa bagi tanah.


Dengan begitu seluruh kebun, sayur, tempat berburu masing-masing marga. Jika pencurian maka ada tenda bayar babi, ganti, minta maaf. Dulu biasa melakukan perang keluarga baik secara terbuka maupun secara sembunyi.


Dengan demikian api sangat bermanfaat bagi kehidupan orang, kita bisa mempertahankan energi kehidupan sehari-hari dengan penuh bermakna, jika kita masak makan dari hasil usaha manusia baik hasil bumi yang ada. 


Jayapura, 1 April 2026





Minggu, 18 Januari 2026

Pelajar, Mahasiswa, dan Warga Elelim Turun Langsung Bersihkan Sampah, Kritik Minimnya Perhatian Pemkab. Yalimo (Senin, 19 Januari 2026)

 

     Doc: Foto kebersihan lingkungan sampah. Senin, 19/01/26|09.30 WIT.

Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan— Kondisi kebersihan lingkungan di Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, kian memprihatinkan akibat penumpukan sampah yang tidak tertangani dengan baik. Menyikapi hal tersebut, pelajar, mahasiswa, dan warga masyarakat Elelim mengambil langkah nyata dengan (turun langsung membersihkan lingkungan), tanpa menunggu tindakan dari pemerintah daerah.

Aksi peduli kebersihan ini, (dimulai pada Senin, 19 Januari 2026), dan direncanakan berlangsung selama "dua hingga tiga hari ke depan". Kegiatan difokuskan pada "pembersihan sampah di jalan umum, pemukiman warga, sekitar sekolah, dan fasilitas umum" di Distrik Elelim.

Para peserta menegaskan bahwa gerakan ini "bukan sekadar wacana atau pernyataan sikap", melainkan "aksi nyata di lapangan" sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Mereka juga menyampaikan "kritik terbuka terhadap Pemerintah Kabupaten Yalimo" yang dinilai "kurang memberikan perhatian serius terhadap pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan", khususnya di ibu kota distrik.

“Kami tidak hanya bicara. Kami langsung turun tangan membersihkan lingkungan kami sendiri. Aksi ini akan berlangsung selama dua sampai tiga hari ke depan. Kami ingin menunjukkan bahwa perubahan harus dimulai dari tindakan nyata,” ujar salah satu koordinator kegiatan di Elelim.

Menurut warga, sampah yang menumpuk selama ini telah mengganggu aktivitas masyarakat dan berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. Mereka berharap pemerintah daerah segera "menyediakan fasilitas tempat pembuangan sampah, sistem pengangkutan rutin, serta program kebersihan yang berkelanjutan".

Aksi kebersihan ini juga melibatkan "Waniel Weth", salah satu "calon peserta Papua–Maluku Digital Bootcamp (PMDB 2025)", yang merupakan "mahasiswa asal Kabupaten Yalimo dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Cenderawasih (UNCEN), Jayapura". Kehadiran Waniel menjadi simbol kepedulian mahasiswa Yalimo di perantauan terhadap kondisi daerah asalnya.

Waniel menegaskan bahwa mahasiswa memiliki "tanggung jawab moral dan sosial" untuk terlibat langsung dalam persoalan masyarakat, termasuk masalah lingkungan.

“Sebagai mahasiswa, kami tidak bisa hanya menyampaikan kritik. Kami harus turun langsung, bekerja bersama masyarakat, dan memberi contoh. Lingkungan yang bersih adalah dasar bagi kesehatan, pendidikan, dan masa depan generasi Yalimo,” tegasnya.

Melalui aksi ini, pelajar, mahasiswa, dan warga Elelim berharap "Pemerintah Kabupaten Yalimo dapat melihat kondisi riil di lapangan" dan segera mengambil langkah konkret dalam penanganan sampah. Mereka menekankan bahwa "kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama", namun tetap membutuhkan "peran aktif dan kebijakan nyata dari pemerintah daerah".

Aksi berlangsung dengan tertib dan penuh semangat gotong royong, sebagai wujud kepedulian masyarakat Distrik Elelim demi menciptakan "lingkungan yang bersih, sehat, dan layak huni".


Penulis, Waniel Weth

Mahasiswa kab. Yalimo 


Minggu, 30 November 2025

64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

 


64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

Sumber: AI (oleh Waniel Weth)


Pendahuluan


Tanggal 1 Desember setiap tahun adalah salah satu tanggal paling penting dalam sejarah Papua. Bagi sebagian masyarakat Papua—khususnya kelompok pro-kemerdekaan—tanggal ini bukan sekadar momentum politik, tetapi simbol identitas, perjuangan, dan memori kolektif. Tahun 2025 menandai 64 tahun sejak 1 Desember 1961, ketika Dewan Nieuw Guinea (Nieuw Guinea Raad) mengesahkan simbol-simbol nasional Papoea: Bintang Kejora, lagu “Hai Tanahku Papua”, dan rancangan struktur negara.


Bagi masyarakat pro-kemerdekaan, 1 Desember dipahami sebagai “hari kelahiran bangsa Papua modern”. Namun bagi pemerintah Indonesia, tanggal ini tidak dianggap sebagai hari kemerdekaan. Perbedaan persepsi inilah yang menjadi sumber ketegangan politik selama lebih dari enam dekade.


Artikel ini tidak memihak pada agenda politik apa pun; tujuannya memberikan pemahaman historis dan ilmiah mengenai makna 1 Desember, perubahan politik Papua sejak 1961, dan dampaknya bagi masyarakat Papua hingga tahun 2025.



1. Sejarah 1 Desember 1961


1.1. Sidang Nieuw Guinea Raad


Pada tahun 1961, Belanda memberikan peluang bagi rakyat Papua untuk mulai mempersiapkan pemerintahan sendiri. Melalui Dewan Nieuw Guinea:


Bendera Bintang Kejora dikibarkan sebagai simbol nasional Papua


Lagu Hai Tanahku Papua diresmikan


Nama bangsa Papoea dipakai secara resmi


Ditetapkan rencana kemerdekaan bertahap dalam beberapa tahun



Tanggal 1 Desember 1961 kemudian menjadi simbol “kelahiran politik” bagi sebagian besar rakyat Papua.


1.2. Konflik dengan Indonesia


Indonesia, di bawah Presiden Soekarno, menolak rencana Belanda dan menganggap Papua bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Pada 19 Desember 1961, Soekarno mengumumkan Trikora untuk “merebut Irian Barat”.


Ketegangan meningkat hingga:


Perjanjian New York 1962 (tanpa perwakilan Papua),


Masuknya pasukan Indonesia,


Penyerahan UNTEA 1963,


Pepera 1969 yang kontroversial.



2. Mengapa 1 Desember Dirayakan Setiap Tahun?


2.1. Simbol Identitas


Bagi banyak orang Papua, 1 Desember melambangkan:


pengakuan identitas nasional,


sejarah yang dihapus negara,


harga diri kolektif,


simbol bahwa mereka bukan hanya “daerah” tetapi “bangsa”.



2.2. Mengingat Luka Sejarah


Peralihan kekuasaan dari Belanda ke Indonesia menimbulkan:


operasi militer,


pelanggaran HAM,


pemaksaan politik,


hilangnya simbol Papua.



Peristiwa-peristiwa ini membentuk memori trauma yang masih dirasakan hingga generasi 2025.


2.3. Resistensi Damai


Kelompok pro-kemerdekaan merayakan 1 Desember sebagai bentuk perlawanan damai, ekspresi hak politik, dan penguatan identitas. Sebagian mengibarkan Bintang Kejora, sebagian menggelar ibadah syukur, renungan, atau aksi damai.



3. Mengapa 2025 Disebut 64 Tahun?


Perhitungan 64 tahun berasal dari:


2025 – 1961 = 64 tahun


Artinya:


> Sudah enam dekade lebih sejak Papua pertama kali mendeklarasikan simbol kenegaraan modernnya.



Selama 64 tahun tersebut, masyarakat Papua mengalami:


integrasi paksa,


perubahan politik besar,


mobilisasi penduduk dari luar Papua,


pembangunan yang tidak merata,


konflik berkepanjangan.



4. Kondisi Papua Selama 64 Tahun Bersama Indonesia


4.1. Ekonomi dan Pembangunan


Papua tetap menjadi wilayah:


termiskin di Indonesia,


infrastruktur tertinggal,


angka gizi buruk tinggi,


kematian ibu dan anak tertinggi nasional.



Walaupun sumber daya alam melimpah, manfaatnya tidak dinikmati mayoritas orang asli Papua.


4.2. Konflik dan Keamanan


Konflik antara aparat dan kelompok bersenjata berlangsung sejak 1960-an hingga 2025, menyebabkan:


pengungsian massal,


kematian warga sipil,


trauma turun-temurun.



4.3. Demokrasi yang Terbatas


Ruang berekspresi sering dibatasi:


pembubaran aksi damai,


pelarangan simbol identitas,


kriminalisasi aktivis.



Hal ini memicu persepsi bahwa Papua tidak diperlakukan sebagai warga negara yang setara.



5. Makna 1 Desember bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan


5.1. Hari Kebangkitan Identitas


Ini adalah hari untuk:


merayakan jati diri,


mengenang leluhur,


menguatkan solidaritas sesama orang Papua.



5.2. Hari Perjuangan Damai


Banyak kelompok memaknai 1 Desember sebagai:


momentum refleksi,


doa perdamaian,


pendidikan politik,


memperkuat hak-hak masyarakat adat.



5.3. Hari Pengingat Ketidakadilan


Sebagian masyarakat mengingat:


sejarah politik yang tidak adil,


penindasan,


ketidakmerataan pembangunan,


hilangnya tanah adat dan budaya.



6. Sikap Pemerintah Indonesia


Pemerintah Indonesia melihat 1 Desember sebagai:


bagian dari gerakan separatisme,


ancaman terhadap kedaulatan negara,


simbol politik yang dilarang.



Namun pendekatan keamanan yang dominan justru mempertajam luka sejarah. Sejumlah akademisi Indonesia sendiri menilai bahwa:


> Papua tidak akan damai tanpa dialog bermartabat, keadilan, dan penghormatan identitas.



7. Apa Harapan Papua di Usia 64 Tahun Ini?


Terlepas dari perbedaan pandangan politik, mayoritas masyarakat Papua menginginkan:


penghentian kekerasan,


hak hidup aman,


pemulihan martabat budaya,


ruang demokrasi lebih bebas,


pembangunan manusia yang merata,


reformasi kebijakan Otsus,


dialog sejati Jakarta–Papua.



Generasi muda Papua ingin masa depan yang:


berakar pada budaya,


intelektual,


damai,


bermartabat.



Penutup


Tanggal 1 Desember 1961–2025 bukan sekadar sejarah, tetapi pengalaman hidup selama 64 tahun yang membentuk identitas dan perjuangan masyarakat Papua.


Bagi kelompok pro-kemerdekaan, hari ini:


adalah tanda kelahiran bangsa,


simbol harga diri,


refleksi luka sejarah,


dan harapan masa depan.


Tugas generasi kini bukan memperpanjang konflik, tetapi mencari jalan damai, keadilan, dan pengakuan martabat manusia di tanah Papua.


Senin, 24 November 2025

Injil, Kolonialisme, dan Hilangnya Budaya Lokal: Kajian Kritis Proses Kristenisasi di Papua

 


Oleh: Waniel Weth

Mahasiswa Program Studi Sejarah

Universitas Cenderawasih


Abstrak

Masuknya kekristenan ke Papua sejak abad ke-19 membawa dampak besar dalam perubahan struktur sosial, budaya, dan sistem kepercayaan masyarakat adat. Di balik narasi modernisasi dan pendidikan, terdapat proses hegemoni budaya yang menggeser praktik leluhur, ritual adat, dan identitas spiritual masyarakat Papua. Artikel ini mengkaji hubungan antara agama Kristen, kolonialisme, dan perubahan budaya di Papua melalui pendekatan sejarah kritis dan teori poskolonial. Temuan menunjukkan bahwa Injil tidak hanya berfungsi sebagai ajaran spiritual, tetapi juga instrumen kekuasaan yang membentuk pola pikir, identitas, dan orientasi budaya baru dalam masyarakat Papua.


Kata kunci: Papua, Injil, kolonialisme, budaya lokal, misi Kristen



Pendahuluan

Papua merupakan salah satu wilayah terakhir di Nusantara yang mengalami kontak langsung dengan misionaris Kristen. Kehadiran agama Kristen sering dipandang sebagai tonggak perubahan menuju pendidikan, kesehatan, dan modernitas (Giay, 1995). Namun perubahan ini membawa konsekuensi serius: terjadinya penghapusan sistem kepercayaan leluhur dan transformasi budaya melalui legitimasi agama.

Pertanyaan utama yang dikaji dalam tulisan ini adalah: Bagaimana penyebaran Injil berpengaruh terhadap hilangnya budaya tradisional Papua dan kepercayaan kepada leluhur?



Pembahasan

1. Sistem Kepercayaan Papua Sebelum Kristenisasi

Sebelum kedatangan misionaris, masyarakat Papua memiliki sistem spiritual berbasis relasi antara manusia, alam, roh leluhur, dan dunia sakral (Kamma, 1976). Upacara adat seperti tarian perang, penyembuhan tradisional, dan simbol-simbol sakral bukan sekadar ritual, tetapi sistem pengetahuan (indigenous knowledge system).

Namun, ketika misionaris tiba, praktik tersebut dilabeli sebagai pagan, kafir, dan penyembahan berhala (Hylkema, 2008).

2. Injil sebagai Instrumen Hegemoni Budaya

Kedatangan misionaris Protestan (1855) dan Katolik (1896) bukan hanya memperkenalkan agama baru, tetapi juga budaya Barat, seperti:

Sistem pendidikan formal

Cara berpakaian Barat

Struktur keluarga monogami

Bahasa asing sebagai bahasa ibadah

Menurut Said (1978), dominasi budaya melalui agama adalah bagian dari proyek orientalism kolonial. Di Papua, injil menjadi alat untuk membangun mentalitas tunduk dan merusak identitas kultural lokal (Giay, 2020).

3. Kolonialisme Rohani dan Transformasi Identitas

Proses kristenisasi beriringan dengan kekuasaan kolonial Belanda. Sekolah zending menghasilkan generasi Papua yang menjauhi budaya adat karena dianggap “dosa” (Widjojo, 2013). Akibatnya terjadi:

Alienasi identitas

Rasa inferior budaya lokal

Pemutusan hubungan kosmos-leluhur

Fanon (1963) menyebut kondisi ini sebagai colonial psychological subjugation—penjajahan mental dan spiritual.

4. Dampak pada Budaya dan Struktur Sosial

Beberapa perubahan yang muncul akibat penetrasi agama dan kolonialisme antara lain:


Aspek

Sebelum Injil

Setelah Kristenisasi

Sistem Kepercayaan

Leluhur & roh alam

Agama Kristen terpusat

Sosial

Kolektif-komunal

Individual dan institusional

Simbol budaya

Sakral

Dilarang/dipandang kafir

Ekspresi budaya

Bebas ritual adat

Dibatasi gereja

(Sumber: Kamma, 1976; Giay, 1995)

5. Gerakan Dekolonisasi Budaya Papua

Memasuki abad ke-21, muncul gerakan teologi kontekstual yang berusaha menegosiasikan hubungan antara adat dan Injil. Beberapa gereja mulai memasukkan unsur budaya lokal dalam ibadah sebagai upaya rekonsiliasi identitas (Roy, 2011).

Penutup

Kehadiran Injil di Papua tidak dapat dipisahkan dari agenda kolonial yang secara sistematis mengubah identitas masyarakat Papua. Meskipun kekristenan membawa pendidikan dan transformasi sosial, prosesnya juga menghapus atau memarginalkan budaya leluhur dan sistem spiritual setempat.

Dekolonisasi spiritual dan budaya di Papua menjadi kebutuhan penting agar masyarakat Papua tidak melihat adat sebagai dosa, tetapi sebagai bagian sah dari identitas historis dan teologis.





Daftar Pustaka

Fanon, F. (1963). The Wretched of the Earth. New York: Grove Press.

Giay, B. (1995). Menuju Papua Baru. Jayapura: Deiyai Press.

Giay, B. (2020). Agama dan Identitas Papua. Jayapura: Penerbit STT Walter Post.

Hylkema, T. (2008). Mission and Culture in Papua. Leiden: KITLV Press.

Kamma, F.C. (1976). Koreri: Messianism in Papua. The Hague: Martinus Nijhoff.

Roy, D. (2011). Christianity and Indigenous Expression in Melanesia. Canberra: ANU Press.

Said, E. (1978). Orientalism. London: Routledge.

Widjojo, M. (2013). Papua Road Map: Negotiating the Past and the Future. Jakarta: LIPI Press.


Pentingnya Kesadaran Literasi bagi kehidupan Mahasiswa dan masyarakat Papua

  Doc: foto bersama setelah kegiatan selesai, di postingan Instragram @gatiraa. Sabtu, (25 April 2026  Pentingnya Kesadaran Literasi bagi ke...