peta situs

Minggu, 30 November 2025

64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

 


64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

Sumber: AI (oleh Waniel Weth)


Pendahuluan


Tanggal 1 Desember setiap tahun adalah salah satu tanggal paling penting dalam sejarah Papua. Bagi sebagian masyarakat Papua—khususnya kelompok pro-kemerdekaan—tanggal ini bukan sekadar momentum politik, tetapi simbol identitas, perjuangan, dan memori kolektif. Tahun 2025 menandai 64 tahun sejak 1 Desember 1961, ketika Dewan Nieuw Guinea (Nieuw Guinea Raad) mengesahkan simbol-simbol nasional Papoea: Bintang Kejora, lagu “Hai Tanahku Papua”, dan rancangan struktur negara.


Bagi masyarakat pro-kemerdekaan, 1 Desember dipahami sebagai “hari kelahiran bangsa Papua modern”. Namun bagi pemerintah Indonesia, tanggal ini tidak dianggap sebagai hari kemerdekaan. Perbedaan persepsi inilah yang menjadi sumber ketegangan politik selama lebih dari enam dekade.


Artikel ini tidak memihak pada agenda politik apa pun; tujuannya memberikan pemahaman historis dan ilmiah mengenai makna 1 Desember, perubahan politik Papua sejak 1961, dan dampaknya bagi masyarakat Papua hingga tahun 2025.



1. Sejarah 1 Desember 1961


1.1. Sidang Nieuw Guinea Raad


Pada tahun 1961, Belanda memberikan peluang bagi rakyat Papua untuk mulai mempersiapkan pemerintahan sendiri. Melalui Dewan Nieuw Guinea:


Bendera Bintang Kejora dikibarkan sebagai simbol nasional Papua


Lagu Hai Tanahku Papua diresmikan


Nama bangsa Papoea dipakai secara resmi


Ditetapkan rencana kemerdekaan bertahap dalam beberapa tahun



Tanggal 1 Desember 1961 kemudian menjadi simbol “kelahiran politik” bagi sebagian besar rakyat Papua.


1.2. Konflik dengan Indonesia


Indonesia, di bawah Presiden Soekarno, menolak rencana Belanda dan menganggap Papua bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Pada 19 Desember 1961, Soekarno mengumumkan Trikora untuk “merebut Irian Barat”.


Ketegangan meningkat hingga:


Perjanjian New York 1962 (tanpa perwakilan Papua),


Masuknya pasukan Indonesia,


Penyerahan UNTEA 1963,


Pepera 1969 yang kontroversial.



2. Mengapa 1 Desember Dirayakan Setiap Tahun?


2.1. Simbol Identitas


Bagi banyak orang Papua, 1 Desember melambangkan:


pengakuan identitas nasional,


sejarah yang dihapus negara,


harga diri kolektif,


simbol bahwa mereka bukan hanya “daerah” tetapi “bangsa”.



2.2. Mengingat Luka Sejarah


Peralihan kekuasaan dari Belanda ke Indonesia menimbulkan:


operasi militer,


pelanggaran HAM,


pemaksaan politik,


hilangnya simbol Papua.



Peristiwa-peristiwa ini membentuk memori trauma yang masih dirasakan hingga generasi 2025.


2.3. Resistensi Damai


Kelompok pro-kemerdekaan merayakan 1 Desember sebagai bentuk perlawanan damai, ekspresi hak politik, dan penguatan identitas. Sebagian mengibarkan Bintang Kejora, sebagian menggelar ibadah syukur, renungan, atau aksi damai.



3. Mengapa 2025 Disebut 64 Tahun?


Perhitungan 64 tahun berasal dari:


2025 – 1961 = 64 tahun


Artinya:


> Sudah enam dekade lebih sejak Papua pertama kali mendeklarasikan simbol kenegaraan modernnya.



Selama 64 tahun tersebut, masyarakat Papua mengalami:


integrasi paksa,


perubahan politik besar,


mobilisasi penduduk dari luar Papua,


pembangunan yang tidak merata,


konflik berkepanjangan.



4. Kondisi Papua Selama 64 Tahun Bersama Indonesia


4.1. Ekonomi dan Pembangunan


Papua tetap menjadi wilayah:


termiskin di Indonesia,


infrastruktur tertinggal,


angka gizi buruk tinggi,


kematian ibu dan anak tertinggi nasional.



Walaupun sumber daya alam melimpah, manfaatnya tidak dinikmati mayoritas orang asli Papua.


4.2. Konflik dan Keamanan


Konflik antara aparat dan kelompok bersenjata berlangsung sejak 1960-an hingga 2025, menyebabkan:


pengungsian massal,


kematian warga sipil,


trauma turun-temurun.



4.3. Demokrasi yang Terbatas


Ruang berekspresi sering dibatasi:


pembubaran aksi damai,


pelarangan simbol identitas,


kriminalisasi aktivis.



Hal ini memicu persepsi bahwa Papua tidak diperlakukan sebagai warga negara yang setara.



5. Makna 1 Desember bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan


5.1. Hari Kebangkitan Identitas


Ini adalah hari untuk:


merayakan jati diri,


mengenang leluhur,


menguatkan solidaritas sesama orang Papua.



5.2. Hari Perjuangan Damai


Banyak kelompok memaknai 1 Desember sebagai:


momentum refleksi,


doa perdamaian,


pendidikan politik,


memperkuat hak-hak masyarakat adat.



5.3. Hari Pengingat Ketidakadilan


Sebagian masyarakat mengingat:


sejarah politik yang tidak adil,


penindasan,


ketidakmerataan pembangunan,


hilangnya tanah adat dan budaya.



6. Sikap Pemerintah Indonesia


Pemerintah Indonesia melihat 1 Desember sebagai:


bagian dari gerakan separatisme,


ancaman terhadap kedaulatan negara,


simbol politik yang dilarang.



Namun pendekatan keamanan yang dominan justru mempertajam luka sejarah. Sejumlah akademisi Indonesia sendiri menilai bahwa:


> Papua tidak akan damai tanpa dialog bermartabat, keadilan, dan penghormatan identitas.



7. Apa Harapan Papua di Usia 64 Tahun Ini?


Terlepas dari perbedaan pandangan politik, mayoritas masyarakat Papua menginginkan:


penghentian kekerasan,


hak hidup aman,


pemulihan martabat budaya,


ruang demokrasi lebih bebas,


pembangunan manusia yang merata,


reformasi kebijakan Otsus,


dialog sejati Jakarta–Papua.



Generasi muda Papua ingin masa depan yang:


berakar pada budaya,


intelektual,


damai,


bermartabat.



Penutup


Tanggal 1 Desember 1961–2025 bukan sekadar sejarah, tetapi pengalaman hidup selama 64 tahun yang membentuk identitas dan perjuangan masyarakat Papua.


Bagi kelompok pro-kemerdekaan, hari ini:


adalah tanda kelahiran bangsa,


simbol harga diri,


refleksi luka sejarah,


dan harapan masa depan.


Tugas generasi kini bukan memperpanjang konflik, tetapi mencari jalan damai, keadilan, dan pengakuan martabat manusia di tanah Papua.


Senin, 24 November 2025

Injil, Kolonialisme, dan Hilangnya Budaya Lokal: Kajian Kritis Proses Kristenisasi di Papua

 


Oleh: Waniel Weth

Mahasiswa Program Studi Sejarah

Universitas Cenderawasih


Abstrak

Masuknya kekristenan ke Papua sejak abad ke-19 membawa dampak besar dalam perubahan struktur sosial, budaya, dan sistem kepercayaan masyarakat adat. Di balik narasi modernisasi dan pendidikan, terdapat proses hegemoni budaya yang menggeser praktik leluhur, ritual adat, dan identitas spiritual masyarakat Papua. Artikel ini mengkaji hubungan antara agama Kristen, kolonialisme, dan perubahan budaya di Papua melalui pendekatan sejarah kritis dan teori poskolonial. Temuan menunjukkan bahwa Injil tidak hanya berfungsi sebagai ajaran spiritual, tetapi juga instrumen kekuasaan yang membentuk pola pikir, identitas, dan orientasi budaya baru dalam masyarakat Papua.


Kata kunci: Papua, Injil, kolonialisme, budaya lokal, misi Kristen



Pendahuluan

Papua merupakan salah satu wilayah terakhir di Nusantara yang mengalami kontak langsung dengan misionaris Kristen. Kehadiran agama Kristen sering dipandang sebagai tonggak perubahan menuju pendidikan, kesehatan, dan modernitas (Giay, 1995). Namun perubahan ini membawa konsekuensi serius: terjadinya penghapusan sistem kepercayaan leluhur dan transformasi budaya melalui legitimasi agama.

Pertanyaan utama yang dikaji dalam tulisan ini adalah: Bagaimana penyebaran Injil berpengaruh terhadap hilangnya budaya tradisional Papua dan kepercayaan kepada leluhur?



Pembahasan

1. Sistem Kepercayaan Papua Sebelum Kristenisasi

Sebelum kedatangan misionaris, masyarakat Papua memiliki sistem spiritual berbasis relasi antara manusia, alam, roh leluhur, dan dunia sakral (Kamma, 1976). Upacara adat seperti tarian perang, penyembuhan tradisional, dan simbol-simbol sakral bukan sekadar ritual, tetapi sistem pengetahuan (indigenous knowledge system).

Namun, ketika misionaris tiba, praktik tersebut dilabeli sebagai pagan, kafir, dan penyembahan berhala (Hylkema, 2008).

2. Injil sebagai Instrumen Hegemoni Budaya

Kedatangan misionaris Protestan (1855) dan Katolik (1896) bukan hanya memperkenalkan agama baru, tetapi juga budaya Barat, seperti:

Sistem pendidikan formal

Cara berpakaian Barat

Struktur keluarga monogami

Bahasa asing sebagai bahasa ibadah

Menurut Said (1978), dominasi budaya melalui agama adalah bagian dari proyek orientalism kolonial. Di Papua, injil menjadi alat untuk membangun mentalitas tunduk dan merusak identitas kultural lokal (Giay, 2020).

3. Kolonialisme Rohani dan Transformasi Identitas

Proses kristenisasi beriringan dengan kekuasaan kolonial Belanda. Sekolah zending menghasilkan generasi Papua yang menjauhi budaya adat karena dianggap “dosa” (Widjojo, 2013). Akibatnya terjadi:

Alienasi identitas

Rasa inferior budaya lokal

Pemutusan hubungan kosmos-leluhur

Fanon (1963) menyebut kondisi ini sebagai colonial psychological subjugation—penjajahan mental dan spiritual.

4. Dampak pada Budaya dan Struktur Sosial

Beberapa perubahan yang muncul akibat penetrasi agama dan kolonialisme antara lain:


Aspek

Sebelum Injil

Setelah Kristenisasi

Sistem Kepercayaan

Leluhur & roh alam

Agama Kristen terpusat

Sosial

Kolektif-komunal

Individual dan institusional

Simbol budaya

Sakral

Dilarang/dipandang kafir

Ekspresi budaya

Bebas ritual adat

Dibatasi gereja

(Sumber: Kamma, 1976; Giay, 1995)

5. Gerakan Dekolonisasi Budaya Papua

Memasuki abad ke-21, muncul gerakan teologi kontekstual yang berusaha menegosiasikan hubungan antara adat dan Injil. Beberapa gereja mulai memasukkan unsur budaya lokal dalam ibadah sebagai upaya rekonsiliasi identitas (Roy, 2011).

Penutup

Kehadiran Injil di Papua tidak dapat dipisahkan dari agenda kolonial yang secara sistematis mengubah identitas masyarakat Papua. Meskipun kekristenan membawa pendidikan dan transformasi sosial, prosesnya juga menghapus atau memarginalkan budaya leluhur dan sistem spiritual setempat.

Dekolonisasi spiritual dan budaya di Papua menjadi kebutuhan penting agar masyarakat Papua tidak melihat adat sebagai dosa, tetapi sebagai bagian sah dari identitas historis dan teologis.





Daftar Pustaka

Fanon, F. (1963). The Wretched of the Earth. New York: Grove Press.

Giay, B. (1995). Menuju Papua Baru. Jayapura: Deiyai Press.

Giay, B. (2020). Agama dan Identitas Papua. Jayapura: Penerbit STT Walter Post.

Hylkema, T. (2008). Mission and Culture in Papua. Leiden: KITLV Press.

Kamma, F.C. (1976). Koreri: Messianism in Papua. The Hague: Martinus Nijhoff.

Roy, D. (2011). Christianity and Indigenous Expression in Melanesia. Canberra: ANU Press.

Said, E. (1978). Orientalism. London: Routledge.

Widjojo, M. (2013). Papua Road Map: Negotiating the Past and the Future. Jakarta: LIPI Press.


Senin, 17 November 2025

Kuliah Umum Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Public lecture “Dinamika Timur Tengah dalam Diplomasi Indonesia” Aula FISIP Universitas Cenderawasih – Jayapura, 18 November 2025


      Foto Waniel-dengan anggota BSKLN yang bagian keamanan dan hukum di Timur Tengah.


LAPORAN KEGIATAN

Kuliah Umum Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia

Public lecture “Dinamika Timur Tengah dalam Diplomasi Indonesia” 

Aula FISIP Universitas Cenderawasih – Jayapura, 18 November 2025.


1. Latar Belakang

   Kuliah umum ini diselenggarakan oleh Badan Sinergi Kementerian Luar Negeri (BSKLN) sebagai bagian dari upaya memperluas literasi publik mengenai politik luar negeri Indonesia. Kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan akademik kepada dosen, mahasiswa, dan civitas akademika Universitas Cenderawasih Jayapura mengenai dinamika kawasan Timur Tengah serta posisi strategis Indonesia di tingkat global.

Pemilihan Papua—khususnya Universitas Cenderawasih—menjadi lokasi kuliah umum merupakan bentuk komitmen Kementerian Luar Negeri untuk menghadirkan edukasi diplomasi secara merata di seluruh Indonesia, termasuk Indonesia Timur.

2. Pemateri

Kuliah umum dibawakan oleh Disampaikan oleh: Vahd Nabyl Achmad Muchela

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika, didampingi oleh beberapa anggota tim BSKLN. Para pemateri memberikan penjelasan teoritis sekaligus pengalaman lapangan selama bertugas dalam berbagai misi diplomasi di Timur Tengah.

3. Agenda Materi

Berdasarkan slide dan penjelasan pemateri, terdapat enam poin pokok yang disampaikan, yaitu:

1. Sekilas tentang BSKLN

2. Mengenal kawasan “Timur Tengah”

3. Signifikansi kontemporer Timur Tengah

4. Dinamika hubungan Indonesia dan Timur Tengah

5. Diplomatic exposures di Timur Tengah

6. Key takeaways (poin-poin penting)

4. Penjelasan Materi Kuliah Umum

1) Sekilas tentang BSKLN

Pemateri menjelaskan fungsi BSKLN sebagai jembatan antara Kementerian Luar Negeri dan publik. Tugas BSKLN meliputi:

Melaksanakan kuliah umum, edukasi, dan diseminasi kebijakan luar negeri.

Menghubungkan diplomasi pemerintah dengan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat.

Meningkatkan pemahaman publik terhadap isu-isu internasional.

Melalui kegiatan seperti ini, BSKLN berharap generasi muda Papua semakin melek geopolitik dan memahami peran Indonesia di dunia.

2) Mengenal Kawasan “Timur Tengah”

Pemateri menguraikan batasan geografis dan karakteristik kawasan Timur Tengah, termasuk:

Negara-negara yang tergolong sebagai Timur Tengah.

Ciri budaya, agama, bahasa, serta sejarah panjang peradaban di kawasan tersebut.

Mengapa kawasan ini menjadi pusat perhatian dunia, baik dari sisi energi, politik, maupun keamanan.

Kawasan ini memiliki hubungan historis dengan Indonesia melalui perdagangan, pendidikan, diplomasi, dan ikatan keagamaan.

3) Signifikansi Kontemporer Timur Tengah

Poin ini menekankan pentingnya Timur Tengah di era modern:

Energi dunia: pemasok utama minyak dan gas global.

Perdagangan internasional: jalur vital seperti Terusan Suez dan Selat Hormuz.

Investasi & ekonomi: peluang kerja sama dengan negara Teluk yang sedang tumbuh cepat.

Politik global: dinamika konflik Palestina, Suriah, Yaman, rivalitas Iran–Saudi, hingga normalisasi hubungan antarnegara.

Indonesia berkepentingan menjaga stabilitas dan membangun kemitraan strategis dengan kawasan ini.

4) Dinamika Hubungan Indonesia dan Timur Tengah

Pemateri menjelaskan hubungan bilateral dan multilateral antara Indonesia dan negara-negara Timur Tengah, meliputi:

Kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi.

Kerja sama pendidikan, keagamaan, dan pertukaran budaya.

Perlindungan WNI dan pekerja migran.

Diplomasi Indonesia di forum internasional (OKI, GNB, PBB) terutama terkait isu Palestina.

Kunjungan kenegaraan, perjanjian bilateral, dan peluang kerja sama baru di masa depan.

Kawasan Timur Tengah juga menjadi mitra penting dalam penguatan ketahanan energi nasional.

5) Diplomatic Exposures di Timur Tengah

Bagian ini menjadi sangat menarik karena pemateri dan tim BSKLN berbagi pengalaman nyata selama menjalankan tugas diplomasi:

Menangani konflik dan situasi krisis untuk melindungi WNI.


Negosiasi diplomatik dalam isu keamanan, hukum internasional, dan kemanusiaan.

Pengalaman evakuasi warga Indonesia di negara konflik seperti Suriah dan Yaman.

Upaya membangun kerja sama ekonomi dan menarik investasi.

Pembelajaran penting tentang komunikasi budaya, sensitivitas politik, dan etika diplomasi.

Bagian ini memberikan gambaran nyata tentang dunia diplomasi di lapangan.

6) Key Takeaways (Hal-Hal Penting yang Perlu Diingat)

Pada penutup materi, pemateri menyoroti beberapa pelajaran utama:

Diplomasi adalah kombinasi antara keahlian komunikasi, pemahaman budaya, dan kemampuan negosiasi.

Timur Tengah adalah kawasan strategis yang sangat memengaruhi ekonomi dan stabilitas dunia.

Indonesia memiliki posisi terhormat di mata negara-negara kawasan sebagai negara Muslim terbesar yang demokratis dan moderat.

Mahasiswa harus memahami geopolitik agar mampu membaca isu global dan berkontribusi dalam masa depan diplomasi Indonesia.

Kemenlu RI hadir di Papua untuk mendorong generasi muda agar lebih terlibat dalam isu internasional.


5. Kesimpulan

        Kuliah umum Kementerian Luar Negeri RI di Aula FISIP-UNCEN memberikan wawasan komprehensif tentang geopolitik Timur Tengah dan peran strategis Indonesia. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga dilengkapi dengan pengalaman langsung para diplomat, sehingga sangat bermanfaat bagi peserta.

      Kegiatan ini diharapkan memperluas pengetahuan mahasiswa dan dosen mengenai diplomasi, serta memotivasi generasi muda Papua untuk memahami isu global dan ikut berperan dalam membangun hubungan internasional Indonesia di masa depan.


Dicatat oleh Waniel Weth mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN Jayapura.

Jumat, 14 November 2025

Jiwa Anak-Anak Muda Kristen untuk Mengubah Peradaban Dunia Baru Papua Dalam Kegiatan Weekend Alumni Perkantas Papua 2025, Hotel Suni Abepura, Jayapura ( – 05 November 2025);

 Jiwa Anak-Anak Muda Kristen untuk Mengubah Peradaban Dunia Baru Papua

Dalam Kegiatan Weekend Alumni Perkantas Papua 2025,

Hotel Suni Abepura, Jayapura ( – 05 November 2025);



Foto 4 orang anak Papua, di hotel suni Abepura, Jayapura. November 2025;

Jayapura — Suasana hangat dan penuh sukacita memenuhi ruang pertemuan di Hotel Suni Abepura, Jayapura, dalam rangka kegiatan Weekend Alumni Perkantas Papua tahun 2025. Acara yang mempertemukan berbagai generasi alumni dan kader muda Perkantas ini menjadi momentum berharga untuk memperkuat kembali panggilan pelayanan, kekeluargaan, dan semangat perubahan bagi tanah Papua.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, sejumlah anak muda Kristen yang hadir menunjukkan antusiasme luar biasa untuk terlibat dalam gerakan pembaharuan. Empat pemuda yang tergambar dalam dokumentasi acara tersebut menjadi representasi generasi baru Papua yang memiliki hati untuk Tuhan dan kerinduan untuk membangun peradaban baru melalui integritas, iman, dan karya nyata.

Pertemuan ini bukan sekadar reuni, tetapi wadah refleksi dan penguatan iman. Para peserta diajak menggali kembali visi Perkantas: membentuk mahasiswa dan pelajar Kristen yang memiliki karakter Kristus, pemimpin yang berintegritas, serta pribadi yang berdampak bagi masyarakat. Melalui sesi pembinaan, doa, dan diskusi, para muda-mudi ini disadarkan kembali bahwa perubahan Papua dimulai dari generasi yang mau dibentuk dan diperlengkapi.

Salah satu peserta menyampaikan bahwa melalui kegiatan Weekend Alumni ini, mereka semakin yakin bahwa Tuhan sedang menyiapkan generasi transformatif yang akan membawa angin segar bagi Papua, baik di bidang pelayanan, pendidikan, kemasyarakatan, hingga kepemimpinan.

“Kami percaya bahwa Papua akan mengalami perubahan ketika generasi mudanya hidup takut akan Tuhan dan mau bekerja dengan hati yang benar,” ujarnya.

Acara Weekend Alumni Perkantas Papua 2025 ini menjadi titik temu antara pengalaman masa lalu dan harapan masa depan. Dengan semangat persaudaraan dan kasih Kristus, para peserta pulang dengan hati yang dipenuhi sukacita dan komitmen untuk terus menjadi garam dan terang bagi Papua—membangun peradaban baru yang penuh kebenaran, damai, dan pengharapan.


Oleh Waniel Weth 


Salah satu dari 4 orang itu pada gambar 📝

BERSAMA KB-YUSIDABEUR RAYON GILIKA MEMBAWA PERSATUAN MAHASISWA & MASYARAKAT GILIKA KELUAR DARI SEKAT EGOISME

 BERSAMA KB-YUSIDABEUR RAYON GILIKA MEMBAWA PERSATUAN MAHASISWA & MASYARAKAT GILIKA KELUAR DARI SEKAT EGOISME. (November 2025);

   Doc: foto bersama oleh generasi Muda Gilika di Jayapura, November 2025.

Sudah saatnya generasi muda Gilika, khususnya Mahasiswa, bangkit dari sekat-sekat sempit yang selama ini membelenggu semangat kebersamaan. Egoisme kampung, Distrik, lahir besar kota, kampung dan ikatan lokal yang menutup ruang dialog dan kolaborasi hanya melahirkan perpecahan yang melemahkan kekuatan intelektual kita sendiri. Kita lupa bahwa tujuan utama Mahasiswa bukan sekadar mengangkat identitas asal, tetapi membangun kesadaran kolektif demi perubahan sosial yang lebih besar bagi seluruh masyarakat Gilika.


Persatuan sejati tidak lahir dari asal-usul yang sama, tetapi dari kesadaran bahwa masa depan daerah ini ditentukan oleh kemampuan kita untuk berpikir dan bergerak bersama. 

Mahasiswa Gilika harus berani keluar dari kotak sempit primordialisme lokal, dan menatap jauh ke depan sebagai satu tubuh yang menyatu dalam visi besar: pendidikan, kemajuan, dan pembebasan dari ketertinggalan.


Ketika Mahasiswa lebih sibuk mempertahankan nama kampung, Distrik atau lahir besar kota dan kampung dari pada memperjuangkan kepentingan bersama, maka cita-cita untuk melahirkan perubahan hanya akan menjadi slogan kosong. Kita tidak sedang bersaing untuk menjadi yang paling dikenal, tetapi sedang meniti jalan panjang untuk menjadi generasi yang dikenang karena menyatukan yang tercerai.


Kini waktunya membangun solidaritas intelektual sebuah ikatan yang melampaui batas. Persatuan Mahasiswa Gilika harus menjadi fondasi baru yang menolak fragmentasi sosial dan menegaskan bahwa kekuatan sejati lahir dari kebersamaan.


Kita semua berasal dari kampung yang berbeda, tetapi darah dan tanah yang kita pijak adalah satu: *GILIKA* . Maka, marilah kita keluar dari sekat egoisme yang sempit, berdiri dalam semangat kesetaraan, dan bersama-sama menulis babak baru sejarah MAHASISWA Gilika generasi yang berpikir global, tetapi tetap berakar pada nilai dan martabat lokalnya.


NANGKABO 

Wali ... 3X


Dokumen:

Dokumentasi ini adalah giat Mahasiswa asal Gilika di Kota Jayapura setelah melakukan kegiatan _"Pelatihan Administrasi & Kesekretariatan"._ 


 _Jayapura, 11 November 2025_


Oleh:

 *ARKILAUS WABUK*

Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN Alami Kecelakaan, Teman-Teman Lakukan Kunjungan di Rumah Sakit Dian Harapan Jayapura, (13–14 November 2025)

 Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN Alami Kecelakaan, Teman-Teman Lakukan Kunjungan di Rumah Sakit Dian Harapan

Jayapura, (13–14 November 2025)

      Doc: Foto Yaniton Murib, di rumah sakit Dian Harapan, Waena, Jayapura.


Seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Cenderawasih (UNCEN), Yaniton Murib, mengalami kecelakaan kendaraan bermotor pada Kamis, 13 November 2025 sekitar pukul 16.40 WIT. Insiden terjadi di area antara pos penjagaan Uncen, jalan menuju Kamvolker Waena, dan akses Uncen Atas.

Menurut keterangan keluarga, khususnya dari pihak om-nya yang turut mengalami kecelakaan, Yaniton bersama om-nya berangkat dari Arso menuju Abepura, kemudian naik ke Rektorat Uncen untuk melakukan pelaporan administrasi terkait persiapan wisuda tanggal 20 November mendatang. Setelah selesai mengurus laporan, keduanya turun kembali menuju Waena.

Kronologis Singkat Kejadian

Di dekat pos penjagaan Uncen, Yaniton diduga kehilangan kontrol dan tidak sempat melakukan pengereman, sehingga motor yang dikendarainya mengalami benturan dan menyebabkan keduanya terjatuh.

Yaniton Murib mengalami luka cukup serius di bagian wajah, mata, dan tangan,

Sementara om-nya mengalami luka lebih ringan pada bagian kaki.

Yaniton langsung dilarikan ke Rumah Sakit Dian Harapan, Waena pada hari kejadian. Hingga Jumat, 14 November 2025, kondisi Yaniton masih belum dapat bicara maupun makan, sehingga memerlukan perawatan intensif.

Kunjungan Teman-Teman dan Permohonan Orang Tua

Sejumlah teman sekelas, termasuk Waniel Weth dan Temerius Mul, melakukan kunjungan langsung untuk melihat kondisi Yaniton di Rumah Sakit Dian Harapan. Mereka juga akan menyampaikan pemberitahuan resmi kepada dosen-dosen bersangkutan serta ketua kelas mengenai kondisi Yaniton.

Pihak keluarga berharap agar Yaniton diberikan keringanan dalam kegiatan perkuliahan dan administrasi kampus selama beberapa minggu ke depan, hingga kondisi kesehatannya membaik.

Ajakan untuk Teman-Teman Kampus

Pihak keluarga dan teman-teman mengajak siapa pun yang memiliki kesempatan untuk turut menjenguk atau memberikan dukungan doa bagi Yaniton. Musibah ini menjadi pengingat bahwa solidaritas dan kepedulian antar mahasiswa sangat penting dalam menghadapi tantangan hidup.

Penutup

Demikian informasi kecelakaan yang menimpa saudara Yaniton Murib, mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN semester III.

Semoga Yaniton segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa.


Jayapura, Jumat, 14 November 2025


Disampaikan oleh:

Waniel & Temerius – Teman Kelas Yaniton

Minggu, 09 November 2025

SELAMAT KEPADA WANIEL WETH, JUARA II DUTA BACA UPA PERPUSTAKAAN UNCEN 2025

Di Tulis oleh Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN 

               Doc: Foto setelah dapat juara II Duta Baca UPA Perpustakaan UNCEN Jayapura.


SELAMAT KEPADA WANIEL WETH, JUARA II DUTA BACA UPA PERPUSTAKAAN UNCEN 2025. (Jayapura, 06 November 2025).

       Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Cenderawasih, Waniel Weth, yang berhasil meraih Juara II Pemilihan Duta Baca UPA Perpustakaan Universitas Cenderawasih Tahun 2025.

Acara pemilihan Duta Baca ini diselenggarakan oleh UPA Perpustakaan Universitas Cenderawasih pada Kamis, 6 November 2025, bertempat di Gedung UPA Perpustakaan UNCEN Jayapura. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program literasi kampus yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan budaya literasi di kalangan mahasiswa.

Dalam ajang bergengsi ini, Waniel Weth tampil dengan penuh percaya diri, menampilkan wawasan luas dan semangat tinggi dalam mempromosikan gerakan literasi di lingkungan kampus. Keberhasilannya menjadi Juara II merupakan bukti nyata komitmen mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah dalam mendukung kemajuan literasi di Tanah Papua.

“Menjadi Duta Baca bukan hanya tentang penghargaan, tapi tentang tanggung jawab untuk menginspirasi mahasiswa lain agar gemar membaca dan menulis,” ungkap Waniel setelah menerima sertifikat dan medali penghargaan.

Kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi seluruh sivitas akademika Universitas Cenderawasih untuk terus mengembangkan budaya literasi dan memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan di bidang pendidikan dan pengetahuan.

Seluruh keluarga besar Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN Jayapura mengucapkan selamat dan sukses kepada Waniel Weth atas prestasi yang diraih. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan berkontribusi positif bagi kampus dan masyarakat Papua.




64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

  64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan Sumber: AI (oleh Waniel Weth) Pendahuluan Tanggal 1 De...