Komai, terinspirasi dari kisah perjuangan Atinus Meke, seorang Mahasiswa Uncen
KOMAI WAE AMLA
(Seorang menggunakan Koteka)
Suku Yalinimi Masyarakat Papua Pegunungan
Koteka sebagai pakaian adat Papua Pegunungan,
Dalam tradisi hidup nenek moyang suku Yale nimi (Mek sekarang) Koteka bernilai tinggi untuk menutup kemaluan laki-laki, dan tidak ada hal yang untuk ditertawakan oleh pihak lain. Artinya seseorang menggunakan Koteka di depan banyak orang (publik) adalah hal normal bagi kehidupan suku Besar Yali & Mek.
Dalam skripsinya, (Anis Weth, 2024) mengatakan bahwa sistem kekerabatan sosial di kampung Lulun dan sekitarnya, masyarakat menggunakan komai sebagai pakaian adat, identitas bangsa, kebiasaan hidup yang secara sah. Tidak hal yang meremehkan budaya Koteka dari masyarakat imigran Barat yang datang melihat budaya Papua, lebih khususnya menikmati keindahan, kebiasaan hidup masyarakat dari pegunungan Papua.
Dengan demikian Koteka adalah pakaian adat istiadat suku dari Pegunungan Papua yang secara sah. Negara RI wajib mengakui budaya masyarakat yang menggunakan Koteka pakaian adat karena budaya adalah cipta rasa karya yang secara kreatif dan unik dari Papua Pegunungan.
Jenis-jenis Koteka (Komai fene)
1. Koteka (komai makne) koteka kecil yang biasa tanam di halaman rumah. Berfungsi untuk menutup kemaluan pria.
2. Koteka Besar (Komai nubu engge) Komai ini disimpan bibit nya untuk menanam kembali ke tanah yang subur dan baik.
Karena tulang/kulit komai besar, sehingga berguna untuk bibitnya saja. Tetapi yang kecil juga ambil bibitnya demi menanam kembali.
Proses Tanam komai & menyimpan komai
a. Tahapan menanam (komai memnep)
Bibit nya komai yang sudah disimpan kering, itu taruh/menanam di tanah yang bagus. Sering menanam di halaman rumah yang tanahnya hitam. Supaya setelah di tanam langsung tubuh dengan baik. Biasanya komai harus ada tempat melintang kayu, tujuan perkembangan tumbuhan komai berjalan lancar dan berbuah.
b. Menyimpan Komai (Komai Pai amnep ae ak) Komai sudah tua berarti dipetik, bawah ke rumah untuk melakukan kubur di api, tujuannya panas dan mengeluarkan daging dari dalam komai, selanjutnya menyimpan di atas asap api (UK hin ak) supaya komai kering dan siap dipakai oleh seseorang. Jika kering bisa ikat dengan daun-daun seperti daun buah merah untuk diikat dan menyimpan di honai.
Untuk komai setiap orang dewasa sekitar umur 12-15 tahun, yang layak menggunakan komai sebagai orang yang dewasa secara sah pada umumnya.
Baik dari nenek moyang sampai Injil masuk di wilayah ini. Injil masuk dan menghilangkan budaya menggunakan Koteka bagi orang Yalimek secara umumnya. Pembawa Injil (Allah Yubu) dari Suku Yali kepada Suku Yalinimi, Mek sekitar tahun 1982.
Tetapi sampai saat ini, orang tua dari kampung Thamak, Tiple, saolom, dan Gilika masih menggunakan komai. Walaupun orang lain sudah terbiasa dengan pakaian modern.
Buktinya, Yonas Meke atau (dipanggil dengan nama Yonathan Meke) dari kampung Thamak, masih menggunakan komai, sebagai pakaian adat identitas diri tidak bisa melepaskan.
Orang tua, Yonathan Meke masih menggunakan Koteka sampai hari ini, Desember 2025 kemarin saya bicara dengan orang tua ini, sempat ada liburan ke kampung asalnya Wahalu, Gilika.
Latar Belakang Yonathan Meke berasal dari Kampung Wahalu, Gilika. Tetapi dulu sekitar tahun 1970-an ia pergi imigrasi ke kampung Thamak. Karena keluarga Meke, dari kampung Wahalu ditinggalkan, sebab dianggap sebagai anak yatim-piatu. Sehingga tidak bisa memperhatikan dari Marga Meke.
Namun itu, Yonathan Meke pergi merantau ke Thamak untuk tinggal disitu dengan keluarga kerabat seperti Lukas Auk dan ada berapa orang lainnya. Tinggal menetap di kampung ini dan kawin dengan perempuan dari kampung merengman, sudah mempunyai anak-anak.
Sampai saat ini Yonathan tidak bisa balik ke kampung Wahalu. Karena sudah terdaftar sebagai kk di kampung ini selamanya.
Anak pertama dari bapak Yonathan adalah Atinus Meke.
Atinus Meke, Sekarang kuliah di Universitas Cenderawasih di fakultas Ekonomi dan Bisnis, pada jurusan/program studi Ekonomi Pembangunan.
Tahun 2026 ini Atinus berstatus sebagai mahasiswa aktif pada semester IV (Empat), sedang mengikuti proses belajar mengajar di kampus nya.
Bapaknya, Yonathan Meke, sempat sakit di tahun 2024, pada saat itu Atinus Lulus SMA di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan.
Atinus dengar informasi bulan juli 2024, bahwa ayahnya sakit di kampung Thamak, distrik Welarek.
Akhirnya Atinus berangkat ke kampung, Distrik Welarek menggunakan pesawat kecil.
Tiba di Welarek, Atinus langsung pergi ke Kampung Thamak, sekitar 3/5 jam dalam perjalanan kaki.
Tiba di kampung dengan kekhawatiran atas sakit orang tuanya. Ketemu dengan orang tua, Yonathan, anak selamat datang, saya tidak bisa hidup lagi (Name wali yalam Sempan, nai sumane naikna malioro delamnel).
Ah, nai mali danu alam kom yang artinya Bapak tidak akan meninggal.
Hari itu tidur di kampung dengan orang tua. Hari besoknya, sekitar jam 5-6 pagi Atinus mengendong ayahnya. Naik ke Welarek berjalan kaki, Atinus tidak minta bantuan ke orang lain, tetapi Atinus sendiri;
Di kampung Thamak, sebenarnya di kampung ini ada lapangan terbang untuk pesawat kecil.
Tetapi belum ada jadwal penerbangan untuk melayani masyarakat. Kecuali pesawat pakai yang bisa melayani di kampung Thamak.
Sampai di Welarek, pukul 10.30 WIT, Atinus tanya ke pegawai/karyawan Bandara Welarek.
Petugas karyawan, diinformasikan bahwa ada pesawat kecil. Tujuh ke Wamena, langsung Atinus beli tiket pesawat.
Pukul 12.45 WIT tiba wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Hari esoknya Atinus mau beli tiket pesawat tujuan ke Jayapura tetapi orang tuanya, tidak mau menggunakan pesawat, dengan alasan takut mati/meninggal di dalam pesawat.
Akhirnya Atinus ambil langkah strategis untuk jalan darat menggunakan mobil ke Jayapura.
Meke bergerak untuk memastikan mobil tujuan ke Elelim, kab. Yalimo. Tapi di jalan trans Elelim-Wamena ada balang di tengah jalan.
Atinus memikirkan caranya untuk hari itu juga bisa ke Elelim, jadi Atinus pakai mobil, tujuan berjalanan ke Elelim tetapi harus ikut jalan Kab. Tolikara, akan tembus di tengah jalan trans Elelim-Wamena.
Tiba Elelim dengan selamat, Atinus tidak mau tinggal lama-lama di Elelim. Akan lanjutkan berjanan ke Jayapura menggunakan jalan trans Papua.
Tetap Atinus dengan ayahku sakit ikut berjalanan darat (mobil) ke Jayapura 2 hari.
Sampai di Jayapura, Atinus membawa ayahnya RSUD Dok 2, pada periksa dari tim medis bilang belum ada sakit.
Walaupun ayahnya sakit memang, Atinus tidak mau berdebat disitu.
Bergerak hatinya untuk membawa lagi ke rumah sakit lain yang ada di Jayapura.
Pada akhirnya orangtua Yonhtan sedikit membaik karena sudah minum obat.
Atinus bilang ke ayahnya, saya pergi tes ujian mandiri kampus di Uncen.
Ayahnya, bilang dengan Bahasa Yale/Mek
(Nai pilam luam, wene nen wali wannati) yang artinya silahkan anak pergi tes, ayah sekarang sudah membaik jadi akan tinggal di rumah.
Atinus dan ayahnya, Yonatan habiskan satu bulan di Jayapura.
Atinus dengar begini, sudah lulus ujian di kampus universitas Cenderawasih Jayapura, di program studi Ekonomi Pembangunan.
Atinus senang sekali, karena sebuah perjuangan panjang ia lakukan seperti ambil ayah di kampung, membawa ke Jayapura sudah sembuh sampai hari ini masih baik kesehatan ayahnya.
Atinus juga bisa lulus ujian, menjadi mahasiswa baru di UNCEN tahun 2024.
Ayahnya sudah sembuh total sakitnya yang menderita, Atinus antar ayahnya ke kampung dan balik lanjutkan kuliah sebagai mahasiswa Uncen pada (semester I) di fakultas ekonomi dan bisnis universitas Cenderawasih (UNCEN) Jayapura. Sampai hari ini Atinus sebagai mahasiswa aktif di Uncen Jayapura.
Atinus terinspirasi & moral bagi anak-anak Papua yang lainnya bahwa:
1. Atinus mengurus ayahnya yang sakit sekaligus mengejar masa depannya.
2. Teman-temannya fokus masuk perguruan tinggi negeri dan swasta. Atinus berusaha untuk menyelamatkan ayah yang begitu menderita dengan sakit yang cukup tergolong. Atinus tidak menyerah dengan kehidupan ini. Tetapi usaha Atinus adalah membawanya orang tua dari di kampung ke kota. Karena di kampung belum ada tempat pelayanan kesehatan untuk melayani masyarakat yang sakit/menderita.
3. Mahasiswa adalah pembawa solusi bagi masyarakat seperti menolong orang tua, membantu orang sekitar yang membutuhkan tetapi juga kita terus mengejar masa depan dengan penuh perjuangan.
4. Atinus memberikan contoh kepada mahasiswa Papua yang lainnya bahwa jika orang tua kita sakit berarti kita harus usahakan orang tua kita membawa ke rumah sakit. Supaya dapat tertolong dari penyakit-penyakit nya.
Walaupun aktivitas kuliah padat tetapi kita Mahasiswa bagi waktu belajar menyesuaikan dengan terjadwal. Supaya dampak ilmu pengetahuan yang kita perjuangkan itu dapat bermanfaat bagi keluarga, komunitas, dan negara.
Penulis, Waniel Weth
Jayapura, 4 April 2026
