peta situs

Jumat, 14 November 2025

BERSAMA KB-YUSIDABEUR RAYON GILIKA MEMBAWA PERSATUAN MAHASISWA & MASYARAKAT GILIKA KELUAR DARI SEKAT EGOISME

 BERSAMA KB-YUSIDABEUR RAYON GILIKA MEMBAWA PERSATUAN MAHASISWA & MASYARAKAT GILIKA KELUAR DARI SEKAT EGOISME. (November 2025);

   Doc: foto bersama oleh generasi Muda Gilika di Jayapura, November 2025.

Sudah saatnya generasi muda Gilika, khususnya Mahasiswa, bangkit dari sekat-sekat sempit yang selama ini membelenggu semangat kebersamaan. Egoisme kampung, Distrik, lahir besar kota, kampung dan ikatan lokal yang menutup ruang dialog dan kolaborasi hanya melahirkan perpecahan yang melemahkan kekuatan intelektual kita sendiri. Kita lupa bahwa tujuan utama Mahasiswa bukan sekadar mengangkat identitas asal, tetapi membangun kesadaran kolektif demi perubahan sosial yang lebih besar bagi seluruh masyarakat Gilika.


Persatuan sejati tidak lahir dari asal-usul yang sama, tetapi dari kesadaran bahwa masa depan daerah ini ditentukan oleh kemampuan kita untuk berpikir dan bergerak bersama. 

Mahasiswa Gilika harus berani keluar dari kotak sempit primordialisme lokal, dan menatap jauh ke depan sebagai satu tubuh yang menyatu dalam visi besar: pendidikan, kemajuan, dan pembebasan dari ketertinggalan.


Ketika Mahasiswa lebih sibuk mempertahankan nama kampung, Distrik atau lahir besar kota dan kampung dari pada memperjuangkan kepentingan bersama, maka cita-cita untuk melahirkan perubahan hanya akan menjadi slogan kosong. Kita tidak sedang bersaing untuk menjadi yang paling dikenal, tetapi sedang meniti jalan panjang untuk menjadi generasi yang dikenang karena menyatukan yang tercerai.


Kini waktunya membangun solidaritas intelektual sebuah ikatan yang melampaui batas. Persatuan Mahasiswa Gilika harus menjadi fondasi baru yang menolak fragmentasi sosial dan menegaskan bahwa kekuatan sejati lahir dari kebersamaan.


Kita semua berasal dari kampung yang berbeda, tetapi darah dan tanah yang kita pijak adalah satu: *GILIKA* . Maka, marilah kita keluar dari sekat egoisme yang sempit, berdiri dalam semangat kesetaraan, dan bersama-sama menulis babak baru sejarah MAHASISWA Gilika generasi yang berpikir global, tetapi tetap berakar pada nilai dan martabat lokalnya.


NANGKABO 

Wali ... 3X


Dokumen:

Dokumentasi ini adalah giat Mahasiswa asal Gilika di Kota Jayapura setelah melakukan kegiatan _"Pelatihan Administrasi & Kesekretariatan"._ 


 _Jayapura, 11 November 2025_


Oleh:

 *ARKILAUS WABUK*

Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN Alami Kecelakaan, Teman-Teman Lakukan Kunjungan di Rumah Sakit Dian Harapan Jayapura, (13–14 November 2025)

 Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN Alami Kecelakaan, Teman-Teman Lakukan Kunjungan di Rumah Sakit Dian Harapan

Jayapura, (13–14 November 2025)

      Doc: Foto Yaniton Murib, di rumah sakit Dian Harapan, Waena, Jayapura.


Seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Cenderawasih (UNCEN), Yaniton Murib, mengalami kecelakaan kendaraan bermotor pada Kamis, 13 November 2025 sekitar pukul 16.40 WIT. Insiden terjadi di area antara pos penjagaan Uncen, jalan menuju Kamvolker Waena, dan akses Uncen Atas.

Menurut keterangan keluarga, khususnya dari pihak om-nya yang turut mengalami kecelakaan, Yaniton bersama om-nya berangkat dari Arso menuju Abepura, kemudian naik ke Rektorat Uncen untuk melakukan pelaporan administrasi terkait persiapan wisuda tanggal 20 November mendatang. Setelah selesai mengurus laporan, keduanya turun kembali menuju Waena.

Kronologis Singkat Kejadian

Di dekat pos penjagaan Uncen, Yaniton diduga kehilangan kontrol dan tidak sempat melakukan pengereman, sehingga motor yang dikendarainya mengalami benturan dan menyebabkan keduanya terjatuh.

Yaniton Murib mengalami luka cukup serius di bagian wajah, mata, dan tangan,

Sementara om-nya mengalami luka lebih ringan pada bagian kaki.

Yaniton langsung dilarikan ke Rumah Sakit Dian Harapan, Waena pada hari kejadian. Hingga Jumat, 14 November 2025, kondisi Yaniton masih belum dapat bicara maupun makan, sehingga memerlukan perawatan intensif.

Kunjungan Teman-Teman dan Permohonan Orang Tua

Sejumlah teman sekelas, termasuk Waniel Weth dan Temerius Mul, melakukan kunjungan langsung untuk melihat kondisi Yaniton di Rumah Sakit Dian Harapan. Mereka juga akan menyampaikan pemberitahuan resmi kepada dosen-dosen bersangkutan serta ketua kelas mengenai kondisi Yaniton.

Pihak keluarga berharap agar Yaniton diberikan keringanan dalam kegiatan perkuliahan dan administrasi kampus selama beberapa minggu ke depan, hingga kondisi kesehatannya membaik.

Ajakan untuk Teman-Teman Kampus

Pihak keluarga dan teman-teman mengajak siapa pun yang memiliki kesempatan untuk turut menjenguk atau memberikan dukungan doa bagi Yaniton. Musibah ini menjadi pengingat bahwa solidaritas dan kepedulian antar mahasiswa sangat penting dalam menghadapi tantangan hidup.

Penutup

Demikian informasi kecelakaan yang menimpa saudara Yaniton Murib, mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN semester III.

Semoga Yaniton segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa.


Jayapura, Jumat, 14 November 2025


Disampaikan oleh:

Waniel & Temerius – Teman Kelas Yaniton

Minggu, 09 November 2025

SELAMAT KEPADA WANIEL WETH, JUARA II DUTA BACA UPA PERPUSTAKAAN UNCEN 2025

Di Tulis oleh Mahasiswa Sejarah FKIP-UNCEN 

               Doc: Foto setelah dapat juara II Duta Baca UPA Perpustakaan UNCEN Jayapura.


SELAMAT KEPADA WANIEL WETH, JUARA II DUTA BACA UPA PERPUSTAKAAN UNCEN 2025. (Jayapura, 06 November 2025).

       Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Cenderawasih, Waniel Weth, yang berhasil meraih Juara II Pemilihan Duta Baca UPA Perpustakaan Universitas Cenderawasih Tahun 2025.

Acara pemilihan Duta Baca ini diselenggarakan oleh UPA Perpustakaan Universitas Cenderawasih pada Kamis, 6 November 2025, bertempat di Gedung UPA Perpustakaan UNCEN Jayapura. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program literasi kampus yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan budaya literasi di kalangan mahasiswa.

Dalam ajang bergengsi ini, Waniel Weth tampil dengan penuh percaya diri, menampilkan wawasan luas dan semangat tinggi dalam mempromosikan gerakan literasi di lingkungan kampus. Keberhasilannya menjadi Juara II merupakan bukti nyata komitmen mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah dalam mendukung kemajuan literasi di Tanah Papua.

“Menjadi Duta Baca bukan hanya tentang penghargaan, tapi tentang tanggung jawab untuk menginspirasi mahasiswa lain agar gemar membaca dan menulis,” ungkap Waniel setelah menerima sertifikat dan medali penghargaan.

Kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi seluruh sivitas akademika Universitas Cenderawasih untuk terus mengembangkan budaya literasi dan memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan di bidang pendidikan dan pengetahuan.

Seluruh keluarga besar Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP-UNCEN Jayapura mengucapkan selamat dan sukses kepada Waniel Weth atas prestasi yang diraih. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan berkontribusi positif bagi kampus dan masyarakat Papua.




Jumat, 07 November 2025

Yoel Sahe, Anak Pedalaman Papua Buktikan Bahwa Mimpi Bisa Jadi Nyata. (Kupang, Jumat, 7 November 2025).



              Doc: Foto ujian skripsi nya oleh Yoel sahe 


 Yoel Sahe, Anak Pedalaman Papua Buktikan Bahwa Mimpi Bisa Jadi Nyata. (Kupang, Jumat, 7 November 2025)

Kabar membanggakan datang dari Kampung Lulun, Distrik Kosarek, Kabupaten Yahukimo, Papua. Salah satu putra terbaik daerah, Yoel Sahe, berhasil menyelesaikan ujian skripsinya di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Perjalanan pendidikan Yoel penuh perjuangan. Berasal dari pedalaman Papua yang jauh dari akses pendidikan memadai, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan semangat pantang menyerah, doa, dan kerja keras, Yoel berhasil menaklukkan berbagai tantangan hingga mencapai puncak studinya.

Dalam kesempatan usai ujian skripsi, Yoel memberikan pesan inspiratif kepada generasi muda Papua.

“Jangan takut bermimpi sekalipun kamu berasal dari kampung kecil. Tuhan sudah tanamkan potensi besar dalam diri setiap anak Papua. Kalau kita mau berjuang dan percaya, semua bisa tercapai,” ujarnya dengan senyum penuh syukur.

Keberhasilan Yoel menjadi contoh nyata bahwa anak-anak Papua dari kampung pun mampu bersaing dan berprestasi di dunia pendidikan tinggi. Kisahnya kini menjadi inspirasi bagi pelajar dan mahasiswa Papua untuk terus belajar, melangkah, dan membangun masa depan yang lebih baik bagi Tanah Papua.

Keluarga besar Pelajar dan Mahasiswa Kampung Lulun turut mengucapkan selamat dan sukses atas pencapaian Yoel Sahe. Semoga semangat juangnya menyalakan harapan baru bagi generasi Papua yang sedang menempuh pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.

Sabtu, 18 Oktober 2025

Anak Papua Bangkit! Inspirasi dari Kaka Jose, Motivator Se-Papua

 

🌄 Anak Papua Bangkit! Inspirasi dari Kaka Jose, Motivator Se-Papua



Doc: Foto bersama dengan Kaka Jose di Hotel Suni, Abepura, Jayapura.

Dalam rangka pemilihan Duta Bahasa se-Papua

Tuhan 2025.



Pendahuluan

Papua adalah tanah yang diberkati Tuhan dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, di tengah keindahan itu, masih banyak anak-anak muda Papua yang kehilangan arah, terjebak dalam putus sekolah, pengaruh minuman keras, dan pergaulan bebas. Di tengah situasi ini, muncul sosok Kaka Jose, seorang motivator muda dari Papua yang membawa pesan perubahan: “Bangkit dan ubah masa depanmu mulai dari dirimu sendiri!”


Melalui berbagai video motivasi di media sosial, seminar, dan kunjungan ke sekolah-sekolah serta kampus, Kaka Jose menjadi suara yang membangkitkan harapan generasi muda Papua agar tidak menyerah pada keadaan, tetapi menjadi pemimpin masa depan yang kuat, cerdas, dan takut akan Tuhan.


Pembahasan


🌱 1. Anak Papua Punya Potensi Besar


Kaka Jose sering berkata dalam salah satu videonya:


> “Tuhan tidak salah tempatkan engkau di Papua. Engkau lahir di sini karena Tuhan punya rencana besar.”


Pesan ini mengingatkan anak-anak muda Papua bahwa setiap orang memiliki potensi luar biasa, terlepas dari keterbatasan fasilitas, ekonomi, atau lingkungan. Banyak anak muda di pegunungan, lembah, dan pesisir yang memiliki bakat dalam seni, olahraga, pendidikan, dan pelayanan — mereka hanya membutuhkan dorongan dan arah yang tepat.


🔥 2. Jangan Takut Gagal


Dalam banyak motivasinya, Kaka Jose menekankan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan proses pembentukan karakter.

Ia berkata:


> “Kalau jatuh, bangkit lagi! Jangan biarkan kegagalan hari ini mencuri masa depanmu.”


Pesan ini sangat relevan bagi banyak anak muda Papua yang sering merasa minder atau takut mencoba hal baru. Semangat untuk bangkit dari kegagalan adalah kunci untuk mencapai sukses dan menjadi panutan bagi generasi berikutnya.


💡 3. Pendidikan Adalah Jalan Menuju Perubahan


Kaka Jose juga sering berbicara tentang pentingnya pendidikan sebagai alat untuk membebaskan diri dari keterbelakangan. Dalam salah satu video motivasinya di sekolah, ia mengatakan:


> “Kalau kamu ingin bantu Papua, jangan hanya bicara. Sekolah baik-baik, belajar sungguh-sungguh, dan kembalilah bangun daerahmu.”


Pendidikan bukan hanya soal mendapatkan ijazah, tetapi juga soal membangun pola pikir baru, disiplin, dan tanggung jawab. Melalui pendidikan, anak-anak muda Papua bisa menjadi pemimpin yang berintegritas dan mampu membawa perubahan nyata di daerah mereka masing-masing.


✊ 4. Hindari Pengaruh Negatif dan Fokus pada Tujuan


Kaka Jose menantang anak-anak muda Papua untuk menjauhi minuman keras, narkoba, dan seks bebas — hal-hal yang sering menghancurkan masa depan generasi muda.

Ia berkata dengan tegas:


> “Anak muda Papua harus beda! Jangan ikuti jalan yang bikin hancur, tapi pilih jalan yang bikin kamu hidup.”


Dengan memilih lingkungan yang baik, bergabung dengan komunitas positif, dan memiliki mentor yang mendukung, setiap anak muda Papua bisa membangun masa depan yang penuh harapan.


🌍 5. Bangun Papua dengan Cinta dan Tindakan Nyata


Motivasi Kaka Jose tidak berhenti pada kata-kata. Ia mendorong anak-anak muda Papua untuk turun langsung ke lapangan, melayani, mengajar, atau membuat gerakan kecil di kampung-kampung.


> “Kalau kamu mau lihat Papua berubah, mulai dari dirimu sendiri. Jadilah terang di tempatmu berdiri.”


Pesan ini mengajak semua anak muda untuk tidak hanya bermimpi besar, tetapi juga bertindak kecil dengan setia. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta.



Penutup


Anak-anak muda Papua membutuhkan lebih banyak figur seperti Kaka Jose — sosok yang menginspirasi dengan ketulusan, berbicara dengan hati, dan memberi contoh nyata lewat hidupnya. Melalui pesan-pesan motivasinya, Kaka Jose menyalakan api harapan bahwa masa depan Papua ada di tangan generasi muda yang berani bermimpi, berjuang, dan tetap rendah hati.


Mari anak-anak muda Papua:


> “Bangkit, belajar, dan berjuang! Jangan tunggu orang lain ubah Papua. Engkaulah masa depan Papua.”


Sumber Referensi


1. Video motivasi Kaka Jose – “Bangkitlah Anak Papua” (YouTube, 2024).


2. Seminar Pemuda Papua, Jayapura – “Pendidikan dan Perubahan Generasi” (2023).


3. Wawancara Kaka Jose dengan Radio RRI Jayapura – “Pemuda dan Masa Depan Papua”.


4. Buku: Inspirasi Timur – Kisah Anak Papua Membangun Harapan, Penerbit Obor Nusantara (2022).


5. Artikel: “Pemuda Papua dan Tantangan Perubahan Sosial”, Kompas.com (2023).

6. Video Instagram @kakajoseofficial – “Kamu Bisa Kalau Kamu Mau!” (2024).



Kamis, 16 Oktober 2025

Hanina, Perempuan Hebat dari Kampung Gilika – Yalimo Pegunungan Papua


Dokumentasi: Foto wisuda di hari ini

Jayapura, 16 Oktober 2025


Hanina, Perempuan Hebat dari Kampung Gilika – Yalimo Pegunungan Papua


Di tengah lembah hijau dan pegunungan yang sejuk di Gilika, Kabupaten Yalimo, lahirlah seorang perempuan tangguh bernama Hanina Paluke. Ia tumbuh di lingkungan sederhana, namun menyimpan tekad besar: ingin menolong sesama melalui dunia kesehatan.


Sejak kecil, Hanina dikenal sebagai sosok rajin, rendah hati, dan selalu haus ilmu. Jalan menuju pendidikan tinggi bukanlah hal mudah bagi anak dari pelosok Papua. Namun Hanina tidak pernah menyerah. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jembatan menuju perubahan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat kampung halamannya.

Dengan perjuangan dan doa keluarga, Hanina akhirnya diterima di Poltekkes Kemenkes Jayapura — sebuah langkah besar bagi seorang anak dari pedalaman. Di kampus inilah ia belajar dengan sungguh-sungguh, melewati berbagai tantangan akademik dan kehidupan kota yang serba baru.


Tahun demi tahun berlalu, dan pada Kamis, 16 Oktober 2025, doa panjang itu terjawab. Hanina resmi menyandang gelar Sarjana Terapan Keperawatan (S.Tr.Kep). Hari wisuda itu bukan hanya milik Hanina, tetapi juga milik seluruh keluarga besar KB-YUSIDABEUR Rayon Gilika Klasis Yalimo Elelim, yang dengan bangga mengucapkan:


> “Selamat dan sukses atas wisudanya,

Kaka kami, ade kami, saudari kami Hanina Paluke, S.Tr.Kep.

Semoga ilmu dan profesi yang telah diraih menjadi berkat bagi masyarakat dan kemuliaan nama Tuhan.”


Kini, Hanina menjadi teladan bagi banyak anak muda Papua — bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi mereka yang mau berjuang dan percaya pada Tuhan. Dari kampung Gilika di pegunungan Yalimo, ia menunjukkan bahwa perempuan Papua mampu berdiri tegak, berpendidikan, dan melayani dengan kasih.

Ditulis oleh: Pengurus KB-YUSIDABEUR Rayon Gilika Klasis Yalimo Elelim di kota Jayapura.



Kamis, 02 Oktober 2025

Budaya “Pemalas” dalam Perspektif Ekonomi Papua: Tantangan dan Solusi Pembangunan

 



Budaya “Pemalas” dalam Perspektif Ekonomi Papua: Tantangan dan Solusi Pembangunan

Artikel



Contoh: Ilustrasi orang pemalas dalam segala pekerjaan.


Abstrak


Papua merupakan wilayah dengan kekayaan alam yang melimpah, namun tingkat kesejahteraan masyarakatnya masih tertinggal dibandingkan daerah lain di Indonesia. Salah satu isu yang sering muncul adalah stigma “pemalas” yang dilekatkan pada masyarakat Papua, khususnya dalam bidang ekonomi. Artikel ini membahas akar budaya kerja masyarakat Papua, faktor sosial-historis yang memengaruhi rendahnya partisipasi ekonomi, serta tantangan modernisasi yang dihadapi. Stigma tersebut tidak sepenuhnya benar, melainkan lahir dari pertemuan antara tradisi hidup subsisten dengan sistem ekonomi pasar yang menuntut produktivitas tinggi. Melalui penguatan pendidikan, pengembangan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi lokal, diharapkan masyarakat Papua dapat keluar dari stigma tersebut dan berperan aktif dalam pembangunan nasional.



Kata Kunci


Papua, budaya kerja, pemalas, ekonomi lokal, pembangunan, pemberdayaan masyarakat.


Pendahuluan 


1. Latar Belakang


Meskipun Papua dikenal dengan kekayaan sumber daya alam seperti emas, tembaga, hutan, dan laut, namun data menunjukkan bahwa masyarakat Papua masih memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Hal ini sering dikaitkan dengan anggapan bahwa orang Papua “pemalas” dalam mengelola ekonomi. Padahal, dalam antropologi, budaya kerja masyarakat Papua terbentuk dari sistem hidup tradisional yang lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan dasar ketimbang akumulasi modal.


2. Budaya Subsisten vs Ekonomi Pasar


Budaya Subsisten: Masyarakat Papua pada umumnya hidup dari berburu, berkebun, dan meramu. Sistem ini berorientasi pada kecukupan (cukup makan hari ini), bukan pada akumulasi kekayaan.


Ekonomi Pasar Modern: Sistem kapitalisme nasional menuntut kerja produktif, kompetisi, dan akumulasi modal. Perbedaan orientasi inilah yang sering membuat masyarakat Papua dipandang “tidak produktif” atau “pemalas”.


3. Faktor Historis dan Struktural


Kolonialisme & eksploitasi SDA: Sejak zaman Belanda hingga sekarang, hasil kekayaan Papua banyak dikuasai pihak luar, membuat masyarakat asli hanya jadi penonton.


Pendidikan & keterampilan rendah: Minimnya akses pendidikan berkualitas membuat partisipasi dalam dunia kerja modern sangat terbatas.


Ketergantungan pada dana Otsus: Alokasi dana Otonomi Khusus besar, namun sering tidak sampai pada masyarakat bawah, menciptakan mental ketergantungan.


Stigma sosial: Label “pemalas” sering melemahkan motivasi generasi muda Papua.


4. Perspektif Budaya


Dalam budaya Melanesia, kerja keras biasanya dilakukan secara kolektif untuk kepentingan bersama (gotong royong), bukan individual. Hal ini berbeda dengan sistem ekonomi nasional yang berbasis kompetisi individu. Perbedaan paradigma inilah yang membuat adaptasi masyarakat Papua menjadi lebih lambat.



Solusi


1. Pendidikan dan Keterampilan


Peningkatan akses pendidikan vokasi yang sesuai dengan potensi lokal (perikanan, pertanian modern, teknologi).


Program magang dan kewirausahaan bagi generasi muda Papua.


2. Pemberdayaan Ekonomi Lokal


Mendorong koperasi dan UMKM berbasis komunitas adat.


Mendukung hasil kerajinan, pertanian, dan pariwisata Papua untuk masuk pasar nasional maupun internasional.


3. Penguatan Budaya Kerja Positif


Mengintegrasikan nilai gotong royong Papua dengan prinsip ekonomi modern.


Kampanye melawan stigma “pemalas” dengan menampilkan figur sukses Papua.


4. Pengawasan Dana Otsus dan Investasi


Memastikan dana pembangunan sampai ke masyarakat akar rumput.


Mengatur agar investasi asing dan nasional melibatkan tenaga kerja lokal Papua.


Kesimpulan dan Saran


Stigma “pemalas” pada masyarakat Papua lebih tepat dipahami sebagai perbedaan sistem budaya kerja, bukan kelemahan bawaan. Masyarakat Papua memiliki cara hidup yang berorientasi pada keseimbangan dengan alam, namun tantangan ekonomi modern menuntut pola kerja baru. Dengan pendidikan yang tepat, pemberdayaan ekonomi lokal, serta penguatan budaya kerja positif, masyarakat Papua dapat keluar dari stigma tersebut. Pemerintah pusat maupun daerah harus memastikan bahwa pembangunan benar-benar memberdayakan orang asli Papua, bukan hanya memberi label atau ketergantungan.



Daftar Pustaka


1. Keesing, R. M. (1992). Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Erlangga.


2. Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.


3. Widjojo, M. S. (2010). Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the Future. Jakarta: LIPI.


4. Tim BPS Papua. (2023). Statistik Kesejahteraan Rakyat Papua. Badan Pusat Statistik.


5. Rutherford, D. (2003). Raiding the Land of the Foreigners: The Limits of the Nation on an Indonesian Frontier. Princeton: Princeton University Press.


6. Chauvel, R. (2005). Constructing Papuan Nationalism: History, Ethnicity, and Adaptation. Washington: East-West Center.


7. Alua, A. (2002). Papua Barat dari Pangkuan ke Pangkuan. Jayapura: Sekretariat Keadilan dan Perdamaian.


8. Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Sosial. Bandung: Alfabeta.


9. Mansoben, J. R. (1995). Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. Jakarta: LIPI-RUL.


10. Hernawan, B. (2019). Papua dan Tantangan Otonomi Khusus. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.


Penulis, Waniel Weth 

Student from west Papua


64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan

  64 Tahun 1 Desember 1961–2025: Makna Historis bagi Masyarakat Papua Pro-Kemerdekaan Sumber: AI (oleh Waniel Weth) Pendahuluan Tanggal 1 De...