Oleh: Waniel Weth
Mahasiswa Program Studi Sejarah
Universitas Cenderawasih
Abstrak
Masuknya kekristenan ke Papua sejak abad ke-19 membawa dampak besar dalam perubahan struktur sosial, budaya, dan sistem kepercayaan masyarakat adat. Di balik narasi modernisasi dan pendidikan, terdapat proses hegemoni budaya yang menggeser praktik leluhur, ritual adat, dan identitas spiritual masyarakat Papua. Artikel ini mengkaji hubungan antara agama Kristen, kolonialisme, dan perubahan budaya di Papua melalui pendekatan sejarah kritis dan teori poskolonial. Temuan menunjukkan bahwa Injil tidak hanya berfungsi sebagai ajaran spiritual, tetapi juga instrumen kekuasaan yang membentuk pola pikir, identitas, dan orientasi budaya baru dalam masyarakat Papua.
Kata kunci: Papua, Injil, kolonialisme, budaya lokal, misi Kristen
Pendahuluan
Papua merupakan salah satu wilayah terakhir di Nusantara yang mengalami kontak langsung dengan misionaris Kristen. Kehadiran agama Kristen sering dipandang sebagai tonggak perubahan menuju pendidikan, kesehatan, dan modernitas (Giay, 1995). Namun perubahan ini membawa konsekuensi serius: terjadinya penghapusan sistem kepercayaan leluhur dan transformasi budaya melalui legitimasi agama.
Pertanyaan utama yang dikaji dalam tulisan ini adalah: Bagaimana penyebaran Injil berpengaruh terhadap hilangnya budaya tradisional Papua dan kepercayaan kepada leluhur?
Pembahasan
1. Sistem Kepercayaan Papua Sebelum Kristenisasi
Sebelum kedatangan misionaris, masyarakat Papua memiliki sistem spiritual berbasis relasi antara manusia, alam, roh leluhur, dan dunia sakral (Kamma, 1976). Upacara adat seperti tarian perang, penyembuhan tradisional, dan simbol-simbol sakral bukan sekadar ritual, tetapi sistem pengetahuan (indigenous knowledge system).
Namun, ketika misionaris tiba, praktik tersebut dilabeli sebagai pagan, kafir, dan penyembahan berhala (Hylkema, 2008).
2. Injil sebagai Instrumen Hegemoni Budaya
Kedatangan misionaris Protestan (1855) dan Katolik (1896) bukan hanya memperkenalkan agama baru, tetapi juga budaya Barat, seperti:
Sistem pendidikan formal
Cara berpakaian Barat
Struktur keluarga monogami
Bahasa asing sebagai bahasa ibadah
Menurut Said (1978), dominasi budaya melalui agama adalah bagian dari proyek orientalism kolonial. Di Papua, injil menjadi alat untuk membangun mentalitas tunduk dan merusak identitas kultural lokal (Giay, 2020).
3. Kolonialisme Rohani dan Transformasi Identitas
Proses kristenisasi beriringan dengan kekuasaan kolonial Belanda. Sekolah zending menghasilkan generasi Papua yang menjauhi budaya adat karena dianggap “dosa” (Widjojo, 2013). Akibatnya terjadi:
Alienasi identitas
Rasa inferior budaya lokal
Pemutusan hubungan kosmos-leluhur
Fanon (1963) menyebut kondisi ini sebagai colonial psychological subjugation—penjajahan mental dan spiritual.
4. Dampak pada Budaya dan Struktur Sosial
Beberapa perubahan yang muncul akibat penetrasi agama dan kolonialisme antara lain:
Aspek
Sebelum Injil
Setelah Kristenisasi
Sistem Kepercayaan
Leluhur & roh alam
Agama Kristen terpusat
Sosial
Kolektif-komunal
Individual dan institusional
Simbol budaya
Sakral
Dilarang/dipandang kafir
Ekspresi budaya
Bebas ritual adat
Dibatasi gereja
(Sumber: Kamma, 1976; Giay, 1995)
5. Gerakan Dekolonisasi Budaya Papua
Memasuki abad ke-21, muncul gerakan teologi kontekstual yang berusaha menegosiasikan hubungan antara adat dan Injil. Beberapa gereja mulai memasukkan unsur budaya lokal dalam ibadah sebagai upaya rekonsiliasi identitas (Roy, 2011).
Penutup
Kehadiran Injil di Papua tidak dapat dipisahkan dari agenda kolonial yang secara sistematis mengubah identitas masyarakat Papua. Meskipun kekristenan membawa pendidikan dan transformasi sosial, prosesnya juga menghapus atau memarginalkan budaya leluhur dan sistem spiritual setempat.
Dekolonisasi spiritual dan budaya di Papua menjadi kebutuhan penting agar masyarakat Papua tidak melihat adat sebagai dosa, tetapi sebagai bagian sah dari identitas historis dan teologis.
Daftar Pustaka
Fanon, F. (1963). The Wretched of the Earth. New York: Grove Press.
Giay, B. (1995). Menuju Papua Baru. Jayapura: Deiyai Press.
Giay, B. (2020). Agama dan Identitas Papua. Jayapura: Penerbit STT Walter Post.
Hylkema, T. (2008). Mission and Culture in Papua. Leiden: KITLV Press.
Kamma, F.C. (1976). Koreri: Messianism in Papua. The Hague: Martinus Nijhoff.
Roy, D. (2011). Christianity and Indigenous Expression in Melanesia. Canberra: ANU Press.
Said, E. (1978). Orientalism. London: Routledge.
Widjojo, M. (2013). Papua Road Map: Negotiating the Past and the Future. Jakarta: LIPI Press.






