peta situs

Kamis, 30 April 2026

Sejumlah Buruh bekerja merayakan May Day dan Menyampaikan Aspirasi Kepada Pemerintah

Doc: Foto saat sampaikan aspirasi kepada Pemerintah Pusat dan Daerah. 
Sabtu, 01/Mei/2026

Jayapura-Waniel Weth - Dewan Pimpinan Cabang (DPC), Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dan Masyarakat Kota Jayapura, Provinsi Papua, merayakan Hari Buruh Nasional dan Internasional di Lingkaran Abepura Kota Jayapura, Jumat, 1/Mei/2026.

Ketua DPD KSPSI, Yahya Waromi meminta tuntutan kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Papua terutama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) segara membuat Undang-undang Ketenagakerjaan dalam waktu 2 tahun. Untuk menindaklanjuti kata Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada bulan April, tahun 2025 yang lalu. 

 "Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) mengungkap bahwa pemerintah telah melakukan serap aspirasi di 13 wilayah mencakup 38 provinsi dari berbagai unsur, termasuk serikat pekerja/buruh, terkait kebijakan pengupahan, PKWT, outsourcing, dan PHK" Kata Waromi;

Menurutnya, "Tuntutan Utama 2026 (May Day): Pada 1 Mei 2026, kita Buruh menyampaikan tuntutan utama yang dikenal dengan istilah HOSTUM (Hapus Outsourcing, Tolak Upah Murah), serta menuntut pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT). Kenaikan Upah 2026 adalah harapan dan doa dari semua Buruh Indonesia" tegas Waromi. 

Sementara itu, "salah satu Buruh kerja di staf Universitas Muhammadiyah Papua, Ibu Ongge menyampaikan aspirasinya, selama ibu Ongge kerja 10 tahun tetapi upah ganji tidak pernah mendapatkan lebih tinggi, hanya standar saja dari setiap tahun. Menyebabkan saya menderita dan tidak pernah mendapatkan kesejahteraan hidup yang berkualitas'" ungkapnya;

Kami Buruh bekerja menolak usulan kenaikan UMP 2026 yang ditetapkan pemerintah dan pengusaha, serta menuntut kenaikan sebesar 8,5% hingga 10,5%. Supaya Pemerintah Daerah terutama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD segera menangkapi hal ini secara serius.




Senin, 27 April 2026

Pentingnya Kesadaran Literasi bagi kehidupan Mahasiswa dan masyarakat Papua

 

Doc: foto bersama setelah kegiatan selesai, di postingan Instragram @gatiraa. Sabtu, (25 April 2026 


Pentingnya Kesadaran Literasi bagi kehidupan Mahasiswa dan masyarakat  Papua 

Reading party : Books & Conversation
Dalam rangka hari buku sedunia (world book day) yang selenggarakan oleh komunitas Gatiraa di kafe Khlui perumnas 1 Waena, Jayapura 
Sabtu, (25/April/2026)

Sejarah Hari Buku se-dunia 

Hari Buku se-dunia (world book day) sejak pertama kali ditetapkan oleh UNISCO pada 1995, sepanjang tahun merayakan setiap tahun. Sudah 29 Tahun lalu, penetapannya di konferensi umum UNISCO ke-28 di Paris.

Setiap 23 April dipilih karena tanggal ini banyak penulis besar dunia meninggal, seperti Shakespeare dan Cervantes.

Tujuan diselenggarakannya acara ini untuk promosi membaca, kesadaran Intektual hebat, penerbitan, dan hak cipta.

Tahun 2026 ini menghayati/memperingati hari buku se-dunia yang ke-31.

Dalam kesempatan ini, Gatiraa (komunitas kecil tentang kesadaran literasi) yang diselenggarakan dengan sederhana, kegiatan baca buku bersama (together books reading).
Gatiraa mengundang mahasiswa universitas Cenderawasih terutama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Dari banyak mahasiswa yang ada, 3 orang yang mewakili mengikuti kegiatan ini. Tiga (3) mahasiswa tersebut dua orang dari program studi Pendidikan Biologi dan satu orang dari Prodi Pendidikan Sejarah.

Kegiatan reading party book conversation adalah kegiatan kepedulian komunitas Gatiraa terhadap literasi (baca tulis) di Papua. Atas realitas yang sedang di hadapi oleh seluruh orang Papua tentang kurangnya minat  membaca buku yang menyebabkan tidak bisa berpikir kritis, mengikuti kegiatan hiburan saja dan dampaknya bisa dimanfaatkan oleh pihak bersangkutan. Karena kebodohan diri sendiri, serta tidak bisa melihat kehidupan sosial yang terjadi dimana-mana.

Dengan itu, Gatiraa mem -bergerak hati untuk membukakan pintu jalannya intektual yang berkualitas dari Timur Indonesia secara luas.

Narasumber terhebat (Kak Ohcy, educreator dan penulis buku 'Bagaimana jika")

Gatiraa hadirkan kegiatan hari buku sedunia, dengan narasumber yang luar biasa. Yaitu kak Ohcy educreator dan penulis buku " Bagaimana Jika". Dengan kak ohcy sangat memahami tentang pendidikan di Papua dan bagaimana anak-anak Papua belajar sesuai kontekstual Papua. Supaya pendidikan tidak jauh dari luar Papua tetapi belajar dari daerah nya sendiri.
Dengan berpikir kritis dan kreatif dalam kehidupan manusia. Kak Ohcy mengajarkan 3 mindset yang berkualitas tentang perilaku manusia untuk bersosial dalam masyarakat.

Dalam perjalanan kehidupan manusia sering muncul  rasa ingin tahu dan ambisi instraksi sosial tinggi untuk kemaknaan hidup sesungguhnya. Kak Ohcy menjelaskan secara sederhana sehingga peserta lebih 10 orang ikut sangat menikmati proses belajarnya.
selanjutnya, membaca buku masing-masing dan sharing apa yang dipelajari serta terakhir main gemas di buku tentang "Bagaimana jika" bersama kak Ohcy penulis bukunya. 
Buku ini sangat inspiratif bagi banyak orang. Singkat tetapi kena di sasaran untuk membedakan kehidupan manusia secara baik dan buruk. 

Diskusi Bersama dengan pihak Gatiraa dan kak Ohcy 

Pesan disampaikan dari Kak Ohcy dan pendiri Gatiraa kepada perwakilan mahasiswa FKIP Universitas Cenderawasih.
Harap kerjasamanya untuk mengadakan kegiatan Penggerak literasi kepada sesama mahasiswa dan masyarakat Papua. Supaya kesadaran manusia untuk memanusiakan manusia muncul dari peran literasi secara efektif terhadap semua pihak.

Jika FKIP UNCEN membutuhkan literasi secara umum, kami terbuka sekali untuk sama-sama menjalankan hal positif (pendidikan) kepada mahasiswa Papua, supaya menjadi guru profesional dan mengubah peradaban Pendidikan secara nyata.

Curhatan dan Pembayaran mandiri Waniel Weth 

Waniel Weth, mahasiswa pendidikan sejarah sangat berterima kasih karena selama Waniel selama tinggal di Jayapura tidak pernah mengikuti kegiatan seperti ini.
Waniel Weth, sebelum ikut kegiatan, sempat chat di grup WA (curhat), tentang pembayaran untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dan perpaksa bayar secara mandiri.
Untuk manfaat nya saya mendapatkan banyak hal positif. Terima kasih semuanya. 

Dicatat oleh Waniel Weth (Mahasiswa Prodi Pendidikan sejarah FKIP-UNCEN)

Salam literasi untuk seluruh mahasiswa Papua 🤝














Jumat, 03 April 2026

Komai, terinspirasi dari kisah perjuangan Atinus Meke, seorang Mahasiswa Uncen

 Komai, terinspirasi dari kisah perjuangan Atinus Meke, seorang Mahasiswa Uncen 

Foto orang tua, Yonas Meke, Desember 2025


KOMAI WAE AMLA 

(Seorang menggunakan Koteka)  

Suku Yalinimi Masyarakat Papua Pegunungan 


Koteka sebagai pakaian adat Papua Pegunungan,

Dalam tradisi hidup nenek moyang suku Yale nimi (Mek sekarang) Koteka bernilai tinggi untuk menutup kemaluan laki-laki, dan tidak ada hal yang untuk ditertawakan oleh pihak lain. Artinya seseorang menggunakan Koteka di depan banyak orang (publik) adalah hal normal bagi kehidupan suku Besar Yali & Mek.


Dalam skripsinya, (Anis Weth, 2024) mengatakan bahwa sistem kekerabatan sosial di kampung Lulun dan sekitarnya, masyarakat menggunakan komai sebagai pakaian adat, identitas bangsa, kebiasaan hidup yang secara sah. Tidak hal yang meremehkan budaya Koteka dari masyarakat imigran Barat yang datang melihat budaya Papua, lebih khususnya menikmati keindahan, kebiasaan hidup masyarakat dari pegunungan Papua.

Dengan demikian Koteka adalah pakaian adat istiadat suku dari Pegunungan Papua yang secara sah. Negara RI wajib mengakui budaya masyarakat yang menggunakan Koteka pakaian adat karena budaya adalah cipta rasa karya yang secara kreatif dan unik dari Papua Pegunungan.


Jenis-jenis Koteka (Komai fene)

1. Koteka (komai makne) koteka kecil yang biasa tanam di halaman rumah. Berfungsi untuk menutup kemaluan pria. 

2. Koteka Besar (Komai nubu engge) Komai ini disimpan bibit nya untuk menanam kembali ke tanah yang subur dan baik.

Karena tulang/kulit komai besar, sehingga berguna untuk bibitnya saja. Tetapi yang kecil juga ambil bibitnya demi menanam kembali.


Proses Tanam komai & menyimpan komai 

a. Tahapan menanam (komai memnep)

  Bibit nya komai yang sudah disimpan kering, itu taruh/menanam di tanah yang bagus. Sering menanam di halaman rumah yang tanahnya hitam. Supaya setelah di tanam langsung tubuh dengan baik. Biasanya komai harus ada tempat melintang kayu, tujuan perkembangan tumbuhan komai berjalan lancar dan berbuah.

b. Menyimpan Komai (Komai Pai amnep ae ak) Komai sudah tua berarti dipetik, bawah ke rumah untuk melakukan kubur di api, tujuannya panas dan mengeluarkan daging dari dalam komai, selanjutnya menyimpan di atas asap api (UK hin ak) supaya komai kering dan siap dipakai oleh seseorang. Jika kering bisa ikat dengan daun-daun seperti daun buah merah untuk diikat dan menyimpan di honai.


Untuk komai setiap orang dewasa sekitar umur 12-15 tahun, yang layak menggunakan komai sebagai orang yang dewasa secara sah pada umumnya.

Baik  dari nenek moyang sampai Injil masuk di wilayah ini. Injil masuk dan menghilangkan budaya menggunakan Koteka bagi orang Yalimek secara umumnya. Pembawa Injil (Allah Yubu) dari Suku Yali kepada Suku Yalinimi, Mek sekitar tahun 1982.


Tetapi sampai saat ini, orang tua dari kampung Thamak, Tiple, saolom, dan Gilika masih menggunakan komai. Walaupun orang lain sudah terbiasa dengan pakaian modern.


Buktinya, Yonas Meke atau (dipanggil dengan nama Yonathan Meke) dari kampung Thamak, masih menggunakan komai, sebagai pakaian adat identitas diri tidak bisa melepaskan. 


Orang tua, Yonathan Meke masih menggunakan Koteka sampai hari ini, Desember 2025 kemarin saya bicara dengan orang tua ini, sempat ada liburan ke kampung asalnya Wahalu, Gilika. 


Latar Belakang Yonathan Meke berasal dari Kampung Wahalu, Gilika. Tetapi dulu sekitar tahun 1970-an ia pergi imigrasi ke kampung Thamak. Karena keluarga Meke, dari kampung Wahalu ditinggalkan, sebab dianggap sebagai anak yatim-piatu. Sehingga tidak bisa memperhatikan dari Marga Meke.

Namun itu, Yonathan Meke pergi merantau ke Thamak untuk tinggal disitu dengan keluarga kerabat seperti Lukas Auk dan ada berapa orang lainnya. Tinggal menetap di kampung ini dan kawin dengan perempuan dari kampung merengman, sudah mempunyai anak-anak.

Sampai saat ini Yonathan tidak bisa balik ke kampung Wahalu. Karena sudah terdaftar sebagai kk di kampung ini selamanya.


Anak pertama dari bapak Yonathan adalah Atinus Meke.

Atinus Meke, Sekarang kuliah di Universitas Cenderawasih di fakultas Ekonomi dan Bisnis, pada jurusan/program studi Ekonomi Pembangunan.

Tahun 2026 ini  Atinus berstatus sebagai mahasiswa aktif pada semester IV (Empat), sedang mengikuti proses belajar mengajar di kampus nya.


Bapaknya, Yonathan Meke, sempat sakit di tahun 2024, pada saat itu Atinus Lulus SMA di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan.

Atinus dengar informasi bulan juli 2024, bahwa ayahnya sakit di kampung Thamak, distrik Welarek. 


Akhirnya Atinus berangkat ke kampung, Distrik Welarek menggunakan pesawat kecil. 


Tiba di Welarek, Atinus langsung pergi ke Kampung Thamak, sekitar 3/5 jam dalam perjalanan kaki. 

Tiba di kampung dengan kekhawatiran atas sakit orang tuanya. Ketemu dengan orang tua, Yonathan, anak selamat datang, saya tidak bisa hidup lagi (Name wali yalam Sempan, nai sumane naikna malioro delamnel).


Ah, nai mali danu alam kom yang artinya Bapak tidak akan meninggal.


Hari itu  tidur di kampung dengan orang tua. Hari besoknya, sekitar jam 5-6 pagi Atinus mengendong ayahnya. Naik ke Welarek berjalan kaki, Atinus tidak minta bantuan ke orang lain, tetapi Atinus sendiri; 


Di kampung Thamak, sebenarnya di kampung ini ada lapangan terbang untuk pesawat kecil.

Tetapi belum ada jadwal penerbangan untuk melayani masyarakat. Kecuali pesawat pakai yang bisa melayani di kampung Thamak.


Sampai di Welarek, pukul 10.30 WIT, Atinus tanya ke pegawai/karyawan Bandara Welarek.

Petugas karyawan, diinformasikan bahwa ada pesawat kecil. Tujuh ke Wamena, langsung Atinus beli tiket pesawat.


Pukul 12.45 WIT tiba wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.


Hari esoknya Atinus mau beli tiket pesawat tujuan ke Jayapura tetapi orang tuanya, tidak mau menggunakan pesawat, dengan alasan takut mati/meninggal di dalam pesawat.

Akhirnya Atinus ambil langkah strategis untuk jalan darat menggunakan mobil ke Jayapura. 


Meke bergerak untuk memastikan mobil tujuan ke Elelim, kab. Yalimo. Tapi di jalan trans Elelim-Wamena ada balang di tengah jalan.

 Atinus memikirkan caranya untuk hari itu juga bisa ke Elelim, jadi Atinus pakai mobil, tujuan berjalanan ke Elelim tetapi harus ikut jalan Kab.  Tolikara, akan tembus di tengah jalan trans Elelim-Wamena.

Tiba Elelim dengan selamat, Atinus tidak mau tinggal lama-lama di Elelim. Akan lanjutkan berjanan ke Jayapura menggunakan jalan trans Papua.

Tetap Atinus dengan ayahku sakit ikut berjalanan darat (mobil) ke Jayapura 2 hari.

Sampai di Jayapura, Atinus membawa ayahnya RSUD Dok 2, pada periksa dari tim medis bilang belum ada sakit.

Walaupun ayahnya sakit memang, Atinus tidak mau berdebat disitu.

Bergerak hatinya untuk membawa lagi ke rumah sakit lain yang ada di Jayapura.


Pada akhirnya orangtua Yonhtan sedikit membaik karena sudah minum obat.


Atinus bilang ke ayahnya, saya pergi tes ujian mandiri kampus di Uncen.

Ayahnya, bilang dengan Bahasa Yale/Mek 

(Nai pilam luam, wene nen wali wannati) yang artinya silahkan anak pergi tes, ayah sekarang sudah membaik jadi akan tinggal di rumah.


Atinus dan ayahnya, Yonatan habiskan satu bulan di Jayapura.


Atinus dengar begini, sudah lulus ujian di kampus universitas Cenderawasih Jayapura, di program studi Ekonomi Pembangunan.

Atinus senang sekali, karena sebuah perjuangan panjang ia lakukan seperti ambil ayah di kampung, membawa ke Jayapura sudah sembuh sampai hari ini masih baik kesehatan ayahnya.

Atinus juga bisa lulus ujian, menjadi mahasiswa baru di UNCEN tahun 2024.


Ayahnya sudah sembuh total sakitnya yang menderita, Atinus antar ayahnya ke kampung dan balik lanjutkan kuliah sebagai mahasiswa Uncen pada (semester I) di fakultas ekonomi dan bisnis universitas Cenderawasih (UNCEN) Jayapura. Sampai hari ini Atinus sebagai mahasiswa aktif di Uncen Jayapura.


Atinus terinspirasi & moral bagi anak-anak Papua yang lainnya bahwa:

1. Atinus mengurus ayahnya yang sakit sekaligus mengejar masa depannya.

2. Teman-temannya fokus masuk perguruan tinggi negeri dan swasta. Atinus berusaha untuk menyelamatkan ayah yang begitu menderita dengan sakit yang cukup tergolong. Atinus tidak menyerah dengan kehidupan ini. Tetapi usaha Atinus adalah membawanya orang tua dari di kampung ke kota. Karena di kampung belum ada tempat pelayanan kesehatan untuk melayani masyarakat yang sakit/menderita.

3. Mahasiswa adalah pembawa solusi bagi masyarakat seperti menolong orang tua, membantu orang sekitar yang membutuhkan tetapi juga kita terus mengejar masa depan dengan penuh perjuangan.

4. Atinus memberikan contoh kepada mahasiswa Papua yang lainnya bahwa jika orang tua kita sakit berarti kita harus usahakan orang tua kita membawa ke rumah sakit. Supaya dapat tertolong dari penyakit-penyakit nya.


Walaupun aktivitas kuliah padat tetapi kita Mahasiswa bagi waktu belajar menyesuaikan dengan terjadwal. Supaya dampak ilmu pengetahuan yang kita perjuangkan itu dapat bermanfaat bagi keluarga, komunitas, dan negara.


Penulis, Waniel Weth 

Jayapura, 4 April 2026





HMP Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN Gelar Diskusi Peringati Hari Buku Nasional

Doc: Foto bersama pemateri pada 15/05/2026. Jayapura, 17 Mei 2026 – Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Cenderawasi...